Jun 04, 2016 15:17 Asia/Jakarta

Hari ini, Sabtu tanggal 4 Juni 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Sya'ban 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 15 Khordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Ibnu Hajib Wafat

 

807 tahun yang lalu, tanggal 28 Sya'ban 630 hijriah, Ibnu Hajib, seorang ahli hadis dan sejarawan Islam meninggal dunia.

 

Ibnu Hajib dilahirkan pada tahun 593 Hijriah di Damaskus. Untuk menuntut ilmu-ilmu hadis, Ibnu Hajib melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk belajar dari ulama-ulama besar pada masa itu. Ibnu Hajib meninggalkan tiga karya yang dicetak dan dua karya lagi yang ditulis tangan.

 

Mulla Hosseinqoli Hamedani Wafat

 

126 tahun yang lalu, tanggal 28 Sya’ban 1311 Hq, Mulla Hosseinqoli Hamedani seorang arif besar Iran meninggal dunia dan dimakamkan di Karbala.

 

Akhond Mulla Hosseinqoli Hamedani, seorang arif, faqih dan filsuf. Beliau lahir di kota Shavand, Hamedan.

 

Akhond Mulla Hosseinqoli juga dikenal sebagai guru besar akhlak. Beliau pernah berguru kepada Syaikh Abdolhossein Tehrani (Sheikh al-Iraqiain, Syeikh Murtadha Anshari dan Agha Sayid Ali Shoshtari.

 

Akhond Mulla Hosseinqoli Hamedani juga banyak mendidik murid-murid yang dikemudian hari menjadi ulama besar seperti Sheikh Mohammad Bahari, Sayid Ahmad Karbalai, Sheikh Musa Syarareh, Sayid Mahdi Hakim, Mirza Javad Agha Maleki Tabrizi dan Sayid Jamaluddin al-Afghani.

 

Menurut Syahid Muthahhari, Akhond Hamedani lebih banyak mendidik, ketimbang mengajar.

 

Penangkapan Imam Khomeini ra dan Demonstrasi Rakyat Iran

 

53 tahun yang lalu, tanggal 15 Khordad 1342 Hs, rezim Shah Pahlevi menangkap Imam Khomeini ra yang berujung pada kemarahan rakyat dan Shah dengan bantuan Amerika membantai rakyat Iran. Pada hari itu dikenal sebagai kebangkitan rakyat Iran menentang Shah.

 

Menyusul diusulkannya draf negara federal di Majlis Dewan Nasional pada 1341 Hs, Imam Khomeini ra memulai perjuangannya melawan rezim despotik Shah Pahlevi. Puncak perjuangan ini terjadi ketika pasukan rezim Pahlevi pada 2 Farvardin 1342 Hs menyerang Madrasah Feizieh, Qom yang mengakibatkan para pelajar agama dan ulama yang berada di sana cedera dan gugur syahid. Mereaksi perbuatan terkutuk rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra pada hari Asyura tahun 1342 Hs menyampaikan pidato historis menentang rezim Shah Pahlevi dan Israel.

 

Akibat pidato yang membongkar konspirasi rezim Shah dan Israel, pasukan keamanan rezim menahan Imam Khomeini ra. Berita penahanan Imam Khomeini ra oleh pasukan Shah, dengan cepat menyebar di Qom, Tehran dan setelah itu di daerah-daerah lainnya. Melihat kemarahan rakyat atas penahanan Imam, Shah kemudian dengan bantuan Amerika pada 15 Khordad 1342 HS membantai rakyat Qom, Tehran, Shiraz, Mashad, Tabriz dan daerah-daerah lainnya.

 

Tidak ada angka yang pasti mengenai berapa jumlah sebenarnya warga yang syahid akibat pembantaian itu, tapi diperkirakan antara 5 hingga 15 ribu orang. Selain diterapkan sensor berita yang ketat, tapi berita mengenai penahanan Imam Khomeini ra dan kebangkitan 15 Khordad dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru negeri dan membangkitkan gelombang kemarahan rakyat terhadap Shah Pahlevi.

 

Akhirnya, setelah ditahan selama 10 bulan, Imam Khomeini ra dibebaskan pada 18 Farvardin 1343 Hs dan dengan kebebasan itu, Imam kembali melanjutkan perjuangannya melawan rezim Shah. Kebangkitan 15 Khordad merupakan titik perubahan dalam sejarah perjuangan bangsa Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra.

 

Pembantaian Tiananmen

 

27 tahun yang lalu, tanggal 4 Juni 1989, ratusan penduduk sipil ditembak mati tentara Cina ketika operasi militer berdarah untuk menangani demonstrasi di Lapangan Tiananmen, Beijing.

 

Para demonstran yang sebagian besar mahasiswa sudah berada di lapangan selama tujuh minggu. Mereka menolak pindah kecuali ada reformasi demokrasi. Serangan datang setelah pemerintah gagal membujuk para demonstran. Pemerintah China kemudian memperingatkan akan melakukan tindakan apa pun yang dirasa perlu untuk menangani apa yang mereka namakan 'kekacauan sosial'. Walau sudah banyak diprediksi muncul, tingkat kekerasan di lapangan berubah menjadi sebuah kekejaman. Hal itulah yang kemudian dikutuk seluruh dunia.


Di tengah kepanikan dan kebingungan yang melanda, terdengar teriakan para mahasiswa untuk menjatuhkan pemerintah yang fasis dan menghentikan pembunuhan. Di sebuah rumah sakit anak, ruangan dipenuhi korban-korban tembakan. Kebanyakan ialah penduduk setempat yang tidak ikut ambil bagian di dalam demonstrasi. Sementara itu, muncul laporan yang menceritakan tentara menggeledah kampus-kampus di Beijing untuk mencari ketua-ketua kelompok sembari memukuli dan bahkan membunuh mereka yang diduga terlibat dalam koordinasi demonstrasi tersebut.