Chatham House: Jangan Lupa, AS Hanya Penyewa di Samudra Hindia!
https://parstoday.ir/id/news/world-i184538-chatham_house_jangan_lupa_as_hanya_penyewa_di_samudra_hindia!
Pars Today - Chatham House, dengan meneliti Doktrin Donroe Trump, menunjukkan bahwa persaingan kekuatan besar telah meluas dari Greenland ke Samudra Hindia dan Kepulauan Chagos.
(last modified 2026-01-24T09:22:31+00:00 )
Jan 24, 2026 16:08 Asia/Jakarta
  • Donald Trump, Presiden AS
    Donald Trump, Presiden AS

Pars Today - Chatham House, dengan meneliti Doktrin Donroe Trump, menunjukkan bahwa persaingan kekuatan besar telah meluas dari Greenland ke Samudra Hindia dan Kepulauan Chagos.

Dalam laporannya pada 21 Januari, Chatham House meneliti Doktrin Donroe Trump di Samudra Hindia dan menulis, "Trump telah membenarkan desakannya pada kendali Amerika atas Greenland dengan kekhawatiran tentang kehadiran agresif Tiongkok dan Rusia di Atlantik Utara dan Arktik. Namun sekarang argumen ini juga telah diperluas ke Samudra Hindia dan kedaulatan atas Kepulauan Chagos."

Latihan BRICS dan Awal Perebutan Kekuasaan di Samudra Hindia

Dalam laporan analitis ini, Chatham House menganggap salah satu alasan Trump beralih dari Samudra Arktik dan Greenland ke Selatan dan Samudra Hindia adalah latihan BRICS di wilayah ini, dengan mengatakan, “Minggu lalu, Rusia, Tiongkok, dan negara-negara lain mengadakan latihan angkatan laut gabungan di lepas pantai Afrika Selatan di Samudra Hindia. Meskipun beberapa komentator menggambarkan latihan itu sebagai latihan BRICS Plus, kenyataannya itu merupakan perebutan kekuasaan di jalur menentukan.”

Rute Kutub ke Laut Tradisional, Definisi ulang iingkup pengaruh

Dalam laporan ini, analisis berfokus pada dominasi rute laut sebelumnya dan dominasi rute laut baru. Dengan kata lain, perang baru Amerika dari Utara ke Selatan dan dari Barat ke Timur mendefinisikan “lingkup pengaruh baru” dan mendefinisikan ulang “lingkup pengaruh sebelumnya”. Lingkup pengaruh baru mengacu pada “rute kutub”. Dengan adanya “pemanasan global dan pengurangan es laut Arktik”, jalur laut baru muncul di Samudra Arktik (seperti Jalur Laut Utara di sepanjang pantai Rusia atau Jalur Barat Laut di Kanada).

Secara teoritis, jalur-jalur ini dapat mengurangi waktu dan biaya transportasi antara Asia, Eropa, dan Amerika Utara, dan sebagai hasilnya, jalur-jalur ini dapat memperoleh “urgensi geopolitik yang besar” di masa depan. Karena alasan ini, kekuatan-kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok melihatnya sebagai potensi wilayah pengaruh dalam tatanan dunia masa depan.

Ketertarikan Trump untuk membeli Greenland merupakan simbol dari visi geopolitik ini. Karena lokasinya di Arktik, Greenland dapat memberi Amerika Serikat “akses, kendali, dan pengaruh strategis” atas jalur kutub, sumber daya alam, dan persaingan dengan Rusia dan Tiongkok. Namun, analisis itu menekankan bahwa jalur kutub ini belum cukup berkembang secara teknis, ekonomi, dan iklim untuk menggantikan jalur utama perdagangan dunia.

Diego Garcia, Pusat gravitasi kehadiran militer AS di Samudra Hindia

Namun, pergeseran mendadak Trump ke selatan dan ke Samudra Hindia bukan hanya tentang memengaruhi jalur perdagangan global! Alasan terpenting keberadaan pangkalan Diego Garcia adalah sebagai satu-satunya pangkalan permanen AS di Samudra Hindia. Pangkalan ini berjarak sama dari Selat Bab Al-Mandab dan Selat Malaka, yang memungkinkan Amerika Serikat untuk memproyeksikan kekuatannya di seluruh wilayah tanpa bergantung pada wilayah negara-negara Teluk Persia.

“Pada tahun 2024, Amerika Serikat mengerahkan dua pesawat pembom B-52 dari pangkalan ini dalam misi pencegahan di seluruh Indo-Pasifik, berpotensi menargetkan Houthi, Iran, dan bahkan Tiongkok,” demikian analisis Chatham House.

Wilayah Samudra Hindia adalah rumah bagi 33 negara dan 2,9 miliar orang, membentang dari pantai timur Afrika hingga Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia. Di tengah-tengah semuanya adalah Kepulauan Chagos. Bagi Trump, mempertahankan Belahan Barat mungkin memerlukan kendali di luar belahan bumi seperti Greenland dan Kepulauan Chagos.

Chagos dan perpecahan baru di Front Barat

Mengingat kedaulatannya atas wilayah itu sebagai peninggalan masa kolonialnya, lembaga think tank Inggris ini menekankan, “Pada tahun 2024, pemerintah Inggris setuju untuk menyerahkan kedaulatan atas Kepulauan Chagos kepada Mauritius sebagai imbalan atas kelanjutan operasi pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia. Namun ada penentangan di Parlemen Inggris terhadap perjanjian Chagos karena mereka khawatir bahwa tanpa kendali Inggris, Tiongkok dapat membangun kehadiran komersial ganda di Mauritius yang akan mengancam kepentingan keamanan Barat!”

Chatham House menyimpulkan analisisnya dengan nada mengancam terhadap Trump dengan mengatakan bahwa terlepas dari apakah Trump menerima pendekatan saling menguntungkan atau tidak, pengalihan kedaulatan Chagos tidak bergantung pada kehendak Washington! Dan itu mengingatkan kita bahwa AS hanyalah penyewa di Diego Garcia! Perjanjian sewa yang kontraknya akan berakhir pada tahun 2036. Jadi, para pembuat kebijakan Amerika harus ingat bahwa masa depan Kepulauan Chagos terletak di London.(sl)