Basa-Basi AS Soal Rohingya Myanmar
-
James Mattis
Menteri Pertahanan AS, James Mattis dalam kunjungannya ke Indonesia, berbicara soal bencana kemanusiaan di Myanmar dan pembunuhan Muslim Rohingya, seraya mengatakan, ini adalah tragedi yang lebih buruk daripada yang ditunjukkan CNN atau BBC.
Setelah Inggris, Amerika Serikat juga menyatakan keprihatinannya atas kondisi tragis yang dialami Muslim Rohingya. Beberapa waktu lalu Komite Pembangunan Internasional Majelis Rendah Inggris, mengkritik ketidakpedulian pemerintah mengenai hal ini. Ungkapan keprihatinan dan kritik ini adalah menutupi kepasifan pemerintah Barat, terutama Amerika Serikat, terhadap pembunuhan Muslim Rohingya, ketimbang benar-benar mengkhawatirkan fenomena kemanusiaan seperti yang dikemukakan Mattis.
Jika ada sebuah negara dan negara-negara mampu menghentikan pembantaian dan keterlantaran ratusan ribu warga Myanmar, maka negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat dan Eropa. Hubungan Myanmar dengan negara-negara Eropa telah membaik dan bahkan harmonis setelah Aung San Suu Kyi meraih penghargaan Nobel Perdamaian.
Militer Myanmar membakar banyak Muslim Rohingya, menewaskan ratusan orang dan memperkosa ribuan gadis dan Muslimah Rohingya, dengan tujuan merampas tempat tinggal mereka. Kejahatan militer Myanmar yang sedang berlangsung telah menyebabkan sekitar 700.000 Muslim mengungsi dari Myanmar ke Bangladesh.
Reaksi Uni Eropa terhadap pembantaian minoritas yang paling tertindas di dunia ini adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa hanya meminta pemerintah Myanmar untuk melindungi hak-hak Muslim di Myanmar. Pemerintah Myanmar dan Aung San Suu Kyi sendiri menolak keberadaan Muslim Rohingya di Rakhine.
Pemerintah Amerika Serikat dan Eropa memiliki kekuatan untuk memaksa pemerintah Myanmar, dengan tekanan politik dan sanksi ekonomi, agar menghentikan pembunuhan Muslim Rohingya dan mengembalikan warga Rohingya yang kehilangan tempat tinggal ke rumah mereka.
Washington Post melaporkan bahwa Amerika Serikat belum bekerjasama dengan negara-negara Eropa untuk memboikot sekelompok pejabat militer Myanmar dan pejabat pemerintah lainnya yang terlibat dalam gelombang kekerasan anti-Rohingya.
Ditambahkan pula menyatakan bahwa Amerika Serikat terus mendukung militer Myanmar, sementara kritikan Washington terhadap genosida Muslim Rohingya di negara adalah pertunjukan drama. Alih-alih menggunakan kekuatannya untuk mengerahkan langkah internasional dalam hal ini, Amerika Seirkat hanya mengungkapkan keprihatinannya atas genosida terhadap Muslim Rohingya Myanmar.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi hak asasi manusia internasional menampilkan foto-foto kondisi Muslim Rohingya yang mengenaskan, serta bahwa perang terhadap Muslim Rohingya adalah contoh nyata dari pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.(MZ)