Lintasan Sejarah 1 November 2021
Hari ini Senin, 1 November 2021 bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1443 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 10 Aban 1400 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Ali bin Husein Bagdadi Meninggal
1007 tahun yang lalu, tanggal 25 Rabiul Awal 436 HQ, Ali bin Husein yang terkenal dengan nama Sayid Murtadha, seorang ulama besar muslim, meninggal dunia.
Sayid Murtadha juga dijuluki sebagai Alamul Huda, karena ketinggian ilmunya. Beliau lahir tahun 355 Hijriah di Bagdad dan sejak muda mulai menuntut berbagai ilmu dari berbagai ulama besar, di antaranya Syeikh Mufid dan Khatib Bagdadi. Sayid Murtadha kemudian diangkat sebagai hakim dan mengemban tugas ini selama 30 tahun.
Beliau juga mendirikan sebuah perpustakaan besar yang dimanfaatkan oleh para pelajar di kota Bagdad. Selain itu, Sayid Murtadha juga menulis berbagai kitab, yang menurut sejarawan mencapai 66 jilid. Di antara karya beliau berjudul Tanziihul Anbiyaa dan Taqriibul Ushul. Beliau juga meninggalkan sebuah kumpulan syair yang terdiri dari 20.000 bait.
Permulaan Perang Kemerdekaan Aljazair
67 tahun yang lalu, tanggal 1 November 1954, dengan didirikannya Gerakan Pembebasan Aljazair oleh Ahmed Ben Bella, perang kemerdekaan negara ini pun dimulai.
Aljazair pada awal abad ke-20 secara penuh dijajah oleh Perancis dan selama itu perjuangan bangsa Aljazair bersifat sporadis. Akhirnya, setelah 132 tahun dijajah oleh Perancis, Aljazair berhasil meraih kemerdekannya pada tahun 1962 dan Ben Bella menjadi presiden.
Namun, pemerintahan Ben Bella tidak berlangsung lama karena pada tahun 1965, ia digulingkan oleh Menteri Pertahanannya sendiri, Kolonel Boumedienne.
Ayatullah Ali Qazi Thabathabai Gugur
42 tahun yang lalu, tanggal 10 Aban 1358 HS, Ayatullah Sayid Mohammad Ali Qazi Thabathabai, seorang ruhaniwan Iran terkemuka, gugur syahid akibat teror kelompok Furqan.
Beliau dilahirkan pada tahun 1292 HS di kota Tabriz di barat laut Iran. Beliau memulai pendidikan dasar agamanya di bawah bimbingan ayahnya sendiri dan kemudian melanjutkan menuntut ilmu di hauzah-hauzah ilmiah terkemuka dan menjadi murid ulama-ulama besar saat itu, di antaranya Imam Khomeini.
Akibat aktivitas perjuangannya melawan rezim despotik Shah Pahlevi, Ayatullah Thabathabai berkali-kali dipenjara dan diasingkan. Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Thabathabai ditunjuk Imam Khomeini sebagai imam Jumat di kota Tabriz.