Kongo di bawah pisau Belgia: Kolonisasi Karet dan Audit Buatan Manusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i184458-kongo_di_bawah_pisau_belgia_kolonisasi_karet_dan_audit_buatan_manusia
Pars Today – Penjajahan Kongo pada masa yang dikenal sebagai “Negara Bebas Kongo” terutama berpusat pada komoditas karet; sebuah bahan alami yang, seiring dengan lonjakan tajam permintaan global pada akhir abad ke-19, berubah menjadi sumber utama kekayaan bagi Leopold II, Raja Belgia.
(last modified 2026-01-21T12:20:09+00:00 )
Jan 21, 2026 19:16 Asia/Jakarta
  • Kongo
    Kongo

Pars Today – Penjajahan Kongo pada masa yang dikenal sebagai “Negara Bebas Kongo” terutama berpusat pada komoditas karet; sebuah bahan alami yang, seiring dengan lonjakan tajam permintaan global pada akhir abad ke-19, berubah menjadi sumber utama kekayaan bagi Leopold II, Raja Belgia.

Leopold II, melalui dekret-dekret yang dikeluarkan pada tahun 1891 dan 1892, menetapkan hampir seluruh tanah “tak bertuan” di Kongo sebagai milik negara. Dalam praktiknya, langkah ini berarti perampasan tanah, hutan, dan sumber daya alam milik penduduk asli. Menurut laporan Pars Today, dengan dekret-dekret tersebut, Negara Bebas Kongo menghapus perdagangan bebas dan membentuk monopoli negara yang kejam. Meskipun perdagangan ini pada awalnya bertumpu pada ekspor gading, dengan ditemukannya ban pneumatik dan berkembangnya industri otomotif, karet alam berubah menjadi komoditas strategis dan untuk selamanya mengubah nasib Kongo.

 

Penjajahan karet di Kongo merupakan salah satu bab paling gelap dan paling kejam dalam sejarah umat manusia; sebuah periode ketika manusia tidak dipandang sebagai warga negara, bahkan bukan sebagai tenaga kerja, melainkan semata-mata sebagai “alat untuk mengekstraksi kekayaan”. Leopold II, Raja Belgia yang menyatakan Kongo sebagai milik pribadinya, memandang wilayah tersebut bukan sebagai sebuah negeri, melainkan sebagai tambang hidup—tambang yang harus diperas hingga tetes terakhir tenaga rakyatnya. Karet, bahan putih lengket yang tampak tidak berbahaya, di Kongo berubah menjadi berwarna darah; karena setiap kilogramnya diperoleh dengan penderitaan, penghinaan, dan kematian manusia.

 

Para pekerja Kongo terjebak dalam sebuah sistem yang nyaris tidak menyediakan jalan keluar. Kuota karet yang harus dipenuhi setiap pekerja begitu berat sehingga, bahkan jika seseorang menghabiskan seluruh hari di hutan, kuota tersebut tetap sulit dipenuhi. Para pejabat kolonial mengetahui bahwa kuota ini pada dasarnya tidak realistis. Para pria dipaksa tinggal berminggu-minggu di hutan, memanjat pohon, dan dalam prosesnya getah karet yang lengket menempel di kulit mereka. Setelah mengering, getah itu harus dilepaskan dengan rasa sakit yang luar biasa. Kondisi ini menjadi bentuk penderitaan harian yang terus berulang.

 

Namun, penderitaan fisik hanyalah sebagian dari kenyataan. Penghinaan, ancaman, dan ketakutan yang terus-menerus mengubah kehidupan masyarakat menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Pasukan militer Force Publique, yang pada praktiknya merupakan tentara pribadi Leopold II, memaksa para pekerja patuh dengan cambuk yang dibuat dari kulit kuda nil yang dikeringkan. Cambuk-cambuk ini sangat berat dan menyakitkan, sehingga beberapa kali pukulan saja sudah cukup membuat seseorang pingsan. Banyak pekerja meninggal dunia akibat perlakuan tersebut. Pencambukan dilakukan bukan semata-mata sebagai hukuman, melainkan sebagai sarana menebar teror—sebuah pesan tegas yang menyatakan: “Penuhi kuota, atau hancur.”

