Barat Desak Pasukan Haftar Tinggalkan Ladang Minyak Libya
Amerika Serikat dan lima negara Eropa, mendesak pasukan yang setia kepada komandan Libya Timur Khalifa Haftar untuk menarik diri dari beberapa pelabuhan minyak yang dikuasainya di negara itu.
"Kami menyerukan semua kekuatan militer yang sudah menguasai pelabuhan minyak Libya segera menarik diri, tanpa prasyarat," kata AS, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol dan Inggris dalam sebuah pernyataan bersama pada Senin (12/9/2016), seperti dilansir Reuters.
"Infrastruktur minyak, produksi dan ekspor harus tetap berada di bawah kontrol sebuah perusahaan, yang beroperasi atas instruksi pemerintah persatuan nasional Libya," tegas mereka.
Kekuatan-kekuatan Barat juga mengecam serangan terhadap pelabuhan minyak dan menegaskan niat mereka untuk menegakkan resolusi Dewan Keamanan PBB, yang disusun untuk mencegah "ekspor ilegal minyak."
Sementara itu, Utusan PBB untuk Libya Martin Kobler dalam sebuah pernyataan terpisah, menyatakan keprihatinan serius atas pertempuran di sekitar pelabuhan minyak, dan menyerukan pasukan yang merebut tempat tersebut untuk menahan diri dari bentrokan lebih lanjut.
"Serangan terhadap pelabuhan minyak akan meningkatkan ancaman bagi stabilitas dan mendorong perpecahan yang lebih besar di Libya," kata Kobler.
Faksi-faksi yang bersekutu dengan Haftar di Libya Timur sebelumnya mencoba untuk mengekspor minyak secara independen, yang terlepas dari perusahaan nasional minyak Libya.
Pasukan yang setia kepada Khalifa Haftar sudah menguasai pelabuhan Ras Lanuf, Es Sider, Zueitina dan Brega, setelah mengusir kekuatan yang bersekutu dengan pemerintah dukungan PBB di Tripoli. (RM)