Dukungan Inggris untuk Perang Saudi di Yaman
https://parstoday.ir/id/news/world-i44661-dukungan_inggris_untuk_perang_saudi_di_yaman
Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon melakukan pertemuan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di kota Jeddah, Selasa (19/9/2017).
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Sep 21, 2017 10:13 Asia/Jakarta

Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon melakukan pertemuan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di kota Jeddah, Selasa (19/9/2017).

Kedua pihak kemudian menandatangani kesepakatan kerjasama militer dan keamanan. Mereka juga berdiskusi mengenai perkembangan terbaru di wilayah Timur Tengah dan upaya memerangi terorisme.

Para pejabat tinggi Inggris termasuk Perdana Menteri Theresa May sejauh ini sudah berkali-kali melakukan kunjungan ke negara-negara pesisir Teluk Persia seperti Arab Saudi. Tur ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara kaya minyak, memenuhi kepentingan ekonomi dan bisnis, serta meloloskan kontrak penjualan senjata. Inggris juga berhastrat meningkatkan kehadiran militernya di daerah geostrategis Teluk Persia.

Inggris telah membangun pangkalan angkatan lautnya di Bahrain pada November 2016 sebagai bagian dari kebijakan meningkatkan kehadiran di kawasan terutama Teluk Persia. Para pejabat Inggris baru-baru ini melakukan safari ke Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Oman dengan maksud memperluas kerjasama dan menawarkan persenjataan baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris memusatkan perhatiannya pada Saudi sebagai pemain kunci di Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) dan meningkatkan kontrak militer dan persenjataan dengan Riyadh.

Pada dasarnya, pemerintahan Theresa May ingin menghidupkan industri persenjataan Inggris dan membuka ribuan lapangan kerja bagi warganya dengan cara menaikkan angka ekspor senjata.

Penjualan seperti ini secara langsung akan membantu eksistensi sekutu-sekutu Barat di Timur Tengah dan menjamin berlanjutnya penumpasan gerakan-gerakan protes rakyat di negara-negara tersebut termasuk Saudi.

Barat termasuk Inggris tidak hanya menutup mata atas pelanggaran luas HAM di Arab Saudi, tapi juga tidak menggubris kejahatan dan tragedi kemanusiaan yang diciptakan rezim Al Saud di Yaman. Arab Saudi adalah salah satu pelanggan terbesar Inggris di bidang militer dan nilai transaksi senjata mereka mencapai hampir 4 miliar dolar sejak tahun 2015.

Menurut keterangan seorang pengamat politik Rusia, Sergey Serebrov, Amerika Serikat dan Inggris memperoleh keuntungan besar dari perang Yaman.

Organisasi War Child UK dalam laporannya mengatakan bahwa perusahaan senjata Inggris memperoleh keuntungan dari pembunuhan anak-anak tak berdosa dengan menjual rudal dan perlengkapan militer ke negara-negara Arab di Teluk Persia termasuk Saudi.

Rocco Blume, seorang penasihat bidang konflik dan kemanusiaan di War Child, mengatakan, Inggris tidak hanya menjual senjata kepada pasukan Saudi tapi juga memberikan perawatan.

"Transparansi yang kurang muncul pada tingkat keterlibatan perusahaan-perusahaan Inggris di tengah melemahnya perlindungan global untuk anak-anak dalam konflik termasuk di Yaman, Suriah, dan Irak," ujar Blume.

Persoalan ini merefleksikan pendekatan ganda Barat dalam menegakkan parameter hak asasi manusia. Pemerintah konservatif Inggris tetap melanjutkan penjualan senjata dan mempererat hubungan militer dengan Saudi, padahal sejumlah laporan lembaga HAM menyebutkan bahwa Saudi telah melakukan pembantaian warga sipil di Yaman dan membom tempat-tempat dan infrastruktur publik di negara tersebut.

Kunjungan menhan Inggris ke Saudi juga bertujuan untuk menandatangani kontrak baru kerjasama militer dan keamanan dengan rezim Al Saud. (RM)