 

Bagian paling mengejutkan dari sistem ini adalah praktik “pemotongan tangan”, sebuah metode yang digunakan para penjajah untuk pengendalian, hukuman, dan bahkan administrasi. Di banyak wilayah, para petugas diwajibkan menyerahkan tangan korban sebagai bukti bahwa peluru tidak digunakan secara sia-sia. Praktik ini lambat laun menjadi bagian dari mekanisme resmi; sedemikian resminya hingga di beberapa unit ditunjuk petugas khusus sebagai “penjaga tangan” untuk mengumpulkan dan menyimpannya.

 

Selain sebagai alat administrasi, pemotongan tangan juga berfungsi sebagai sarana intimidasi kolektif. Pameran keranjang berisi tangan-tangan yang terpotong menyampaikan pesan yang jelas kepada desa-desa: pembangkangan memiliki harga. Di banyak wilayah, tangan-tangan tersebut menjadi simbol kekuasaan kolonial dan dianggap sebagai penanda betapa nyawa penduduk asli tidak dihargai.

 

Sejumlah laporan menunjukkan bahwa para tentara menerima imbalan berdasarkan jumlah tangan yang mereka serahkan; masa dinas mereka dipersingkat atau mereka memperoleh keuntungan material. Dalam beberapa kasus, ketika kuota karet tidak terpenuhi, penyerahan tangan dijadikan pengganti—seolah-olah tubuh manusia dapat ditukar dengan hasil alam.

 

William Sheppard termasuk orang-orang pertama yang mendokumentasikan kejahatan di Kongo. Dalam catatan hariannya, ia menulis bahwa seorang kepala suku membawanya ke sebuah tempat di mana tangan-tangan korban yang telah dipotong diasapi di atas api agar tidak membusuk dan dapat dihitung. Di sana ia menghitung 81 tangan. Bagi Sheppard, pemandangan ini bukan sekadar sebuah adegan, melainkan tanda jelas dari sebuah sistem yang mengubah manusia menjadi bagian-bagian yang dapat dihitung demi kelangsungan mekanisme kolonial.

 

Dalam sistem ini, para pekerja Kongo tidak hanya dipaksa menanggung penderitaan dan penghinaan, tetapi keluarga mereka juga dijadikan sandera. Jika seorang pria tidak memenuhi kuotanya, istri atau anaknya ditahan agar ia dipaksa kembali ke hutan. Praktik penyanderaan ini menghancurkan struktur keluarga dan menempatkan masyarakat dalam ketakutan yang terus-menerus. Banyak desa ditinggalkan sepenuhnya, karena penduduknya terbunuh atau melarikan diri ke hutan untuk menghindari kekerasan.

 

Selain kekerasan langsung tersebut, dampak tidak langsung dari sistem karet juga sangat menghancurkan. Karena para pria menghabiskan sebagian besar waktu mereka di hutan, kegiatan pertanian ditinggalkan dan produksi pangan menurun. Kelaparan meluas, dan kekurangan gizi melemahkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Wabah-wabah seperti cacar dan penyakit tidur Afrika menyebabkan penurunan populasi secara drastis. Di beberapa wilayah, setengah dari penduduk musnah dalam waktu kurang dari dua dekade. Kematian massal ini bukanlah akibat suatu bencana alam, melainkan konsekuensi langsung dari sebuah sistem yang mengorbankan manusia demi keuntungan.

 

Penjajahan karet di Kongo bukan sekadar sebuah periode sejarah; ia merupakan bukti tentang bagaimana sebuah sistem kolonial yang terorganisasi dapat mengubah nasib suatu negeri menjadi bencana. Apa yang terjadi di Kongo adalah konsekuensi langsung dari sebuah tatanan kolonial yang menjadikan pengendalian, eksploitasi, dan penindasan sebagai inti operasionalnya. Kongo pada masa itu bukanlah sebuah koloni, melainkan sebuah pabrik yang beroperasi dengan mengorbankan nyawa manusia. Setiap muatan karet yang keluar dari Kongo pada hakikatnya adalah muatan yang sarat dengan duka dan penderitaan rakyat negeri tersebut. (MF)