Amerika Tinjauan Dari Dalam 6 April 2019
-
Departemen Perdagangan AS mencatat pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal keempat 2018 turun ke tingkat tahunan sebesar 2,2 persen.
Dinamika Amerika Serikat pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting antara lain: Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat, Kekuatan AS di Dunia Meredup, NY Times: Laporan Final Mueller Perburuk Reputasi Trump, dan Jenderal AS Sebut Rusia sebagai Ancaman Eksistensial bagi AS.
Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat
Pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam pada kuartal keempat tahun lalu ke tingkat tahunan hanya 2,2 persen. Ada kekhawatiran bahwa pertumbuhan akan melambat lebih dalam pada kuartal pertama 2019 karena kelesuan global, menurunnya stimulus pemerintah, dan meningkatnya konflik perdagangan.
Departemen Perdagangan AS menyatakan bahwa peningkatan dalam produk domestik bruto, total output barang dan jasa ekonomi, direvisi turun dari perkiraan awal pertumbuhan 2,6 persen pada kuartal keempat 2018. Perubahan tersebut mencerminkan kelemahan di sejumlah bidang.
Statistik ini dapat memupuskan harapan Presiden Donald Trump untuk memperbaiki produk domestik bruto dan peluangnya untuk memenangi pemilu presiden 2020. Trump dan tim ekonominya berulang kali berjanji bahwa kebijakan perdagangan yang agresif, deregulasi, dan pemotongan pajak besar-besaran pada akhir 2017 akan mempercepat pertumbuhan hingga tiga persen.
Sebagian besar ekonom, termasuk mereka yang berada di Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi AS untuk 2019. Saat ini data dan pertumbuhan ekonomi tidak menguntungkan Trump.
Meski demikian, beberapa ekonom setuju dengan penilaian Bank Sentral AS bahwa ekonomi negara itu dalam kondisi yang baik. Dan Chris Low, dari FTN Financial, mengatakan pertumbuhan lebih lemah dari yang dilaporkan, tetapi tidak lemah.
Tetapi, Gregory Daco dari Oxford Economics mencatat ekonomi AS telah mencapai "titik belok" dan menandai perlambatan substansial dari 4,2 persen pada kuartal kedua 2018, dan 3,4 persen pada kuartal ketiga, dan sekarang turun ke angka 2,2 persen.
Surat kabar Wall Street Journal menulis, "Tampaknya pertumbuhan ekonomi AS dalam tiga bulan pertama 2019 juga akan menurun dan penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi global yang tidak pasti dan penutupan parsial pemerintah federal AS pada akhir Desember 2018 dan Januari 2019."
Pemerintah AS sepertinya akan segera mengumumkan penilaian pertamanya tentang pertumbuhan ekonomi mereka selama tiga bulan pertama 2019.
Surat kabar The New York Times menulis, "Kemenangan Trump dalam pilpres 2020 bergantung pada pertumbuhan ekonomi. Jika ia berkata benar dan pertumbuhan ekonomi kembali naik, maka ia akan memasuki tahun 2020 dengan pengalaman yang kuat di bidang ekonomi, tetapi jika ia keliru dan pertumbuhan ekonomi turun, maka tidak ada yang patut disalahkan selain dirinya."
Kekuatan AS di Dunia Meredup
Masalah penurunan kekuatan AS dalam literatur politik dan hubungan internasional sudah menjadi sorotan sejak dulu. Penurunan posisi AS sebagai satu-satunya adidaya dunia sudah terjadi sebelum Trump berkuasa, namun kebijakan unilateral dan premanisme Trump selama tiga tahun terakhir telah memicu penentangan serius di tingkat global. AS menjadi terkucil di dunia dan bahkan di tengah para sekutunya.
Penurunan kekuatan AS tidak hanya dibicarakan oleh negara-negara rival, tetapi juga oleh para petinggi negara itu sendiri. Dalam hal ini, mantan Kepala Staf Gabungan Militer AS, Mike Mullen mengakui bahwa kekuatan AS sedang meredup dan jika para pemimpinnya tidak berbuat sesuatu, maka negara ini akan runtuh.
Dalam perspektif Mullen, AS sedang melemah dengan memperhatikan isu-isu seperti penurunan kapasitas ekonomi dan pelemahan lembaga-lembaga pengawasan dan peradilan. Selain itu, moralitas masyarakat Amerika juga menjadi target serangan di era pemerintahan Trump dan proses perusakannya sedang berlangsung.
