Blunder Baru Trump dan Ancaman Nuklir Dunia
https://parstoday.ir/id/news/world-i78057-blunder_baru_trump_dan_ancaman_nuklir_dunia
Langkah blunder Presiden AS Donald Trump terus-menerus memicu kekhawatiran publik dunia, termasuk PBB. Pasalnya, setelah mengumumkan menarik diri dari Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) pada 2 Agustus 2019 lalu, kini Trump berencana menarik keluar negaranya dari New START.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 28, 2020 08:35 Asia/Jakarta

Langkah blunder Presiden AS Donald Trump terus-menerus memicu kekhawatiran publik dunia, termasuk PBB. Pasalnya, setelah mengumumkan menarik diri dari Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) pada 2 Agustus 2019 lalu, kini Trump berencana menarik keluar negaranya dari New START.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Perwakilan Tinggi Perlucutan Senjata, Izumi Nakamatsu menyampaikan AS dan Rusia memperpanjang perjanjian pengurangan senjata strategis, traktat New START selama minimal lima tahun ke depan.

Dari sudut pandang seorang pejabat senior PBB masih terlalu dini untuk membahas penandatanganan dokumen baru tentang perlucutan nuklir, mengingat ketidaksepakatan antara Washington dan Moskow, yang menjadi alasan pentingnya  mempertahankan perjanjian yang ada saat ini.

Nakamitsu mengatakan, "Untuk saat ini, kita perlu fokus pada upaya menjaga yang sudah ada, Ini tidak mungkin terjadi dengan Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF), tetapi perjanjian New START masih berlaku dan sedang dilaksanakan. Jadi mari kita coba menjaga fasilitas yang ada saat ini dan perjanjian pengurangan senjata penting ini setidaknya diperpanjang dalam lima tahun ke depan." Menurutnya, saat ini perlu mengkaji kondisi aktual untuk mencapai kesepakatan baru, karena kondisi dunia telah berubah secara drastis.

Masalahnya, Washington berupaya tidak memperpanjang perjanjian New START, yang berupaya membatasi arsenal nuklir strategis Rusia-AS, sehingga membatasi pengembangan senjata nuklir barunya. Tindakan Trump ini didasarkan pada doktrin nuklir baru AS, "Peninjauan Postur Nuklir."

Di sisi lain, Rusia berulang kali menyerukan dimulainya negosiasi untuk memperpanjang Traktat senjata nuklir strategis. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Desember 2019 menyerukan pembaruan perjanjian New START  tanpa prasyarat apapun. Presiden Rusia, Vladimir Putin juga telah mengkonfirmasi kesiapan Moskow untuk memperpanjang perjanjian tersebut. 

 

Presiden AS, Barack Obama dan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev menandatangani New START

 

Perjanjian START baru ditandatangani di Praha pada 2010 antara Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang berakhir pada Februari 2021. Berdasarkan perjanjian itu, jumlah hulu ledak nuklir Rusia dan AS dikurangi menjadi 1550 dan jumlah platform peluncuran dikurangi menjadi 800.

Pada April 2019, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengajukan dua syarat dari pemerintahan Trump untuk memperpanjang perjanjian START, termasuk Cina yang bergabung dengannya dan menghentikan pengembangan senjata ultrasound Rusia. Tapi Beijing menolaknya, dan Moskow bersikeras meneruskan penyebaran senjata ultrasound. Vladimir Ermakov, direktur divisi non-proliferasi dan kontrol senjata Kementerian Luar Negeri Rusia, mengatakan "AS sengaja membuat alasan untuk menghentikan perjanjian New START, "

Tidak diperbaruinya perjanjian New START oleh Amerika Serikat hanya akan meningkatkan ketidakstabilan dan ketidakamanan internasional serta mempercepat perlombaan senjata nuklir antara kekuatan nuklir dunia. Tampaknya, tujuan Washington untuk mendorong Rusia menuju perlombaan senjata baru dan menempatkan Cina dalam siklus yang tak berkesudahan untuk mencapai "penyelarasan nuklir" dengan Amerika Serikat.(PH)