Kesepakatan Militer Baru Pakistan-Saudi, Jet Tempur Jadi Imbalan Pinjaman?
-
Bendera Pakistan dan Arab Saudi
Pars Today - Bersamaan dengan kunjungan Komandan Angkatan Udara Pakistan ke Arab Saudi, beberapa laporan menunjukkan bahwa Riyadh berupaya membeli jet tempur dari Islamabad, yang selain membuka fase baru kerja sama strategis antara kedua negara, juga menunjukkan niat Pakistan untuk menggunakan kesepakatan senilai empat miliar dolar ini untuk membayar pinjamannya kepada Arab Saudi.
Menurut laporan IRNA pada hari Kamis (08/01/2026), Komandan Angkatan Udara Pakistan melakukan perjalanan ke Riyadh dan bertemu dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi, serta melanjutkan pertukaran delegasi militer tingkat tinggi dengan Arab Saudi.
Kunjungan Marsekal Udara Zaheer Ahmed Baber Sidhu ke Riyadh terjadi kurang dari tiga minggu setelah kunjungan resmi Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, Komandan Militer Pakistan, ke Arab Saudi.
Hubungan antara Riyadh dan Islamabad telah memasuki fase baru setelah penandatanganan perjanjian pertahanan strategis bersama pada bulan September 2025. Arab Saudi dan Pakistan menekankan dalam perjanjian ini bahwa serangan terhadap salah satu dari mereka dianggap sebagai serangan terhadap kedua negara.
Sementara itu, Reuters melaporkan, mengutip dua sumber Pakistan, bahwa Pakistan dan Arab Saudi sedang bernegosiasi untuk mengkonversi pinjaman sebesar 2 miliar dolar AS dari Riyadh menjadi kesepakatan untuk jet tempur JF-17, memperdalam kerja sama militer mereka setelah kedua negara menandatangani pakta pertahanan bersama pada pertengahan tahun.
Pembicaraan itu menunjukkan bagaimana kedua sekutu bergerak untuk mengoperasionalkan kerja sama pertahanan pada saat salah satu negara berada di bawah tekanan keuangan yang berat dan negara lainnya, Arab Saudi, sedang membentuk kembali kemitraan keamanannya untuk mengurangi dampak pengurangan komitmen AS di Timur Tengah.
Salah satu sumber mengatakan bahwa pembicaraan saat ini dengan Riyadh terbatas pada pasokan jet tempur JF-17 Thunder, pesawat tempur ringan yang dikembangkan bersama oleh Pakistan dan Tiongkok dan diproduksi di Pakistan, sementara sumber kedua mengatakan bahwa jet itu adalah pilihan utama di antara pilihan lain yang sedang dibahas.
Sumber yang mengetahui nilai kontrak militer dengan Arab Saudi juga mengatakan bahwa total kontrak bernilai 4 miliar dolar AS, dan 2 miliar dolar AS lainnya akan dihabiskan untuk peralatan selain konversi pinjaman.
Hubungan Militer dan Keuangan Pakistan-Arab Saudi
Pakistan telah lama memberikan dukungan militer kepada Arab Saudi di bidang pertahanan, pelatihan dan pengiriman penasihat, serta penguatan kemampuan kontra-terorisme, dan sebagai imbalannya, Arab Saudi telah berulang kali turun tangan untuk mendukung Pakistan secara finansial selama periode tekanan ekonomi.
Pada tahun 2018, Riyadh mengumumkan paket dukungan senilai $6 miliar untuk Pakistan, termasuk deposito $3 miliar di bank sentral negara ini dan penjualan minyak jangka panjang senilai $3 miliar.
Arab Saudi sejak itu telah memperpanjang depositonya beberapa kali, termasuk perpanjangan $1,2 miliar tahun lalu, membantu Islamabad menstabilkan cadangan devisa di tengah tekanan neraca pembayaran yang kronis.
Diplomasi Militer dan Propaganda Penjualan Jet Tempur
Pakistan telah meningkatkan propaganda pertahanannya dalam beberapa bulan terakhir karena berupaya memperluas ekspor senjata dan memonetisasi industri dalam negerinya.
Pejabat Pakistan mengatakan bulan lalu bahwa Islamabad telah menyelesaikan kesepakatan senjata senilai lebih dari 4 miliar dolar AS dengan tentara Libya timur, salah satu penjualan senjata terbesar negara itu hingga saat ini, termasuk pasokan jet tempur J. F-17 dan pesawat latih.
Pakistan juga telah mengadakan pembicaraan dengan Bangladesh tentang kemungkinan penjualan jet yang sama. Selasa lalu, militer Pakistan mengumumkan bahwa kepala angkatan udara Bangladesh akan mengunjungi Islamabad dan bertemu dengan rekan sejawatnya dari Pakistan.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif mengatakan bahwa keberhasilan industri senjata negara itu dapat mengubah prospek ekonomi Pakistan.
Ia mengatakan, “Pesawat kami telah lulus uji dan kami telah menerima beberapa pesanan, sehingga Pakistan mungkin tidak membutuhkan Dana Moneter Internasional dalam enam bulan ke depan.”(sl)