Saat AS dan Israel Akui Iran Kebal terhadap Kerusuhan
-
Kerusuhan terbaru di Iran (dok)
Bersamaan dengan dukungan Amerika terhadap kerusuhan di Iran, para pengamat senior intelijen AS dan rezim Zionis mengakui Iran kebal terhadap kerusuhan terbaru.
Avril Haines, direktur intelijen nasional Amerika seraya menyinggung kerusuhan ini mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak menganggapnya sebagai ancaman bagi stabilitasnya. Sementara itu, Amir Saar, pengamat senior intelijen militer Israel juga mengakui bahwa kerusuhan ini tidak dapat menjadi ancaman bagi eksistensi pemerintah berkuasa di Iran.
Pengakuan petinggi senior intelijen AS dan rezim Zionis terkait kekebalan Iran terhadap kerusuhan mengemuka mengingat basis sipil pemerintah Republik Islam dan dukungan penuh bangsa Iran selama empat dekade lalu terhadap berbagai konspirasi dan rencana musuh Iran. Kali ini meletusnya kerusuhan terbaru di Iran dengan dalih kematian Mahsa Amini, kembali mendorong musuh asing Republik Islam Iran menganggapnya sebagai peluang untuk mengintervensi urusan internal Tehran dan juga memprovokasi lebih besar kerusuhan.
Sejatinya selama kerusuhan terbaru, para pemimpin politik AS dan Eropa serta rezim Zionis, media mereka serta media-media anti-Iran berbahasa Persia dukungan Barat, seperti televisi satelit Iran Internasional, menyalahgunakan sebuah peristiwa menyedihkan dan dengan slogan mendukung hak bangsa Iran, mereka bangkit mendukung para perusuh dan perusak keamanan bangsa, tapi mereka mengabaikan kehadiran rakyat di jalan-jalan dan bundaran negara ini dalam mendukung pemerintah Republik Islam serta negara mereka, dan penentangan tegasnya terhadap kerusuhan atau meremehkannya.
Amerika dengan mengumbar janji seperti pencabutan sanksi dunia maya dan internet dan sikap intervensifnya beranggapan dapat berusaha memanfaatkan kerusuhan ini, tapi ternyata Washington gagal total. Di tahap berikutnya, Amerika Serikat dalam beberapa fase, menjatuhkan sanksi kepada sejumlah pejabat dan instansi Iran dengan alasan terlibat dalam melawan para perusuh. Sanksi ini yang dijatuhkan dengan dalih mendukung rakyat Iran, bukan saja sama halnya dengan intervensi nyata di urusan internal sebuah negara independen, bahkan sepenuhnya melanggar hukum internasional dan piagam PBB, juga indikasi lain dari pendekatan tak jujur Washington terhadap bangsa Iran. Departemen Keuangan AS mengklaim sanksi baru sebuah indikasi komitmen Amerika Serikat dalam mendukung hak demonstrasi damai dan pertukaran bebas informasi.
Sikap Amerika ini ditunjukkan ketika pemerintah Joe Biden dari satu sisi mengklaim menerapkan diplomasi menghadapi Iran di isu JCPOA, dan bersamaan dengan pertukaran pesan tak langsung dengan Tehran dan sikapnya yang bersikeras berunding langsung dengan Iran, pemerintahan Biden mengintervensi urusan internal Iran dan berusaha mendorong para demonstran.
Petinggi AS meski kerusuhan di Iran telah berlalu lebih dari dua bulan, sampai saat ini masih memberi semangat kepada anasir dalam negeri baik kelompok teroris dan separatis, serta para perusuh dan melanjutkan dukungan nyatanya kepada mereka. Sekaitan dengan ini, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken kembali menyatakan dukungannya kepada para perusuh dan aksi kerusuhan di Iran. Blinken mengatakan, "Kami banyak berusaha untuk mendukung apa yang diinginkan warga Iran." Robert Malley, utusan khusus AS untuk Iran Rabu lalu kembali mendukung kerusuhan yang tersebar di Iran dan mengulang sikap permusuhan Washington terhadap Tehran.
Amerika Serikat ketika mengklaim mendukung kerusuhan terbaru, melihat pendekatan dan kinerjanya terhadap Iran dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan tanda-tanda permusuhan mendalam Washington terhadap bangsa Iran. Iran telah berada di bawah sanksi AS secara sepihak selama lebih dari 40 tahun. Pengenaan sanksi anti-Iran selama kepresidenan mantan Presiden AS Donald Trump setelah menarik diri dari JCPOA dan meluncurkan kampanye tekanan maksimum menemukan dimensi baru dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Washington menerapkan sanksi paling keras terhadap bangsa Iran dengan harapan Iran akan menyerah terhadap tuntutan tak logis dan ilegal AS, tapi menurut pengakutan pemerintah Biden hal ini gagal. Meski demikian, pemerintah Biden masih terus melanjutkan pendekatan gagal sanksi terhadap Iran, dan dengan mengesampingkan negosiasi untuk mencabut sanksi, dia telah memberikan dukungan habis-habisan untuk kerusuhan di Iran demi mencapai tujuan palsunya. (MF)