2020, Tahun Kelam bagi Warga Sipil di Asia Barat
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i89046-2020_tahun_kelam_bagi_warga_sipil_di_asia_barat
Tahun 2020 telah usai, namun sorotan sekilas terhadap berbagai peristiwa tahun lalu menunjukkan bahwa warga sipil di Asia Barat telah menjadi korban utama dalam setiap perkembangan di kawasan ini.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 05, 2021 14:40 Asia/Jakarta
  • Peristiwa ledakan bom di Irak.
    Peristiwa ledakan bom di Irak.

Tahun 2020 telah usai, namun sorotan sekilas terhadap berbagai peristiwa tahun lalu menunjukkan bahwa warga sipil di Asia Barat telah menjadi korban utama dalam setiap perkembangan di kawasan ini.

Sepanjang 2020, pandemi virus Corona menjadi penyebab utama kematian di dunia termasuk di Asia Barat. Namun, ribuan warga sipil juga tewas di wilayah ini akibat kekerasan, dan menjadikan 2020 sebagai tahun kelam bagi warga sipil di kawasan. Hal ini dibuktikan dengan angka-angka resmi.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigjen Yahya Saree pada hari Senin (4/1/2021), mengatakan sepanjang tahun 2020, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan lebih dari 8.888 serangan udara di 13 provinsi Yaman, 410 di antaranya menggunakan pesawat tanpa awak.

“Serangan itu menewaskan ratusan orang dan menyebabkan properti milik warga Yaman rusak parah,” tambahnya.

Sementara itu, pusat hak asasi manusia Israel, B'Tselem melaporkan bahwa 27 warga Palestina termasuk tujuh anak, ditembak mati oleh pasukan rezim Zionis tahun lalu.

Ledakan 4 Agustus 2020 di pelabuhan Beirut menewaskan hampir 200 orang dan melukai lebih dari 7.000 orang. Demonstrasi dan bentrokan di Irak tahun lalu menyebabkan lebih dari 400 orang tewas dan 7.000 terluka. Di Suriah, tidak ada angka pasti tentang jumlah yang tewas tahun lalu, namun yang jelas ribuan orang tewas dalam perang di Suriah selama 2020.

Selain korban jiwa dan luka-luka, warga sipil di beberapa negara Asia Barat juga menderita kerugian materi yang parah tahun lalu. Di Yaman, Lebanon, dan Palestina, sejumlah besar warga sipil kehilangan rumah dan pekerjaan mereka.

Anak-anak Yaman menjadi korban utama serangan Arab Saudi dan sekutunya.

Sebagai contoh, B'Tselem mencatat bahwa tahun lalu Israel menghancurkan 729 properti milik warga Palestina dengan dalih tidak mengantongi izin, yang menyebabkan 1.600 warga Palestina, termasuk 519 anak-anak kehilangan tempat tinggal.

Ini hanyalah sebagian kecil dari kerugian yang diderita oleh warga sipil di beberapa negara Asia Barat sebagai dampak dari kekerasan.

Data tersebut belum termasuk jumlah warga sipil yang ditangkap, khususnya di Palestina pendudukan dan Arab Saudi, jumlah pasien yang meninggal akibat blokade di Jalur Gaza dan Yaman, atau jumlah orang yang meninggal karena kelaparan terutama di Yaman.

Mungkin saja beberapa negara Afrika juga didera konflik, tetapi kekerasan di Asia Barat adalah konflik yang dipaksakan terhadap warga setempat. Agresi Arab Saudi di Yaman bukanlah konflik internal, tetapi sebuah kondisi yang dipaksakan terhadap orang-orang Yaman.

Blokade, perang, dan kekerasan di Gaza bukanlah konflik internal, tetapi dampak dari kebijakan ekspansionis dan penjajahan rezim Israel. Bahkan di Suriah, Irak, dan Lebanon, sebagian besar kekerasan bersumber dari kebijakan para pemain asing.

Pemicu utama kekerasan yang dipaksakan di wilayah Asia Barat berhubungan dengan kehadiran rezim penjajah Zionis. Barat terutama Amerika Serikat, menyambut kekerasan yang terjadi di kawasan terutama di negara-negara poros perlawanan demi memastikan keamanan Israel. (RM)