Musim Semi, Kitab Makrifat dan Hakikat
یا مقلب القلوب و الابصار یا مدبر الیل و نهار یا محول الحول و الاحوال حول حالنا الی احسن الحال "Wahai Yang membolak-balikkan hati dan pandangan! Wahai pengelola malam dan siang! Wahai Yang mengubah tahun dan kondisi! Ubahlah kondisi kami menjadi yang kondisi yang terbaik!
Nowruz lahir dari nafas segar musim semi serta membawa serta cinta dan keindahan. Dengan datangnya musim semi, hati penuh dengan kebahagiaan dan makrifat. Bersama dengan senyuman alam dan merekahnya bunga-bunga, jiwa manusia juga mengalami perubahan. Sebuah perubahan yang menggeser musim dingin menjadi pemandangan musim semi yang indah dan subur. Proses perubahan tersebut, membantu kita mengingat Allah Swt dan kebesaran-Nya.
Dalam rangka menyesuaikan diri dengan aura yang terpancar daru musim semi, dan dengan langkah-langkah yang teguh dan keimanan kepada Allah Swt, hendaknya kita membersihkan batin kita dari semua kekotoran, sehingga kita dapat mempersiapkan jiwa kita menerima curahan rahmat dari Allah Swt.
Musim semi dan keindahan alamnya adalah pemandangan spektakuler dan cermin kehidupan, yang dengan angen sejuknya memamerkan sebuah hakikat indah di alam penciptaan ini. Ini merupakan manifestasi luar biasa yang memberikan pelajaran teologi bagi manusia untuk mengenal Tuhannya. Allah Yang Maha Kuasa, Yang menurunkan hukum syariat untuk membimbing manusia, menciptakan alam semesta yang menyimpan penuh misteri dan hakikat bagi para pencarinya. Melalui itu semua, manusia akan sampai pada makrifat dan cinta kasih Allah Swt.
Musim semi adalah musim keindahan dan perekahan. Di musim semi, pepohonan menghijau kembali, tumbuh subur dan berbuah, dan proses ini memberiakn keindahan tersendiri pada alam. Keindahan alam musim semi adalah salah satu alasan yang mendorong masyarakat untuk menghabiskan banyak waktu di alam terbuka pada musim semi. Warna-warni, merupakan daya tarik dan keindahan musim semi, dan manusia secara fitrah menyukai musim semi.
Tapi dari perspektif ruhani, musim semi adalah kitab makrifat yang dibuka setiap tahun bagi manusia-manusia bijak dan berwawasan untuk menyaksikan keindahan Sang Kekasih di balik fenomena musim semi serta menyesuaikan diri mereka dengan fenomena musim semi. Peringatan Nowruz di musim semi adalah kesempatan untuk mengingatkan diri kita akan berlalunya usia, dan dengan semangat baru kita mengejar seluruh peluang dalam perjalanan menuju titik akhir hidup kita. Nowruz harus mampu mengingatkan kita betapa berharganya setiap detik dalam hidup kita.
Al-Quran juga menyamakan kehidupan manusia dengan hujan yang turun dari langit, dan setiap tetesannya akan menggeliatkan tanah yang telah siap untuk tumbuh-tumbuhan. Berkat hujan itu tumbuh berbagai tanaman berwarna-warni, bunga, buah dan tangkai-tangkai tumbuh, menjadikan bumi tampil dengan pemandangan kehidupan yang menakjubkan. Manusia dapat dengan bangga melihat fenomena indah ini dan membayangkan taplak besar penuh nikmat ini selalu ada untuknya. Padahal keindahan ini dapat saja hilang seketika.
Musim semi, musim kegairahan, bersama kecerahan wajah alam, perubahan iklim dan pengaruhnya yang menyegarkan, menyimpan banyak pesan bagi manusia yang mencari hakikat. Semuanya tidak mungkin terjadi tanpa program, tujuan dan perencanaan sangat teliti.
Pesan paling penting dari Nowruz dan musim semi sarat pesan makrifat dan makrifat adalah istilah yang sudah jelas bagi setiap Muslim. Yaitu mecapai pada sebuah hakikat sarana cara apapun, termasuk melihat, mendengar dan lain-lain, khususnya melalui perenungan. Ketika Allah Swt berfirman,
وَفِی أَنفُسِکُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Dan sesungguhnya ada pada diri kalian, tanda dan bukti yang jelas tentang makrifat tersebut. Tidakkah manusia dapat melihatnya? Maka Nowruz adalah bab kontemplasi di alam penciptaan. Makrifat itu dapat dilihat dengan mata hati. Mari kita lihat bagaimana bunga-bunga itu perlahan keluar dari tanah dan kuncupnya mulai merekah.
Sejarah bangsa Iran penuh dengan muatan spiritual yang kebanyakan berasal dari agama dan penuh dengan pengertian dan makrifat. Perayaan seremonial Nowruz sebagai tradisi lama dunia juga termasuk warisan spiritual Iran yang tak ternilai. Beragam tradisi kuno dilakukan untuk memperingati tahun baru Iran ini yang meniupkan semangat perdamaian, harapan dan kebahagiaan kepada jutaan manusia di seluruh dunia. Mengingat setiap tahun mendekati musim semi dan sebagai pengantar perubahan alam, warga Iran menyambut hari tahun baru Nowruz dengan sejumlah tradisi.
