Apa yang dicari Trump di Greenland, Keamanan atau Sumber Daya Strategis?
https://parstoday.ir/id/news/world-i182966-apa_yang_dicari_trump_di_greenland_keamanan_atau_sumber_daya_strategis
Pars Today – Kasus Greenland lebih dari sekadar isu regional; ia merupakan simbol nyata kembalinya kebijakan unilateral Amerika Serikat dan tantangan yang dihadapi tatanan internasional pada abad ke-21.
(last modified 2025-12-25T11:07:43+00:00 )
Des 25, 2025 18:06 Asia/Jakarta
  • Apa yang dicari Trump di Greenland, Keamanan atau Sumber Daya Strategis?

Pars Today – Kasus Greenland lebih dari sekadar isu regional; ia merupakan simbol nyata kembalinya kebijakan unilateral Amerika Serikat dan tantangan yang dihadapi tatanan internasional pada abad ke-21.

Hingga beberapa dekade lalu, Greenland dianggap sebagai wilayah terpencil, beku, dan berpenduduk sedikit, dengan satu-satunya nilai strategis terletak pada posisi geografisnya di utara Samudra Atlantik. Namun, perubahan iklim, mencairnya es kutub, serta meningkatnya persaingan kekuatan global atas sumber daya alam telah menjadikan pulau ini salah satu titik kunci geopolitik abad ke-21. Menurut laporan Mehr News (MNA), Greenland kini tidak hanya menawarkan jalur pelayaran baru, tetapi juga—berdasarkan laporan internasional terpercaya—memiliki cadangan signifikan berupa unsur langka, logam strategis, dan sumber mineral vital bagi industri maju.

 

Dalam kondisi demikian, keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam isu Greenland, dengan retorika yang mengingatkan pada konsep “kepemilikan” dan “penggabungan,” menimbulkan sensitivitas besar. Bagi Eropa, Greenland bukan sekadar sebuah wilayah, melainkan bagian dari tatanan hukum dan politik benua; sebuah tatanan yang dibangun atas dasar penghormatan terhadap kedaulatan nasional dan penolakan terhadap perubahan batas wilayah melalui tekanan maupun ancaman.

 

Perwakilan Khusus Trump; Diplomasi atau Tekanan Politik?

 

Keputusan Trump untuk menunjuk seorang “perwakilan khusus” bagi Greenland merupakan langkah simbolis namun sangat bermakna. Dalam tradisi diplomatik, penunjukan semacam ini biasanya dilakukan untuk wilayah yang dilanda krisis atau negara dengan hubungan kompleks, bukan untuk sebuah teritori yang secara resmi berada di bawah kedaulatan negara sekutu Amerika Serikat. Hal ini membuat para pejabat Denmark menyebut tindakan tersebut sebagai intervensi yang tidak dapat diterima.

 

Pernyataan terbuka dari perwakilan khusus itu mengenai “upaya untuk menggabungkan Greenland ke Amerika Serikat” praktis menghapus segala keraguan dan menunjukkan bahwa tujuan Washington melampaui kerja sama ekonomi atau keamanan. Pendekatan ini tidak hanya meragukan prinsip kedaulatan Denmark, tetapi juga menyampaikan pesan berbahaya kepada dunia bahwa Amerika Serikat, jika menilai ada kepentingan strategis, bersedia menekan bahkan sekutu-sekutunya sendiri.

 

Reaksi Eropa; Membela Kedaulatan dan Tatanan Internasional

 

Reaksi Denmark terhadap langkah Washington berlangsung cepat, tegas, dan jelas. Para pejabat negara itu menekankan bahwa “Greenland tidak untuk dijual”, serta berusaha menarik garis batas yang jelas antara kerja sama yang sah dan intervensi yang tidak sah.

 

Dalam lingkup yang lebih luas, sikap ini mencerminkan kekhawatiran mendalam Eropa atas kembalinya kebijakan unilateral Amerika Serikat; kebijakan yang pada masa jabatan pertama Presiden Trump telah berulang kali menimbulkan ketegangan serius dalam hubungan trans-Atlantik.

 

Bagi Uni Eropa, persoalan bukan hanya Greenland, melainkan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan teritorial dan aturan internasional. Jika hari ini tekanan semacam itu ditujukan kepada Denmark, maka besok bisa saja diarahkan kepada negara-negara Eropa lainnya atau kawasan sensitif di dunia. Karena itu, kasus Greenland telah menjadi simbol perlawanan Eropa terhadap logika “berbasis kekuasaan” Amerika.

 

Doktrin Monroe dan Reproduksi Sebuah Logika Usang

 

Para analis politik menilai kebijakan Trump terhadap Greenland sebagai bentuk kebangkitan praktis “Doktrin Monroe”; sebuah doktrin yang pada abad ke-19 digunakan untuk membenarkan dominasi Amerika atas kawasan sekitarnya. Meskipun dunia saat ini memiliki perbedaan mendasar dengan masa itu, pola pikir yang mendasari kebijakan ini tetap bertumpu pada pembagian dunia ke dalam wilayah pengaruh.

 

Dalam perspektif tersebut, kawasan strategis tidak didefinisikan berdasarkan hak-hak bangsa, melainkan atas dasar nilai geopolitik dan ekonominya. Greenland, dengan posisi istimewa dan sumber daya potensialnya, tepat berada dalam kerangka ini. Kembalinya logika semacam itu, terlebih di abad ke-21, menimbulkan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan tatanan internasional.

 

Berikut terjemahan resmi ke dalam Bahasa Indonesia:

 

Sumber Daya Alam; Pemicu Tersembunyi Krisis

 

Meskipun para pejabat Amerika berusaha membenarkan langkah mereka dalam kerangka kerja sama keamanan atau ekonomi, kenyataannya sumber daya alam Greenland memainkan peran penentu dalam persamaan ini. Unsur-unsur langka dan logam strategis di pulau tersebut memiliki arti vital bagi industri teknologi maju, energi baru, bahkan sektor militer. Dalam dunia yang persaingannya atas rantai pasokan sumber daya ini semakin intens, akses langsung ke cadangan semacam itu dianggap sebagai keuntungan strategis besar.

 

Dari sudut pandang Eropa, inilah titik di mana kebijakan Amerika bergeser dari kerja sama yang sah menjadi tekanan geopolitik. Upaya untuk mengendalikan sumber daya suatu wilayah, baik secara langsung maupun tidak langsung, tanpa memperhatikan kehendak politik yang berdaulat, merupakan contoh nyata pengabaian prinsip-prinsip internasional yang telah diterima.

 

Dampak Trans-Atlantik Krisis Greenland

 

Kasus Greenland telah memperlihatkan semakin dalamnya jurang dalam hubungan Amerika dan Eropa. Krisis ini menunjukkan bahwa bahkan di antara sekutu tradisional, tidak ada pemahaman bersama mengenai konsep-konsep seperti kedaulatan, keamanan, dan kepentingan. Bagi Eropa, keamanan kolektif bermakna dalam kerangka penghormatan terhadap hukum internasional, sementara pendekatan Trump lebih berorientasi pada kekuasaan daripada pada prinsip hukum.

 

Jika tren ini berlanjut, dampaknya bisa melampaui sekadar perbedaan diplomatik; mulai dari melemahnya kepercayaan timbal balik hingga meningkatnya kecenderungan Eropa untuk mencari kemandirian strategis dari Amerika. Dengan kata lain, Greenland berpotensi menjadi titik balik dalam redefinisi hubungan trans-Atlantik. (MF)