Demonstrasi di Tunisia dan Maroko, Wujud Dukungan bagi Palestina di Afrika
-
Demonstrasi warga Maroko mendukung Palestina
Pars Today - Gelombang dukungan baru bagi warga Palestina di Afrika telah diiringi dengan kecaman atas tindakan kriminal Zionis Israel.
Menurut Pars Today, warga Tunisia berkumpul di Tunis, ibu kota negara Tunisia, pada Sabtu (25/10/2025) malam, untuk mendukung para tahanan Palestina yang dibebaskan dari penjara rezim Zionis setelah gencatan senjata di Gaza diberlakukan, dan mengecam perlakuan Israel yang memalukan terhadap para tahanan Palestina.
Aksi unjuk rasa ini digelar atas undangan lembaga swadaya masyarakat "Penolong Palestina" dengan tajuk "Dari Penjara ke Matahari, Tahanan Kami... Martabat Anda adalah Martabat Kami."
Riyadh Zahafi, Juru Bicara lembaga swadaya masyarakat "Penolong Palestina", mengatakan, "Masalah tahanan merupakan salah satu hak dasar warga Palestina, karena lebih dari 10.000 warga Palestina ditahan di penjara-penjara rezim Zionis."
Ia menekankan, "Tahanan dan narapidana Palestina menjadi sasaran penyiksaan dan segala macam pelecehan, di samping segala macam hukuman yang tidak manusiawi."
Tindakan-tindakan ini menyingkap wajah asli rezim Zionis. Sebuah rezim yang telah melakukan genosida dan berbagai bentuk penyiksaan.
Baru-baru ini, video-video yang dirilis menunjukkan petugas keamanan Israel menganiaya dan mempermalukan tahanan Palestina di penjara Katz Out di Negev (selatan Palestina yang diduduki). Foto-foto yang dipublikasikan oleh sebuah situs berbahasa Ibrani juga menunjukkan bahwa tahanan Palestina hidup dalam kondisi yang sulit dan digeledah dengan metode yang ketat. Menyusul penerapan gencatan senjata di Gaza, 1968 warga Palestina dibebaskan dari penjara-penjara Israel, 250 di antaranya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Dalam gerakan lain untuk mendukung Palestina, warga Maroko mengadakan demonstrasi anti-Zionis untuk mengutuk serangan berkelanjutan oleh tentara Israel di Jalur Gaza. Pada Jumat malam, 24 Oktober, warga Rabat turun ke jalan dan meneriakkan slogan-slogan anti-Zionis untuk mengutuk serangan berkelanjutan oleh tentara Israel di Jalur Gaza. Warga Maroko berkumpul di depan parlemen negara itu dan meneriakkan, "Kami menentang pendudukan."
Mereka membawa plakat, beberapa di antaranya bertuliskan, "Palestina harus merdeka" dan "Perlawanan hingga Palestina merdeka". Demonstrasi itu digelar atas undangan lembaga swadaya masyarakat "Aksi untuk Palestina", dan para peserta mengecam pelanggaran gencatan senjata yang terus berlanjut di Gaza oleh militer Israel.
RezimZionis Israel dan gerakan Hamas baru-baru ini menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan mediasi Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa tentara Israel akan menarik diri dari Gaza, bertukar tahanan antara kedua pihak, dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Sementara itu, menurut laporan, sejak gencatan senjata di jalur ini diberlakukan, rezim Israel telah melakukan lebih dari 80 pelanggaran gencatan senjata, yang mengakibatkan tewasnya 97 warga Palestina.
Gerakan-gerakan rakyat di kedua negara Afrika Utara ini yang mendukung perjuangan Palestina mencerminkan pendekatan anti-Zionis di benua Afrika. Secara umum, pandangan masyarakat Afrika, khususnya di negara-negara Islam di utara benua tersebut, terhadap Israel, merupakan kombinasi dari solidaritas historis dengan Palestina, pengalaman kolonial, dan pengaruh geopolitik kontemporer.
Pandangan ini dapat diringkas dalam beberapa sumbu utama:
Solidaritas Historis dengan Palestina
- Banyak negara Afrika, terutama yang pernah mengalami kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan, menganggap diri mereka ditakdirkan bersama rakyat Palestina.
- Para pemimpin pembebasan Afrika seperti Nelson Mandela telah berulang kali mendukung perjuangan Palestina dan membandingkan pendudukan Israel dengan apartheid.
Posisi negara-negara Islam di Afrika
- Negara-negara Islam seperti Sudan, Mali, Mauritania, dan Aljazair biasanya bersikap lebih keras terhadap Israel dan membela hak-hak Palestina.
- Namun, beberapa negara seperti Maroko dan Sudan telah menormalisasi hubungan mereka dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir (Perjanjian Abraham), di bawah tekanan diplomatik dan ekonomi, yang telah menuai reaksi negatif dalam opini publik di negara-negara tersebut.
Opini publik dan media
- Di banyak masyarakat Afrika, terutama di kalangan Muslim, Israel dikenal sebagai simbol penindasan dan pendudukan.
- Media lokal dan media sosial di negara-negara Afrika sering meliput berita tentang serangan Israel di Gaza dan Yaman dengan nada kritis, dan simpati terhadap para korban Palestina merupakan hal yang umum.
Kesenjangan antara posisi resmi dan rakyat
- Meskipun beberapa pemerintah Afrika telah memperluas hubungan mereka dengan Israel karena alasan ekonomi atau politik, opini publik di banyak negara tersebut tetap kritis terhadap Israel.
- Kesenjangan ini telah mendorong beberapa pemerintah untuk mengambil posisi yang lebih hati-hati di forum internasional guna menghindari reaksi domestik.(sl)