Lintasan Sejarah 6 Juni 2016
Hari ini, Senin tanggal 6 Juni 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 30 Sya'ban 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 17 Khordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Muhammad Syahrastani Wafat
889 tahun yang lalu, tanggal 30 Syaban 548 Hq, Muhammad bin Abdul Karim Syahrastani, faqih dan ulama terkenal abad ke-6 hijriah meninggal dunia.
Muhammad Syahrastani lahir pada tahun 467 Hq dan mempelajari ilmu fiqih, teologi dan hadis dari Abu Nashr Qusyairi dan sejumlah ulama lainnya.
Pada tahun 510 Hq, Muhammad Syahrastani pergi ke kota Baghdad dan mengajar ilmu-ilmu agama di sana. Beliau juga dikenal dengan kemampuannya berpidato dan tempat mengajarnya senantiasa dipenuhi oleh murid. Beliau juga memiliki kemampuan hapalan yang luar biasa dan diakui sebagai pemikir hebat di bidang filsafat.
Beliau meninggalkan sejumlah karya tulis seperti al-Mabda wa al-Ma'ad, al-Manahij wa al-Bayan, dan al-Milal wa al-Nijal. Bukunya al-Milal wa al-Nihal berkali-kali diterbitkan dalam pelbagai bahasa dunia yang memuat ringkasan keyakinan para filsuf dan mazhab-mazhab Islam.
Alexander Pushkin Lahir
217 tahun yang lalu, tanggal 6 Juni tahun 1799, Alexander Pushkin, seorang sastrawan era pra-Revolusi Bolshevik, terlahir ke dunia.
Pushkin telah mulai menulis puisi pada usia 15 tahun dan ketika ia lulus sekolah, ia dianggap sebagai salah satu sastrawan muda terkemuka saat itu. Karya-karya Pushkin banyak menyuarakan kebebasan sehingga ia sempat dijatuhi hukuman pengasingan oleh Tzar Rusia.
Pushkin dianggap sebagai pelopor drama Rusia. Dalam karya drama pertamanya berjudul Boris Godunov , Pushkin memulai beberapa gaya baru, yaitu menggunakan latar belakang sejarah Rusia dan karakter-karakter yang asli Rusia. Umumnya pada zaman itu, drama-drama ditulis dengan meniru gaya Perancis atau Jerman. Pushkin meninggal dunia pada usia 38 tahun.
Konstitusi Baru Swedia Disahkan
207 tahun yang lalu, tanggal 6 Juni tahun 1809, konstitusi Swedia disahkan dan peristiwa ini hingga kini dirayakan rakyat Swedia sebagai hari konstitusi.
Swedia awalnya merupakan negara dengan sistem pemerintahan monarkhi absolut. Setelah kematian raja Karl XII dan kekalahan Swedia dalam Perang Utara, parlemen negara ini menjadi kuat dan disahkanlah sebuah konstitusi yang menghilangkan absolutisme kerajaan dan memberikan kekuasaan kepada Parlemen. Namun Raja Gustav III melalui kudeta damai tahun 1772, mengurangi kekuasaan Parlemen dan mengembalikan bentuk monarki absolut.
Pengganti raja Gustav III, yaitu Raja Gustav IV pada tahun 1809 dikudeta dan disahkanlah UUD baru Swedia yang mengadopsi pemisahan kekuasaan model Montesqiu, yaitu pemisahan kekuasaan legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Hingga kini Swedia tetap berbentuk kerajaan, namun pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri.
Pesan Imam Khomeini Pasca Invasi Israel ke Lebanon
34 tahun yang lalu, tanggal 17 Khordad 1361 Hs, Imam Khomeini ra mengirim pesan bela sungkawa kepada bangsa, Iran, Lebanon dan seluruh umat Islam dan kecaman atas serangan Israel ke Lebanon.
Ketika operasi-operasi militer para pejuang Palestina terhadap rezim Zionis Israel semakin meningkat dan dalam kondisi saat Lebanon akan menyelenggarakan pemilu presiden, militer Zionis Israel mempersiapkan mesin-mesin perangnya untuk menyerang Lebanon Selatan. Tujuan penyerangan ini untuk melenyapkan persenjataan para pejuang Palestina di Lebanon dan mencegah terpilihnya presiden Lebanon yang membela perjuangan Palestina.
Untuk itu pada 16 Khordad 1361 Hs, jet-jet tempur Zionis Israel mengebom posisi-posisi para pejuang Palestina dan militer Israel yang berhasil melewati perbatasan Lebanon mulai memasuki kawasan selatan negara ini. Sekalipun Lebanon adalah negara Arab dan Islam, tapi tidak ada reaksi dari negara-negara Arab-Islam di kawasan.
Sementara itu, Iran yang baru saja berhasil membebaskan kota Khorramshahr dari cengkeraman tentara Saddam dan masih berada di bawah serangan hebat pesawat-pesawat tempur Irak, Imam Khomeini ra mengeluarkan pesan kepada bangsa Iran, Lebanon dan seluruh umat Islam di dunia pada 17 Khordad 1361 Hs yang isinya menyatakan kesedihan yang mendalam dan menyayangkan sikap negara-negara Islam yang diam menyaksikan agresi itu.
Dalam pesannya itu, Imam Khomeini ra memulai dengan ayat al-Quran, "Innaa Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji'uun". Ucapan ini tidak ditujukan atas kejahatan Zionis Israel, bukan untuk korban yang berjatuhan, tidak untuk ribuan pengungsi Palestina dan bukan pula untuk warga Iran yang gugur syahid akibat pengeboman jet-jet tempur rezim Baath Irak, tapi ungkapan ini ditujukan kepada sikap diam negara-negara Islam. Menurut Imam, semestinya mereka tidak diam saja menyaksikan agresi Zionis Israel.