Tradisi yang dilakukan dalam menyambut tahun baru Nowruz sangat beragam. Sebagiannya terkait dengan hari-hari terakhir menjelang pergantian tahun dan sejatinya merupakan persiapan untuk memasuki tahun baru. Sementara sebagian seremoni lainnya terkait dengan pergantian tahun dan hari-hari pertama di tahun baru. Beberapa hari menjelang pergantian tahun, pasar di kota-kota Iran penuh dengan pembeli yang mencari kebutuhannya mulai dari pakaian baru, perabot rumah tangga dan makanan. Mereka mempersiapkan diri sedemikian rupa untuk menerima tamu dan menjamunya dengan yang terbaik.
Tradisi lain yang biasa dilakukan menjelang akhir tahun adalah kebersihan. Di Iran masalah kebersihan di akhir tahun dikenal dengan istilah Khaneh Takani. Di hari-hari terakhir musim dingin, masyarakat di seluruh Iran berusaha untuk membersihkan rumah dan perabotnya, bahkan tempat-tempat umum seperti jalanan dan gang-gang pun dibersihkan mereka. Sejatinya, Khaneh Takani adalah upaya untuk menghilangkan kotoran dari lingkungan rumah dan kota di akhir tahun. Ini merupakan simbol menghilangkan kegelapan dan usia rumah yang tua dengan lingkungan yang bersih dan sehat demi menyambut cahaya tahun baru.
Hal ini diperkuat dengan ajaran Islam yang menekankan soal kebersihan. Bahkan Nabi Muhammad Saw dalam hadisnya menyebut kebersihan itu merupakan bagian dari iman. Di akhir tahun, biasanya tradisi Khaneh Tekani dan kebersihan rumah dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Setiap anggota keluarga melakukan tanggung jawabnya sesuai dengan kemampuannya.
Mempersiapkan makanan dan kue-kue untuk menyambut tahun baru Nowruz merupakan tradisi lainnya rakyat Iran. Sebagian kawasan di Iran, ibu-ibu di sana memasak dan membuat kue bersama-sama. Biasanya kue-kue produksi rumah dibuat dengan ketrampilan khusus dan kualitasnya dapat dibanggakan. Tapi di sebagian besar daerah di Iran menyambut tahun baru dengan membuat makanan khusus bernama Samanu yang menyerupai dodol. Samanu merupakan satu dari Haft Sin (tujuh benda yang diawali dengan huruf sin). Samanu dimasak dengan cara khusus dan bahan dasarnya adalah kecambah gandum. Keluarga Iran biasanya memasak Samanu di malam sebelum tahun baru.
Saat pergantian tahun anggota keluarga bersama-sama mengucapkan doa khusus pergantian tahun. “Ya Muqallibal Qulub wal Abshar, Ya Mudabbiral Lail wan Nahar, Ya Muhawwilal Haul wal Ahwal, Hawwil Halana Ila Ahsanil Hal.” Wahai yang membalikkan hati dan pandangan. Wahai yang mengatur malam dan siang. Wahai yang memutar tahun dan keadaan. Jadikan kami dalam keadaan yang terbaik! Setelah itu ada yang membaca ayat-ayat al-Quran. Biasanya setelah pergantian tahun, orang tua memberikan hadiah hari tahun baru kepada anggota keluarga. Kemudian semua bergabung untuk memakan kue-kue yang dihidangkan dan saling mengucapkan selamat tahun baru Nowruz.
Perlu diketahui, sesuai dengan keyakinannya, keluarga Iran biasanya menyambut saat-saat pergantian tahun di tempat ziarah. Mereka melakukannya di sana untuk mendapatkan siraman spiritual. Kehadiran mereka di tempat-tempat spiritual seperti ini dapat memberikan cahaya dan kesan tersendiri dalam menyambut pergantian tahun. Khususnya di makam suci Imam Ridha as di kota Mashad, begitu juga di makam Hazrat Masomeh di kota Qom dan makam Ahmad bin Musa di kota Shiraz.
Setiap tahun setelah menyambut pergantian tahun ada tradisi saling menyambangi dan silaturahmi. Tradisi silaturahmi merupakan tradisi paling indah di tahun baru. Setiap keluarga saling bersilaturahmi sambil membawakan hadiah yang membuat kerabat yang berjauhan semakin dekat atau tetangga yang tidak kenal menjadi kenal. Setiap orang tua dalam budaya Iran memiliki posisi khusus dalam sebuah keluarga, biasanya yang lebih muda memiliki kewajiban untuk bersilaturahmi kepada orang yang lebih tua.
Biasanya, setiap kunjungan yang dilakukan satu keluarga akan berbalas kunjungan dari yang lainnya. Di hari-hari pertama tahun baru biasanya terjadi pengulangan silaturahmi antara keluarga dan teman. Pertemuan ini mendatangkan kebahagiaan tersendiri, setelah lama tidak bertemu. Mereka yang bersilaturahmi berusaha untuk mengikis kebencian dan permusuhan di hatinya lalu mengisinya dengan kasih sayang dan cinta. Bila dalam satu keluarga ada yang telah meninggal, biasanya di hari tahun baru Nowruz, keluarga atau temannya mengucapkan bela sungkawa kepada tuan rumah dan berdoa meminta pengampunan bagi yang meninggal.
Banyak juga warga Iran yang melakukan perjalanan ke daerah lain untuk merasakan suasana yang lain. Oleh karenanya, di hari-hari pertama musim semi dimanfaatkan oleh masyarakat Iran untuk melakukan perjalanan ke daerah lain. Itulah mengapa di setiap tahun baru kondisi jalan-jalan di luar kota Iran sangat padat. Akhirnya pada 13 Farvardin dalam tradisi Nowruz, mayoritas keluarga Iran mengakhiri seremoni Nowruz dengan keluar rumah, bersatu dengan alam dan menikmati keindahan alam di musim semi.