Tiongkok Menentang Ancaman Tarif Trump Terhadap Mitra Dagang Iran
-
AS Vs Tiongkok
Pars Today - Tiongkok mengumumkan bahwa mereka menentang ancaman tarif Trump terhadap mitra dagang Iran.
Pemerintah Tiongkok pada Selasa, 13 Januari, mengumumkan penentangan tegasnya terhadap ancaman tarif apa pun oleh Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara yang memiliki kerja sama ekonomi dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan di jejaring sosial Truth Social pada hari Selasa bahwa "mulai saat ini, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif 25 persen untuk setiap perdagangan yang dilakukannya dengan Amerika Serikat". Pesan Trump tampaknya merupakan upaya untuk meningkatkan tekanan pada Tehran.
John Gong, seorang profesor di Universitas Ekonomi Internasional Beijing memperingatkan tentang konsekuensi ancaman tarif pemerintahan Trump terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran, dengan mengatakan, "Tindakan Washington ini dapat menyebabkan perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat dan Tiongkok."
Sikap Beijing yang menentang ancaman tarif Trump terhadap mitra dagang Iran muncul pada saat Mao Ning, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, mengatakan dalam konferensi pers pada 12 Januari sebagai tanggapan terhadap ancaman Trump terhadap Iran, "Beijing menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dan penggunaan kekerasan atau ancaman dalam hubungan internasional."
Mao Ning menambahkan, "Kami percaya bahwa kedaulatan dan keamanan semua negara harus sepenuhnya dilindungi dengan bantuan hukum internasional."
Selain itu, Sun Lei, Duta Besar dan Wakil Perwakilan Tiongkok untuk PBB, menekankan dalam pertemuan Dewan Keamanan pada Kamis, 15 Januari bahwa Piagam PBB tentang non-campur tangan dalam urusan internal negara lain harus dipatuhi dan menyerukan agar Amerika Serikat tidak ikut campur dalam urusan Iran. Dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat secara terbuka mengancam Iran dengan penggunaan kekerasan, ia menyerukan agar Washington berdiri di sisi sejarah yang benar.
Penentangan Tiongkok terhadap ancaman tarif Trump terhadap mitra dagang Iran berakar pada serangkaian pertimbangan ekonomi, politik, dan strategis, yang masing-masing sangat penting bagi Beijing. Pengumuman Trump tentang tarif 25 persen untuk negara mana pun yang berbisnis dengan Iran dipandang oleh Tiongkok bukan sebagai langkah perdagangan, melainkan sebagai bentuk "pemaksaan ekonomi" dan "pengawasan", sebuah konsep yang telah ditentang Beijing selama bertahun-tahun.
Tiongkok telah berulang kali menekankan bahwa tidak ada pemenang dalam perang tarif dan bahwa penggunaan tekanan ekonomi sebagai alat mengganggu tatanan perdagangan global. Posisi ini juga tercermin dalam tanggapan resmi dari kedutaan besar Tiongkok di Washington, yang menggambarkan langkah AS sebagai "ilegal, sepihak, dan tanpa legitimasi internasional".
Salah satu alasan utama penentangan Tiongkok adalah posisi Iran dalam persamaan energi dan perdagangan luar negeri Beijing. Iran adalah salah satu pemasok minyak utama Tiongkok, dan sekitar 30 persen perdagangan luar negeri Iran adalah dengan Tiongkok. Pembatasan perdagangan dengan Iran akan secara langsung meningkatkan biaya impor energi Tiongkok dan mengancam keamanan energi negaranya.
Analisis yang diterbitkan di media Asia menunjukkan bahwa tarif sekunder AS dapat meningkatkan biaya impor minyak Tiongkok dan mengganggu rantai pasokan energi negara ini. Oleh karena itu, Beijing melihat ancaman itu sebagai tindakan yang bertentangan dengan kepentingan strategisnya, bukan sekadar tekanan terhadap Tehran.
Faktor penting lainnya adalah persaingan geopolitik antara Tiongkok dan AS. Beijing melihat ancaman tarif Trump sebagai kelanjutan dari kebijakan "tekanan maksimum" Washington dan upaya untuk mengekang kekuatan ekonomi Tiongkok. Dari perspektif Tiongkok, AS menggunakan tarif sebagai alat untuk memaksa negara-negara yang memiliki hubungan independen dengan Iran agar mengikuti kebijakan AS sendiri.
Pendekatan ini bertentangan dengan prinsip multilateralisme dan penghormatan terhadap kedaulatan negara yang ditekankan oleh Tiongkok. Karena alasan ini, para pejabat Tiongkok menggambarkan langkah itu sebagai contoh "unilateralisme berbahaya" yang dapat memperburuk ketegangan global.
Secara lebih luas, Tiongkok prihatin dengan konsekuensi ancaman itu terhadap tatanan ekonomi global. Jika AS dapat menggunakan ancaman tarif untuk mencegah negara-negara dari hubungan perdagangan yang sah, aturan WTO akan menjadi tidak efektif. Tiongkok, yang sering menjadi sasaran tarif AS, melihat langkah itu sebagai ancaman terhadap stabilitas perdagangan global dan keamanan ekonominya sendiri.
Oleh karena itu, penentangan Beijing terhadap ancaman tarif Trump bukanlah tentang membela Iran sebagai mitra dagang, melainkan tentang membela prinsip-prinsip perdagangan bebas, melawan tekanan ekonomi AS, dan melindungi kepentingan strategis Tiongkok di bidang energi dan geopolitik.(sl)