Dampak Brexit, PM Inggris akan Mundur
Perdana Menteri David Cameron akan memilih mundur pada Oktober 2016 setelah rakyat Inggris memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa.
Ia membuat pengumuman Jumat (24/6/2016) dalam satu pernyataan di luar kantornya setelah hasil akhir referendum diumumkan.
"Orang-orang Inggris memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa dan kemauan mereka harus dihormati," kata Cameron.
"Saya pikir Inggris membutuhkan kepemimpinan yang baru," tegasnya.
"Saya tidak berpikir bahwa saya bisa menjadi nahkoda untuk mengantar negara ke destinasi berikutnya. Saya pikir kita harus memiliki perdana menteri baru," ujar Cameron.
Ia menekankan upaya untuk memelihara kepentingan Inggris meskipun sudah keluar dari Uni Eropa. "Saya tetap percaya bahwa Inggris akan menikmati keamanan yang lebih besar di dalam Uni Eropa," tambahnya.
"Saya memastikan kepada warga Eropa yang tinggal di Inggris dan warga Inggris yang bermukim di Eropa bahwa kami akan melanjutkan kebebasan pergerakan individu dan barang," tandas Cameron.
Ia juga mengabarkan partisipasinya dalam pertemuan Dewan Eropa pekan depan.
Pendukung Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) meraih 17,4 juta suara, sementara kelompok pro-Eropa mengumpulkan 16,1 juta suara dengan tingkat kehadiran total mencapai 72,2 persen.
Dengan hasil tersebut, Inggris menarik keanggotaannya di Uni Eropa setelah bergabung selama 43 tahun. (RM)