Menelisik Kunjungan Xi Jinping ke Filipina
-
Rodrigo Duterte dan Xi Jinping
Xi Jinping, Presiden Cina melakukan kunjungan ke Filipina untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat negara ini.
Xi Jinping di akhir lawatan dua hari ke tiga negara kawasan Asia-Pasifik melawat Filipina. Presiden Cina sebelum bertolak ke Manila, melakukan kunjungan ke Papua Nugini dan Brunei.
Xi Jinping mengunjungi Papua Nugini untuk berpartisipasi pada KTT ke-26 Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).
Ini merupakan kunjungan yang dilakukan oleh seorang presiden Cina ke Filipina sejak 13 tahun terakhir yang dapat menjadi tanda keinginan Beijing untuk mengembangkan hubungan dengan Manila dengan cara yang berbeda.
Cina yang berada dalam daftar negara kekuatan ekonomi bari dunia dan sekarang menempati peringkat kedua dalam ekonomi dunia, menjadikan strategi pengembangan ekspor dan perluasan sahamnya dari pasar regional dan internasional sebagai agenda yang paling penting. Strategi ini membuat upaya memperkuat hubungan politik dan ekonomi dengan negara-negara di kawasan tersebut, khususnya negara-negara tetangga memiliki prioritas dengan berbagai alasan.
Dalam dua tahun terakhir, Cina dan Filipina telah mengurangi gesekan bilateral terkait kepemilikan mereka atas Laut Cina Selatan dan memilih jalan memperluas kerjasama bilateral.
Berdasarkan perubahan dalam pendekatan kedua negara dari ketegangan menjadi kerjasama, dimana setelah tiga belas tahun seorang presiden China mengunjungi Filipina untuk membantu memperluas hubungan bilateral.
Filipina di masa kepresidenan Benigno Aquino melayangkan pengaduan atas Cina ke pengadilan arbitrase internasional, dimana petusan pengadilan ini menguntungkan Manila dan merugikan Cina. Meskipun putusan telah dikeluarkan, tapi Rodrigo Duterte justru melakukan kunjungan ke Cina yang menunjukkan bahwa ia ingin mengubah ketegangan ini menjadi kemitraan.
Kesepakatan antara otoritas Beijing dan Manila untuk mengeksplorasi sumber daya minyak dan gas bersama di wilayah sengketa di Laut Cina Selatan adalah salah satu keuntungan dari pendekatan kooperatif terhadap hubungan Cina-Filipina selama dua tahun terakhir. Tentu saja, Cina telah menawarkan proposal yang menggiurkan pemerintahan Filipina yang dapat menghasilkan rasa saling percaya.
Proposal Cina untuk menjual senjata ke Filipina dengan pembayaran 25 tahun adalah salah satu rencana yang diajukan dalam kerangka kebijakan Beijing untuk memuluskan lebih banyak kerjasama dengan Manila dan berkontribusi terhadap friksi yang lebih besar antara Filipina dengan Amerika Serikat. Tentu saja, rencana Cina untuk berinvestasi sekitar 4 miliar dolar di sektor infrastruktur Filipina dalam kerangka 13 perjanjian kerjasama yang ditandatangani antara kedua negara adalah salah satu inisiatif lain yang telah disambut oleh pihak berwenang Manila.
Meskipun rencana Cina untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi Filipina telah menarik perhatian serius dari para pejabat negara ini, meskipun fakta bahwa pejabat saat ini di Manila tidak bermaksud untuk merusak kerjasama dengan Beijing, tapi tetap saja masalah konflik Laut Cina Selatan terus mempengaruhi hubungan mereka.
Menurut ucapan Presiden Filipina tahun lalu bahwa Cina sedang berpikir untuk tidak menggunakan Laut Cina Selatan secara eksklusif, dimana Cina dapat dikatakan telah mengambil langkah besar dalam pengembangan hubungan bilateral dan multilateral, dengan membentuk kemitraan dalam memanfaatkan sumber dayanya.