Aug 29, 2022 09:41 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 29 Agustus 2022

Hari ini Senin, 29 Agustus 2022 bertepatan dengan 1 Safar 1444 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 7 Shahrivar 1401 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.

Perang Shiffin Meletus

 

1407 tahun yang lalu, tanggal 1 Shafar 37 HQ, Perang Shiffin meletus.

 

Perang ini terjadi antara pasukan Imam Ali as melawan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, rakyat Madinah membaiat Imam Ali as dan mengangkat beliau sebagai khalifah. Namun, Muawiyah, seorang Gubernur di Damaskus, menolak menerima kepemimpinan Imam Ali dan melakukan perlawanan bersenjata.

 

Awalnya, Imam Ali berusaha melakukan perundingan demi mencegah pertumpahan darah di antara sesama muslim. Namun Muawiyah tetap membangkang dan pecahlah perang di sebuah daerah bernama Shiffin di tepi sungai Furat, Irak. Ketika pasukan Imam Ali hampir mencapai kemenangan, penasehat Muawiyah bernama Amr bin Ash memerintahkan pasukannya agar menancapkan al-Quran di tombak mereka dan menyerukan gencatan senjata atas nama al-Quran.

 

Imam Ali yang memahami tipuan ini memerintahkan pasukannya agar terus bertempur, namun sebagian kelompok menolak. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij. Atas desakan kelompok Khawarij pula, perang dihentikan dan diadakan perundingan antara kedua pihak. Dalam perundingan ini, delegasi Muawiyah melakukan tipuan. Akibatnya, kekhalifahan kaum muslimin direbut dari tangan Imam Ali dan jatuh ke tangan Muawiyah.

 

Ayatullah Marashi Najafi Wafat

 

32 tahun yang lalu, tanggal 7 Shahrivar 1369 HS, Ayatullah Marashi Najafi meninggal dunia di usia 96 tahun dan dikuburkan di jalan masuk perpustakaan yang dibangunnya.

 

Ayatullah Sayid Shihab ad-Din bin Sayid Mahmoud bin Sayid al-Hukama Tabrizi Marashi Najafi lahir di kota suci Najaf, Irak pada 1276 HS. Ayahnya adalah seorang ahli hukum dihormati yang mengajar di hauzah Najaf, dan itu di bawah bimbingan ayahnya, beliau mulai pendidikan agamanya. Dia kemudian pergi ke Samarra dan Kazhimiah untuk pendidikan tinggi.

 

Setelah itu beliau pindah ke Mashad, sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke kota Qom dan menyelesaikan pendidikan agama tingkat mujtahid di bawah bimbingan Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi. Selain teologi dan fiqih, beliau juga belajar matematika, astronomi, dan obat-obatan dari berbagai macam ahli.

 

Di Qom, beliau menjadi ulama terkemuka dan mulai memberikan kuliah-kuliah agama dan diakui sebagai marji dari sejumlah ulama besar lainnya. Beliau mengabdikan usianya selama 70 tahun untuk mengajar dan mendidik ulama besar lainnya seperti Syahid Murtadha Muthahhari, Ayatullah Ibrahim Amini, Sheikh Hossein Mazhahiri, Sayid Ali Qazi Thathabai, dan Sayid Murtadha Askari.

 

Beliau juga meninggalkan sebuah perpustakaan besar di kota Qom yang memiliki khazanah kitab yang cukup besar. Perpustakaan ini termasuk ketiga terbesar di Dunia Islam dan saat ini memiliki sekitar 250 ribu kitab dan 2500 manuskrip.

 

Terkait alasan beliau mengumpulkan kitab dan pendirian perpustakaan tersebut, Ayatullah Marashi mengatakan, "Aku melintasi pasar di kota Najaf dan menyaksikan para santri kerap memasuki sebuah toko buku. Kemudian aku bertanya, apa sebenarnya yang tengah terjadi. Mereka mengatakan, ulama yang telah meninggal dunia, karya-karyanya diobral di toko ini. Aku masuk ke toko tersebut dan aku saksikan sekelompok orang berkumpul serta terdapat seseorang yang menjajakan buku dengan cara diobral. Kemudian orang-orang di sekitarnya mulai menawar harga, dari mulai yang terendah hingga tertinggi. Siapa yang mampu menawar dengan harga tertinggi maka ia akan memiliki buku tersebut.

 

Di majlis tersebut, terdapat seorang Arab yang duduk di pojok, di tangannya tergenggam kantong uang dan ia yang senantiasa memberikan tawaran tertinggi dan tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk membeli kitab. Kemudian aku menyadari bahwa orang tersebut bernama Kazim dan orang suruhan konsulat Inggris di Baghdad. Selama sepekan Kazim sibuk membeli buku dan di hari Jumat ia mengangkut buku tersebut ke Baghdad dan menyerahkannya ke Inggris.

 

Setelah menyaksikan peristiwa tersebut, Ayatullah Marashi berusaha mencegah dibawa kaburnya buku dan kitab karya ulama Islam ke Barat, khususnya yang masih berbentuk manuskrip. Oleh karena itu, selanjutnya Ayatullah Marashi bertekad untuk mengumpulkan kitab dan mendirikan perpustakaan. Beliau rela bekerja keras usai mengajar dan belajar serta menerima shalat dan puasa ijarah demi melaksanakan cita-citanya tersebut. Pengorbanan beliau tidak hanya sampai di sini, ulama besar ini pun rela mengurangi jatah makanannya hanya untuk membeli buku.

 

Selain itu, mengingat penghasilannya yang tidak mencukupi kehidupan beliau, Ayatullah Marashi tidak sempat menunaikan ibadah haji selama hidupnya. Namun demikian beliau berhasil menulis 148 kitab dan makalah ilmiah selama hidupnya.

 

Ayatullah Muhammad Baqir Al-Hakim Syahid

 

19 tahun yang lalu, tanggal 29 Augustus 2003, Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim,ulama dan pejuang yang terkenal gugur syahid selepas berlangsungnya shalat Jumat di sekitar makam Imam Ali as di kota suci Najaf akibat ledakan sebuah bom.

 

Bersamaan dengan itu 83 warga tak berdosa turut gugur syahid dan puluhan lainnya cidera.

 

Ayatullah Baqir al-Hakim lahir dalam sebuah keluarga pejuang dan ahli ilmu pada tahun 1939. Dia banyak memperoleh ilmu terutama dari ayah beliau Ayatullah Muhsin al-Hakim dan secara gradual turut serta dalam perjuangan melawan rezim despotik Saddam di Irak. Namun akibat kerasnya tekanan dan penumpasan yang dilakukan oleh Rezim ini, Ayatullah Muhammad Baqir Hakim memilih untuk berjuang dari luar negeri yaitu di Iran.

 

Pada tahun 1981 bersama dengan kumpulan dan rekan-rekan seperjuangannya, ia mendirikan Dewan Tinggi Revolusi Islam Irak. Selama 19 tahun beliau memimpin dewan tersebut, kelompok ini telah memberikan pukulan keras kepada rezim Saddam.

 

Ketika Amerika dan Inggris menumbangkan rezim Saddam pada bulan April 2003, Ayatullah Hakim kembali ke Irak. Tetapi musuh-musuh Ayatullah Hakim yang menganggap beliau sebagai halangan konspirasi jahat mereka berusaha mencari peluang untuk menerornya. Selain dikenal sebagai pejuang, Syahid Muhammad Baqir Hakim telah meninggalkan 40 buku dan puluhan artikel.