Kunjungan Pompeo ke Palestina Pendudukan dengan Multi Tujuan
https://parstoday.ir/id/news/world-i81281-kunjungan_pompeo_ke_palestina_pendudukan_dengan_multi_tujuan
Hubungan antara Amerika Serikat dan Zionis Israel telah berkembang secara dramatis selama masa kepresidenan Donald Trump, dan pemerintahan Trump telah mengambil sejumlah posisi dan tindakan yang sejalan dengan tuntutan ilegal rezim Zionis.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
May 13, 2020 11:19 Asia/Jakarta
  • Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS
    Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS

Hubungan antara Amerika Serikat dan Zionis Israel telah berkembang secara dramatis selama masa kepresidenan Donald Trump, dan pemerintahan Trump telah mengambil sejumlah posisi dan tindakan yang sejalan dengan tuntutan ilegal rezim Zionis.

Meskipun ada penyebaran wabah virus Corona yang membatasi perjalanan para pejabat AS, tetapi Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo memulai perjalanan satu hari ke Palestina pendudukan yang diduduki pada hari Rabu (13/05/2020) pagi untuk berbagai keperluan. Kementerian Luar Negeri AS mengatakan tujuan perjalanan Pompeo ke Israel pendudukan ada di tiga bidang; upaya Washington dan Tel Aviv untuk memerangi Covid-19, membahas kegiatan Iran di kawasan, dan keputusan sepihak kabinet pemerintah Zionis untuk mencaplok bagian-bagian Tepi Barat, tetapi Washington tampaknya melakukan upaya serius untuk mendapatkan persetujuan Israel dalam mengejar ketiga tujuan ini.

Mike Pompeo dan Benjamin Netanyahu

Pemerintahan Trump sekarang menghadapi banyak kritik dari media dan Kongres atas ketidakefisienannya dalam berurusan dengan Corona, dan pada tahun pemilihan umum presiden, Donald Trump membutuhkan dukungan dari lobi-lobi Zionis, terutama AIPAC. Dengan pertimbangan ini, Pompeo diharapkan untuk mengambil posisi yang sejalan dengan posisi rezim Zionis dalam masalah ini. Dalam sebuah wawancara sebelum memulai perjalanan ini, ia menekankan bahwa ancaman Iran dan penolakan Tehran untuk memperoleh senjata nuklir adalah salah satu topik utama pertemuannya dengan para pemimpin Israel.

Rezim Zionis selalu menginginkan eskalasi tindakan Amerika Serikat terhadap Iran dan dalam hal ini, para pejabat rezim Zionis berkali-kali, khususnya Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Zionis Israel mengklaim ada upaya sembunyi-sembunyi Iran untuk meraih senjata nuklir dan menekankan perlunya meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menambah sanksi serta pentingnya membatalkan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Pada saat yang sama, sejalan dengan tuntutan Zionis, pemerintah Trump telah mengadopsi kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran, menekankan permusuhan terhadap rakyat Iran dan menuntut diterimanya 12 syarat Pompeo, termasuk penghentian total program nuklir dan misilnya serta perubahan kebijakan regional Iran.

"Trump telah membuat dua hal menjadi jelas. Salah satunya adalah bahwa kampanye tekanan maksimum akan berlangsung selama rezim Iran tidak mematuhi norma-norma internasional, dan yang lainnya adalah bahwa kita tidak akan membiarkan rezim Iran memperoleh senjata nuklir," ungkap Pompeo.

Sekalipun demikian, sikap Iran pada tindakan bermusuhan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis menunjukkan bahwa Tehran bukan hanya menekankan sifat damai dari kegiatan nuklirnya, tetapi juga dengan tegas menentang setiap tindakan bermusuhan yang mengancam keamanan nasional Iran dan akan menunjukkan reaksi yang efektif dan serius.

Masalah lain yang akan dibahas selama kunjungan Pompeo adalah upaya rezim Zionis untuk menganeksasi sebagian besar Tepi Barat ke Palestina pendudukan, yang diklaim Zionis akan dilaksanakan pada musim panas 2020. Mengomentari keputusan rezim Zionis untuk mencaplok lebih banyak wilayah di Tepi Barat, Pompeo mengatakan bahwa akan ada pembicaraan dengan Netanyahu dan Gantz dalam masalah ini, tetapi seperti yang saya katakan di masa lalu, ini adalah keputusan yang akhirnya harus dibuat oleh Israel.

Faktanya, meskipun mengetahui bahwa menurut resolusi PBB, Israel harus menarik diri dari daerah-daerah ini, tetapi bertentangan dengan aturan internasiona, Washington justru mendukung keputusan rezim Zionis.

Nabil Abu Rudeineh, Juru Bicara Mahmoud Abbas, Pemimpin Otorita Palestina

Nabil Abu Rudeineh, Juru Bicara Mahmoud Abbas, Pemimpin Otorita Palestina mengatakan, "Fakta bahwa David Friedman, Duta Besar AS, mengatakan bahwa aneksasi bagian Tepi Barat ke wilayah rezim Zionis adalah keputusan Israel adalah tertolak dan bohong. Karena keputusan ini dibuat berdasarkan Kesepakatan Abad Amerika Serikat dan rencana negara ini melawan Palestina.

Bagi Trump, dukungan untuk aneksasi sepihak Israel sebesar 30 persen dari daerah Tepi Barat ke Zionis Israel, mengingat lampu hijau dalam Kesepakatan Abad kepada Tel Aviv, sejalan dengan sikap sebelumnya dalam mendukung penuh Israel dan pada saat yang sama ia juga akan mendapat jaminan dukungan penuh dari lobi Zionis untuknya dalam pemilihan presiden November 2020.