Sikap Tegas Lavrov Mengecam Upaya AS untuk Memperpanjang Embargo Senjata Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i82160-sikap_tegas_lavrov_mengecam_upaya_as_untuk_memperpanjang_embargo_senjata_iran
Mengingat embargo senjata Iran berakhir di bawah Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB pada 18 Oktober 2020 dan meskipun telah menarik diri dari kesepakatan nuklir JCPOA pada Mei 2018, Amerika Serikat meluncurkan kampanye untuk mencegah pencabutan embargo dengan dalih kesepakatan JCPOA. Di bawah Resolusi 2231 DK-PBB, penjualan tujuh jenis senjata ke Iran, termasuk tank, kendaraan lapis baja, artileri, jet tempur, helikopter, kapal dan rudal, dilarang selama lima tahun.
(last modified 2026-05-05T14:48:19+00:00 )
Jun 10, 2020 05:20 Asia/Jakarta

Mengingat embargo senjata Iran berakhir di bawah Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB pada 18 Oktober 2020 dan meskipun telah menarik diri dari kesepakatan nuklir JCPOA pada Mei 2018, Amerika Serikat meluncurkan kampanye untuk mencegah pencabutan embargo dengan dalih kesepakatan JCPOA. Di bawah Resolusi 2231 DK-PBB, penjualan tujuh jenis senjata ke Iran, termasuk tank, kendaraan lapis baja, artileri, jet tempur, helikopter, kapal dan rudal, dilarang selama lima tahun.

Sebagai anggota kelompok 4 +1, Rusia telah mengambil sikap tegas menentang upaya Washington. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menuduh pemerintah Trump secara politis memotivasi kampanye melawan Iran dan meminta negara-negara di seluruh dunia untuk mengecam usaha Amerika Serikat menekan Dewan Keamanan PBB agar menjatuhkan embargo senjata permanen terhadap Iran.

Sergei Lavrov dan Antonio Guterres

Dalam sepucuk surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres dan anggota Dewan Keamanan, Lavrov mengatakan, "Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan enam kekuatan dunia yang berhasil dicapai pada 2015, dan sekarang tidak memiliki hak hukum untuk menggunakan resolusi PBB dalam menyetujui kesepakatan ini, sehingga dengan cara ini dapat memperpanjang embargo senjata Iran.

Ucapan Lavrov mengacu pada argumen para pejabat pemerintah Trump termasuk Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran. Amerika Serikat sedang berusaha memperpanjang embargo senjata ke Iran dengan menggunakan salah satu klausul di JCPOA, yaitu "mekanisme pemicu" atau (trigger mechanism). 

Sekalipun demikian, karena Amerika Serikat telah menarik diri dari perjanjian ini pada Mei 2018, AS bukan merupakan pihak dalam kemitraan JCPOA dan tidak dapat mengandalkan klausul perjanjian untuk memperpanjang sanksi terhadap Iran.

Namun pemerintah Trump telah membuat klaim aneh bahwa Amerika Serikat tidak melanggar perjanjian dengan menarik diri dari JCPOA, dan masih merupakan salah satu pihak yang terlibat. Pemerintah Trump kemudian berpendapat bahwa karena masih termasuk anggota yang berpartisipasi dalam resolusi 2231 dan nama negaranya masih disebut, dengan dasar ini Amerika Serikat masih memiliki hak hukum yang bersumber dari partisipasi ini.

Di sisi lain, Moskow percaya bahwa tuntutan Washington adalah ilegal dan tidak dapat dibenarkan, dan bahwa pada dasarnya tidak ada ruang untuk membahas masalah ini. Rusia menegaskan bahwa hak selalu sejalan dengan kewajiban, dan bahwa Amerika Serikat secara resmi telah menarik diri dari JCPOA dan tidak pernah berpartisipasi dalam pertemuan Komisi Bersama JCPOA, sehingga pada dasarnya sudah tidak lagi memiliki hak dalam kesepakatan ini apa lagi menuntut kelanjutan implementasi sanksi yang dibahas dalam Resolusi 2231, termasuk embargo senjata.

"Pernyataan pejabat Kementerian Luar Negeri AS bahwa pemerintah Donald Trump tidak ingin memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian nuklir (JCPOA), tetapi bermaksud untuk menggunakan haknya berdasarkan Resolusi 2231, adalah "konyol dan tidak bertanggung jawab," ungkap Lavrov.

Argumen Washington telah dikritik oleh anggota kelompok 4 +1 lainnya, termasuk Cina, dan bahkan pihak-pihak Eropa percaya bahwa Amerika Serikat telah menarik diri dari JCPOA dan karenanya tidak dapat menggunakan mekanisme pemicu. Faktanya, sejauh ini tidak ada anggota kelompok 4 +1 yang memprotes pencabutan embargo senjata Iran, dan mereka menganggap protes dan kekhawatiran AS tidak dapat dibenarkan.

Namun, Washington ingin melanjutkan sanksi terhadap Iran dengan segala cara. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Morgan Ortagus mengklaim bahwa kami akan menggunakan semua cara diplomatik untuk memastikan bahwa embargo senjata Iran diperpanjang.

Rusia telah menekankan perlunya independensi PBB dan pilar keamanannya, Dewan Keamanan, serta tidak berada bawah tekanan AS. Dalam suratnya, Lavrov menekankan bahwa PBB seharusnya tidak disandera dengan situasi politik di Amerika Serikat. Menlu Rusia menjelaskan bahwa JCPOA dan Resolusi 2231 Dewan Keamanan adalah satu paket dan tidak bisa dipisahkan. Menurut Lavrov, "Berdasarkan butir 25 Piagam PBB, Amerika Serikat berkomitmen untuk menegakkan resolusi Dewan Keamanan, bukan untuk merusaknya."

Pernyataan menteri luar negeri Rusia itu penting karena Washington secara sewenang-wenang mengandalkan resolusi Dewan Keamanan dan akan menggunakannya kapan saja sesuai kepentingan nasionalnya. Sebaliknya, Washington akan menolak untuk mematuhi resolusi-resolusi itu bila bertentangan dengan kepentingannya.

Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia

Saat ini, Amerika Serikat sangat ketakutan Iran mampu meningkatkan kekuatan pertahanannya dan bertentangan dengan Resolusi 2231 Dewan Keamanan, Amerika Serikat bersikeras untuk mengangkat masalah ilegal embargo senjata, yaitu perpanjangan embargo senjata Iran. Namun, Amerika Serikat sangat menyadari bahwa permintaan ini sangat sulit mengingat kehadiran Rusia dan Cina di Dewan Keamanan.