Lintasan Sejarah 25 Oktober 2015
Hari ini, Selasa tanggal 25 Oktober 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 23 Muharam 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 4 Aban 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Allamah Mulla Mahdi Naraqi Wafat
229 tahun yang lalu, tanggal 23 Muharam 1209 Hq, Allamah Mulla Mahdi Naraqi, seorang cendikiawan besar muslim, meninggal dunia.
Mulla Mahdi Naraqi menyelesaikan pendidikan dasarnya di Iran dan kemudian melanjutkan menuntut ilmu di kota Najaf, Irak.
Setelah berhasil menguasai berbagai bidang ilmu agama, Allamah Naraqi mengabdikan diri di bidang pengajaran, penelitian, dan penulisan buku. Karya Allamah Naraqi yang terpenting berjudul "Jami'us-Saadat" yang berisi pembahasan masalah akhlak. Karya beliau lainnya berjudul "Aniisul Muwahhidin" yang berisi masalah ushuluddin.
Kaum Komunis Meraih Kekuasaan di Rusia
99 tahun yang lalu, tanggal 25 Oktober 1917, kaum komunis di Rusia meraih kekuasaannya. Rakyat Rusia selama bertahun-tahun berjuang melawan para kaisarnya yang kejam dan despotik.
Secara bertahap, perjuangan ini meluas hingga ke kalangan miskin Rusia, seperti buruh dan penduduk desa. Akhirnya, kelompok komunis dengan menduduki pusat-pusat dan lembaga-lembaga pemerintah, berhasil meraih kekuasaannya.
Pada akhir tahun 1980-an, pemerintahan komunis bubar setelah tujuh dekade berkuasa di Uni Soviet. Negara-negara yang selama ini bergabung dengan Soviet dan berada di bawah kontrol pemerintah pusat di Rusia, satu persatu memisahkan diri dan mengumumkan kemerdekaannya.
Pidato Historis Imam Khomeini ra Mengungkap UU Kapitulasi
53 tahun yang lalu, tanggal 4 Aban 1342 Hs, Imam Khomeini ra menyampaikan pidato historisnya mengungkap undang-undang Kapitulasi.
Setelah pemerintah dan parlemen Iran meratifikasi undang-undang Kapitulasi pada bulan Mehr 1342, ternyata undang-undang ini tidak dipublikasikan lewat media-media. Namun beberapa waktu setelah itu, koran internal parlemen yang berisikan teks lengkap pidato, dialog para anggota parlemen dan kepala negara sampai ke tangan Imam Khomeini ra. Imam memutuskan untuk menyampaikan hakikat yang ada ini kepada masyarakat agar mereka mengetahui tragedi besar yang telah terjadi.
Imam Khomeini ra baru beberapa bulan dibebaskan dari penjara rezim Shah Pahlevi. Namun hal itu tidak menyurutkan niat beliau mengungkapkan apa yang terjadi. Imam menyampaikan pidato historisnya dengan memrotes keras ratifikasi undang-undang Kapitulasi atau pemberian kekebalan hukum kepada warga Amerika yang tinggal di Iran.
Pernyataan penting Imam dalam pidatonya pada 4 Aban 1342 HS di depan para rohaniwan dan rakyat Qom pada hakikatnya merupakan pengadilan terhadap pemerintah Amerika atas campur tangan mereka dalam urusan dalam negeri Iran, sekaligus mengungkap kejahatan Shah Pahlevi terhadap Islam dan bangsa Iran. Imam Khomeini juga mengutuk rezim Zionis Israel dan dukungan Amerika terhadapnya.
Imam Khomeini ra dalam pengumuman yang disebarkan ke seluruh penjuru Iran menyatakan ratifikasi Kapitulasi bertentangan dengan Islam dan al-Quran dan sikap ini sama dengan mengakui Iran dijajah Amerika.
Pidato Imam Khomeini dan pernyataan kerasnya diliput luas media, sehingga rezim Shah Pahlevi kembali diprotes rakyat Iran. Rezim Shah tidak menyangka bakal mendapat protes sehebat ini. Karena gerakan protes ini berubah menjadi protes umum yang terjadi di seluruh negeri. Melihat kenyataan ini, rezim Shah Pahlevi mulai menerapkan aturan baru yang membatasi gerak-gerik Imam Khomeini ra. Beberapa hari setelah itu, tepatnya tanggal 13 Aban 1342 (4 November 1963) beliau ditahan dan diasingkan ke Turki.
Periode ini sangat penting dalam sejarah kebangkitan Islam di Iran. Karena perlawanan terhadap rezim despotik Shah Pahlevi berubah menjadi revolusi melawan arogansi internasional.
Peledakan Haram Imam Hadi dan Askari as di Samarra
11 tahun yang lalu, tanggal 23 Muharam 1427 Hq (22 Februari 2006) tentara pendudukan asing dan para teroris yang menjadi boneka mereka meledakkan kubah suci Imam Hadi dan Imam Hasan al-Askari as di kota Samarra.
Seluruh pengikut dan pecinta Imamah dan Wilayah di penjuru dunia mengucapkan
Belasungkawa atas perbuatan memalukan para musuh Islam. Mereka yang merencanakan dan melakukan perbuatan ini menganggap perbuatan busuk mereka dapat menghilangkan pelita hidayah dan agama dari muka bumi. Namun mereka tidak menyangka bahwa Allah yang melindungi agamanya.
Semua manusia bebas dari ikatan etnis dan agama turut mengecam perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran pendek. Sementara para pecinta Imamah justru semakin kokoh dan menjadikan hari ini sebagai waktu yang tepat untuk memperbarui janjinya dengan para imam maksum dan siap mengorbankan jiwanya untuk mereka.