Lintasan Sejarah 3 Oktober 2016
Hari ini, Senin tanggal 3 Oktober 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 1 Muharam 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 12 Mehr 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
1 Muharam, Awal Tahun Baru Hijriah Qamariah
Tanggal 1 Muharam diperingati sebagai awal tahun baru Hijriah Qamariah.
Penanggalan Hijriah Qamariah dilakukan berdasarkan perputaran bulan mengelilingi bumi dan digunakan oleh umat Islam di banyak negara Islam sebagai tanggalan Islam. Sesuai dengan penanggalan ini, umat Islam menentukan kewajiban Islamnya seperti berpuasa, haji dan bulan-bulan haram.
Kalender Hijriah Qamariah disusun dan ditetapkan di masa kekhalifahan Umar bin Khatthab lewat rekomendasi Ali bin Abi Thalib as dengan menjadikan hijrah Nabi Saw sebagai awal penanggalan.
Sebelum kalender Masehi resmi digunakan di banyak negara-negara Islam dan begitupula penggunaan Hijriah Syamsiah di Iran dan Afghanistan, penanggalan Hijriah Qamariah menjadi penanggalan resmi di negara-negara Islam. Bahkan pelbagai peristiwa yang terjadi dicatat dengan penanggalan Hijriah Qamariah.
Awal penanggalan Hijriah Qamariah sama dengan Hijriah Syamsiah ditetapkan sesuai dengan hijrah Nabi Saw dari Mekah ke Madinah pada 622 Masehi. Awal hijrah Nabi Saw dari Mekah pada hari Senin, 1 Rabiul Awal yang bertepatan dengan 16 September 622. Sementara Nabi Saw tiba di Madinah pada 8 Rabiul Awal di tahun yang sama.
Penanggalan pertama Hijriah Qamarian jatuh pada hari Jumat, 1 Muharram tahun pertama Hijriah Qamariah yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 622.
Irak Merdeka
84 tahun yang lalu, tanggal 3 Oktober 1932, Irak memproklamasikan kemerdekaannya dari Inggris.
Irak memiliki peradaban kuno, yaitu Assyria dan Akkad. Mulai tahun 539 sebelum Masehi, Irak menjadi bagian dari imperium Iran sampai kedatangan pasukan muslimin ke wilayah Irak pada tahun 642.
Irak kemudian berada di bawah pemerintahan Dinasti Bani Umayah dan ketika Dinasti Abasiah berkuasa, kota Baghdad dijadikan ibu kota kekhalifahan Islam. Sejak pertengahan abad ke-10, Irak berada di bawah kekuasaan Iran hingga direbut oleh pemerintah Utsmani.
Menyusul kekalahan Ottoman pada Perang Dunia Pertama, Irak diserahkan kepada Inggris. Rakyat Irak dengan dipimpin para ruhaniwan melakukan perlawanan keras terhadap Ingris, sampai akhirnya Inggris terpaksa mengakui kemerdekaan Irak pada tahun 1932.
Ditekan Rezim Baath Irak, Imam Khomeini Pindah ke Kuwait
38 tahun yang lalu, tanggal 12 Mehr 1357 Hs, Imam Khomeini pindah ke Kuwait akibat ditekan rezim Baath Irak.
Setelah diasingkan ke Najaf, Irak Imam Khomeini tetap meneriakkan dengan lantang kebenaran dan perjuangannya melawan kezaliman rezim Pahlevi lewat pidato dan pesan tertulis ke Iran. Imam memanfaatkan dua cara ini untuk mengungkap kebobrokan rezim Pahlevi.
Di Hauzah Ilmiah Najaf sendiri Imam Khomeini mengajar filsafat politik tentang pemerintahan Islam dengan tema Wilayah Faqih bersamaan dengan mata kuliah fiqih dan ushul fiqih. Beliau mendidik dan membimbing banyak murid selama di sana. Hasil dari aktvitas beliau di Najaf adalah semakin tercerahkannya seluruh kalangan masyarakat. Dari sini, rezim Pahlevi mengirim delegasi khusus ke Baghdad untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat negara ini. Tujuan mereka meminta pemerintah Irak membatasi gerak-gerik Imam Khomeini ra.
Rezim Baath Irak menerima permintaan itu dan pada 2 Mehr 1357 HS, rumah beliau dikepung oleh pasukan keamanan dan segala aktivitas dikontrol oleh mereka. Setelah membatasi gerak-gerik beliau, Imam Khomeini bermaksud meninggalkan negara ini menuju Kuwait. Tapi negara Kuwait berusaha mencegah masuknya Imam ke negara mereka dengan alasan berusaha mempertahankan hubungannya dengan rezim Shah Pahlevi. Dengan demikian, pada 12 Mehr 1357 HS, setelah berhenti sebentar perbatasan Basrah, beliau kemudian mengalihkan perjalanannya ke Baghdad dan sehari setelahnya Imam berangkat ke Paris.
Masjidul Haram Dikuasai Kelompok Bersenjata
38 tahun yang lalu, tanggal 1 Muharam tahun 1400 Hq, sekitar 300 orang bersenjata menguasai Masjidul Haram sebagai simbol perlawanan mereka terhadap Keluarga Kerajaan Saudi yang berkuasa. Aksi bersenjata ini dipimpin oleh Jahiman al-Utaiba.
Penguasaan atas Masjidul Haram ini berlangsung selama dua minggu. Akhirnya, setelah mendapatkan bantuan dari tentara Perancis, dengan menggunakan berbagai senjata berat, tentara Arab Saudi berhasil mengusir pasukan al-Utaiba dan menguasai kembali Masjidul Haram.
Selama bentrokan berlangsung, Masjidul Haram bersimbah darah akibat terbunuhnya 244 orang dari kedua belah pihak. Satu bulan setengah kemudian, 36 sisa pasukan al-Utaiba berhasil ditangkap dan dihukum mati sehingga pemberontakan tersebut betul-betul padam.