Pesona Iran yang Mendunia (3)
Bangsa Iran di era imperium Archaemenid dengan ibukotanya di wilayah Fars memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Mereka berhasil mendirikan sebuah imperium besar dan kuat, bahkan pernah menjadi kerajaan terbesar satu milenium Sebelum Masehi.
Lembaran sejarah menunjukan bahwa wilayah kekuasaan Iran terbentang dari selatan Siberia hingga Mesopotamia, dan dari Asia Kecil hingga India serta perbatasan Cina. Ketika itu, hampir seluruh bangsa dunia yang memiliki peradaban tinggi berada dalam kekuasaan imperium Persia, kecuali Athena, Sparta dan Cina.
Imperium Archaemenid memiliki corak yang unik dan menarik, terutama polanya yang pluralis dan toleran. Corak tersebut berbeda dengan berbagai kerajaan seperti Babilonia dan Assyria yang cenderung menyerang bangsa lain untuk memberangus kebudayaan mereka. Ketika mencapai kemenangan, Archaemenid berupaya menjadi pendukung kebudayaan dan peradaban masing-masing. Kerajaan Archaemenid memberikan kebebasan beragama dan berbudaya sesuai keyakinannya masing-masing.
Tidak hanya itu, para raja Archaemenid tidak menjarah aset bangsa-bangsa yang dikuasainya. Sebagai gantinya mereka membayar pajak dan mendapat perlindungan keamanan dan kebebasan, terutama di bidang ekonomi, agama, sosial dan budaya. Ketika itu perang yang berkecamuk antaretnis mereda dan kehidupan masyarakat dipenuhi ketenangan dan kedamaian.Rakyat dari berbagai bangsa merasakan kehidupan yang aman dan damai di bawah pemerintahan Archaemenid.
Pasca jatuhnya imperium Archaemenid oleh Alexander Mesir di tahun 330 SM, bangsa Iran yang berpencar di berbagai wilayah di dunia tidak mengalami perubahan signifikan. Sebab, setelah Alexander melakukan aksi penyerangan secara destruktif terhadap peradaban dan kebudayaan Iran, dengan cepat ia memahami dirinya membutuhkan manajemen Iran yang berpengalaman selama ratusan tahun untuk mengelola sebuah imperium global. Untuk itulah para pejabat militer dan administrasi di masa pemerintahannya tidak berubah dan orang-orang Iran memegang kedudukan strategis dan penting. Hanya sejumlah kota diserahkan kepada orang-orang Yunani sesuai model mereka. Setelah kematian Alexander, penggantinya naik tahta dan berkuasa dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. Kemudian Ashkanian berkuasa di Iran, dan pemerintahan global dunia saat itu terbagi atas dua imperium besar yaitu, Persia dan Romawi.
Ashkanian merupakan keturunan bangsa Aria di timur laut Iran yang tidak memainkan peran menentukan di pusat pemerintahan Archaemenid. Di era Archaemenid, pusat pemerintahan terkonsentrasi di wilayah tengah, selatan dan barat Iran yang berfungsi sebagai pusat aktivitas politik dan kebudayaan.Adapun di wilayah lainnya tidak menjadi perhatian. Wilayah yang tidak mendapat perhatian itulah yang dikembangkan oleh Ashkanian, selain daerah yang sudah cukp maju di era Archamenid, dengan bertumpu kepada masalah budaya dan ekonomi.
Generasi pertama pemerintahan Ashkanian pada awalnya banyak diwarnai pengaruh budaya Yunani. Bahkan para pejabat tinggi Ashanian banyak yang mempelajari dan menguasai bahasa Yunani, dan menjadikannya sebagai bahasa resmi. Tapi kemudian dengan berkembangnya wilayah kekuasaan Ashkanian, terutama ke wilayah selatan, lama-kelamaan orang-orang Yunani memisahkan diri dan mendirikan negara sendiri. Kemudian, Ashkanian mengembalikan identitas kebudayaan bangsa Iran dengan menjadikan bahasa Farsi sebagai bahasa resmi dan agama Zoroaster sebagai agama resminya.
Di era ini juga terjadi perubahan penting dalam bentuk perhatian besar terhadap budaya dan peradaban Iran melebihi periode sebelumnya. Pada masa Archaemenid, budaya dan peradaban di wilayah timur dan timur laut Iran tidak memainkan peran utama. Tapi di era Ashkanian, kebudayaan Iran di wilayah tersebut tampil memukau dengan menempatkannya sebagai bagian utama.
Salah satu terobosan penting di era Ashkanian adalah dibukanya Jalur Sutra yang menjadikan Iran sebagai poros penting dari zona perdagangan dan diplomatik itu.Jalur Sutra menghubungkan Cina hingga Eropa, terutama kota perdagangan seperti Venezia di Italia. Tidak hanya para pedagang yang melalui jalur penting ini, tapi juga para politisi dan agamawan hilir mudik melintasinya.
Para arkeolog dan peneliti menemukan berbagai bukti sejarah budaya dan peradaban yang menunjukkan fakta tentang keemasan Jalur Sutra dan peran strategis Iran. Berbagai hubungan antarbudaya dan peradaban bangsa-bangsa dunia sepanjang ribuan kilometer jalur Sutra hingga kini menjadi perhatian banyak peneliti dunia.
Jalur Sutra yang membentang panjang dari Cina hingga Bosnia dan Herzegovina di Eropa, menunjukkan adanya hubungan erat dari sisi ekonomi, politik dan budaya serta peradaban berbagai bangsa dunia seperti Iran, Cina, India, Yunani, Romawi dan bangsa-bangsa di Asia utara.
Jalur ini juga menghubungkan berbagai agama dunia dari Budha, Brahmana, Zoroaster, Yahudi, Kristen dan Islam serta agama lainnya. Jejak arkeologis peradaban gemilang Islam yang hadir bersama keragaman budaya dan agama di Jalur Sutra menunjukan fakta cemerlang mengenai peradaban Muslim yang memukau.Ketika itu muncul begitu banyak pemikir dan cendekiawan Muslim yang sebagian besar lahir dan besar di Iran.
Di berbagai wilayah yang masuk zona "Jalur Sutra", pengaruh budaya Iran membentang dari Asia Tengah hingga Mesopotamia di Irak, dari Sind di Pakistan hingga Anatoli di Turki. Ketika itu, Iran memainkan perannya sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai budaya bangsa-bangsa dunia.
Sejak dahulu kala, bangsa Iran telah menjalin hubungan yang baik dan erat dengan bangsa-bangsa dunia, terutama tetangganya seperti Sumeria, Assyria dan Babilonia, serta bangsa India, Cina dan lainnya. Hubungan tersebut bukan hanya di bidang diplomatik, tapi juga agama dalam bentuk toleransi dan penghormatan terhadap keyakinan agama bangsa lain. Jalur Sutra bukan hanya strategis dari sisi ekonomi dan politik saja, tapi lebih dari itu menjadi jembatan bagi peradaban dan kebudayaan timur Iran yaitu Cina, dan Barat Iran yaitu Bizantium, dan negara-negara di pesisir Mediterania.