Misi AS Keluar dari Traktat Senjata Nuklir
https://parstoday.ir/id/news/world-i63354-misi_as_keluar_dari_traktat_senjata_nuklir
Reaksi negatif terus bermunculan di tingkat global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan menarik diri dari Traktat Kekuatan Nuklir Jarak-Menengah (INF).
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 23, 2018 12:05 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump.
    Presiden AS Donald Trump.

Reaksi negatif terus bermunculan di tingkat global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan menarik diri dari Traktat Kekuatan Nuklir Jarak-Menengah (INF).

Langkah ini sejalan dengan pendekatan Trump yang telah meninggalkan beberapa kesepakatan internasional, namun kali ini terkait dengan isu militer yang diprediksi akan berdampak pada perdamaian dan keamanan dunia.

AS memutuskan keluar dari INF dengan alasan pelanggaran ketentuan kesepakatan oleh Rusia. Washington mengklaim bahwa Moskow telah mengembangkan dan menyebarkan sistem rudal selama beberapa tahun terakhir, di mana langkah ini bertentangan dengan INF.

Moskow menolak keras tuduhan itu dan menuding Washington telah melanggar traktat kekuatan nuklir.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton sedang berada di Moskow untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat tinggi Rusia dan salah satu agendanya adalah masalah penarikan AS dari INF.

Bolton dalam sebuah wawancara di Moskow menyinggung sebuah poin yang mungkin ini menjadi alasan asli AS keluar dari traktat itu. "Kesepakatan tentang Traktat Kekuatan Nuklir Jarak-Menengah sudah dibahas dalam pertemuan dengan para mitra Rusia, kami percaya tidak mungkin mempertahankan traktat ini hanya dengan partisipasi Rusia dan AS," katanya.

Presiden Vladimir Putin dan John Bolton di Moskow.

Komentar ini mengacu pada Cina yang tidak hanya meningkatkan kekuatan militernya selama beberapa tahun terakhir, tetapi juga mengembangkan rudal balistik dan jelajah jarak pendek dan menengah.

Beijing ingin membangun pasukan rudal yang mumpuni sehingga mampu menghadapi ancaman Washington terutama di Laut Cina Selatan, serta memiliki kemampuan untuk menargetkan kapal perang dan pangkalan militer AS di barat Pasifik.

Para pejabat Washington beranggapan bahwa Cina terus meningkatkan kemampuannya untuk menargetkan pangkalan militer AS di Pulau Guam, Korea Selatan, Jepang, dan armada kapal induk Amerika.

Trump dalam pernyataannya mengenai INF secara eksplisit berbicara tentang ancaman rudal Cina. "AS akan mengembangkan senjata nuklirnya, kecuali Rusia dan Cina menghentikan pengembangan persenjataan nuklir mereka," ujarnya.

Saat ini muncul sebuah kekuatan baru dalam perimbangan nuklir dunia. Bahkan jika pun Rusia memenuhi permintaan AS dan bersedia menghancurkan sistem rudalnya, Paman Sam akan tetap menuntut agar Cina dilibatkan dalam traktat kekuatan nuklir dan menghentikan pengembangan rudal balistik jarak menengah dan rudal jelajah.

Tentu saja respon Beijing atas permintaan ini sudah jelas. Cina menganggap kegiatan pengembangan rudalnya untuk melindungi keamanan dan kepentingan nasional serta menanggapi ancaman militer AS, yang terus tumbuh di Asia-Pasifik. Oleh karena itu, Cina sama sekali tidak tertarik untuk menghentikan program ini.

Dengan demikian, INF yang telah meredam ancaman nuklir di Eropa selama 30 tahun ini, kemungkinan akan berakhir. Isu ini telah mengundang keprihatinan serius Uni Eropa dan negara-negara besar Eropa seperti, Jerman dan Perancis. Mereka meminta AS untuk berkomitmen dan mempertahankan traktat tersebut. (RM)