Mullen menganggap Trump sebagai tragedi bagi Amerika yang akan mempercepat proses penurunan kekuatan negara itu. Menurutnya, para pemimpin AS harus menarik diri sehingga orang-orang yang lebih muda bisa memimpin. Dia kemudian menyoroti sebagian persoalan besar di Amerika yang mencakup rasisme, ketimpangan pendapatan, dan tidak adanya nilai-nilai moral di masyarakat.
"Kita sedang bergerak ke arah krisis dekade 60 dan 70-an. Kita tidak sedang menanjak naik, tetapi sedang turun dan meredup, seperti sebuah korporasi yang sedang bangkrut. Anda dapat menyaksikan ini sedang terjadi… saat ini semua indikator sama sekali tidak positif," ungkapnya.
Para kritukus mengatakan bahwa hegemoni AS di dunia sedang meredup. Penurunan ini tidak hanya terjadi di sektor kekuatan keras dan kekuatan semi-keras AS, tetapi menurut perkiraan banyak analis, kekuatan lunak AS juga sedang meredup.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Kekuatan lunak AS dalam artian pemaksaan pandangannya kepada negara lain, sekarang berada pada situasi yang paling lemah dan sejak presiden saat ini berkuasa, keputusan Washington tidak hanya ditentang oleh bangsa-bangsa, tetapi juga oleh pemerintah Eropa, Cina, Rusia, India, Afrika dan Amerika Latin."
Sekarang kekuatan Amerika bergerak lebih cepat ke arah jurang dan keruntuhan. Tindakan-tindakan Presiden Trump bahkan telah mempermalukan liberal demokrasi, yang diklaim sebagai landasan dari peradaban Barat.
NY Times: Laporan Final Mueller Perburuk Reputasi Trump
Pekan lalu, koran terkemuka AS, The New York Times menilai laporan final jaksa khusus Robert Mueller akan memperburuk reputasi Presiden AS Donald Trump.
Sebagian anggota tim Mueller, yang menyelidiki campur tangan Rusia dalam pilpres AS tahun 2016 menyatakan bahwa laporan final akan lebih destruktif bagi Trump dibandingkan pernyataan yang disampaikan Jaksa Agung William Barr.
Sebelumnya, Barr menyampaikan ringkasan hasil investigasi yang dilakukan Mueller, tapi tidak jelas mengungkapkan posisi Trump dalam masalah tersebut. Dia mengatakan dalam suratnya kepada Kongres bahwa laporan penyelidik khusus Robert Mueller tentang campur tangan Rusia, tidak menemukan bukti bahwa Presiden Trump atau tim kampanyenya berkolusi atau berkoordinasi dengan Rusia.
Tetapi pada pertanyaan, apakah Trump mencoba menghalangi keadilan dengan mengganggu atau mencoba menggagalkan penyelidikan Mueller, Barr mengatakan, “Laporan itu tidak menyimpulkan bahwa presiden melakukan kejahatan, tetapi juga tidak membebaskannya.”
Jenderal AS: Saat ini, Hanya Rusia Ancaman Eksistensial bagi AS
Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Mark Milley mengatakan, Rusia tetap menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki kemampuan nuklir untuk menghancurkan Amerika, dan karenanya ia merupakan satu-satunya ancaman serius bagi Washington.
Milley, seperti dikutip Sputniknews, Rabu (3/4/2019) menjelaskan bahwa memiliki kemampuan seperti itu tidak berarti Rusia akan melakukan serangan militer serius terhadap Amerika.
Dia juga mengklaim bahwa Rusia akan mencoba melemahkan NATO sebagai aliansi dan menantang AS di semua wilayah di dunia, termasuk Kutub Utara, sebagai bagian dari upayanya untuk kembali menjadi kekuatan besar.
Namun, Milley tidak menyinggung ekspansi sistematis NATO di Eropa Tengah dan Timur selama dua dekade terakhir, maupun penyebaran pasukan aliansi di Polandia, Rumania, dan negara-negara Baltik setelah pecahnya krisis di Ukraina. Atau penyebaran komponen pertahanan rudal AS di wilayah tersebut. (RM)