Pesona Iran yang Mendunia (4)
Terobosan besar dan penting yang dilakukan imperium Ashkanian adalah membuka Jalur Sutra yang menjadikan Iran sebagai poros penting zona perdagangan dan diplomatik dunia.
Jalur Sutra menghubungkan Cina hingga Eropa, terutama kota perdagangan seperti Venezia di Italia. Tidak hanya para pedagang yang melalui jalur strategis ini, tapi juga para politisi dan agamawan hilir mudik melintasinya. Hingga kini, interaksi antarbudaya dan peradaban bangsa-bangsa dunia sepanjang ribuan kilometer jalur Sutra masih menjadi perhatian banyak peneliti dunia.
Posisi Iran secara geografis dan gepolitik berbeda dengan Cina dan India yang berada di kawasan timur dunia. Iran juga berbeda dengan Romawi yang berada di Barat. Posisi strategis tersebut menjadikan Iran sebagai jembatan bagi keduanya. Untuk itulah, budaya Iran menjalin interaksi yang erat baik materi maupun non-materi dengan budaya lainnya di dunia. Menurut para peneliti, jika kebudayaan Iran masih tetap lestari hingga kini dan generasi selanjutnya, maka kebudayaan tersebut bisa memainkan peran sebagai jembatan antarbudaya di dunia.
Pasca berakhirnya kekuasaan imperium Ashkanian, dinasti Sasanian (Sassanid) melanjutkan jejaknya mengembangkan Jalur Sutra sebagai jantung perdagangan dunia, dan menjadikan kota Ctesiphon sebagai pusatnya. Ketika itu, bangsa Iran selain menjual sutra murni yang didatangkan dari Cina, juga memulai produksi kain sutra. Maka bermunculanlah para produsen kain sutra, terutama produsen khusus yang memproduksi kain sutra halus dengan kualitas tinggi.
Sutra murni yang didatangkan dari Cina diolah menjadi kain sutra di era Sasanian di pusat penenunan khusus di Shoush, Jundi Shapur dan Shoshtar, lalu dijual ke berbagai bangsa di dunia melalui pusat-pusat perdagangan di Jalur Sutra. Kain sutra di era Sasanian sangat terkenal di Eropa, bahkan menembus Cina dan Jepang. Salah satu buktinya adalah keberadaan kain sutra era Sasanian di museum kekaisaran Jepang yang masih bisa disaksikan hingga kini.
Selain menguasai jalur perairan darat yang luas, imperium Sasanian juga menguasai jalur perairan dengan dukungan adanya angkatan laut yang kuat dan para pelaut ulung. Dengan mengaktifkan kapal-kapal komersial di jalur perairan, dinasti Sasanian memiliki kekuatan pengaruh lebih besar dibandingkan Imperium Romawi di zona perairan kawasan timur. Saking luasnya pengaruh dinasti Sasanian, ketika itu bangsa Iran berhasil menembus pusat perdagangan hingga Selat Malaka dan India. Pengaruh Iran di zona perairan tersebut dibuktikan dengan akses mereka terhadap bandar-bandar perdagangan Samudera India yang terus berlanjut hingga era Islam.
Bangsa India dan bangsa-bangsa kawasan Samudera India, termasuk kawasan Asia Tenggara yang dikenal di dunia dengan sebutan "Jalur Rempah-rempah" semakin ramai berkat kedatangan kapal-kapal Iran yang diperkuat angkatan laut Sasanian, saudagar dan pelautnya. Rempah-rempah dari kawasan tersebut dibawa ke Ctesiphon, dan dari sana dijual melalui jalur darat menuju Mediterania dan Romawi serta wilayah lainnya. Para saudagar Iran juga menembus bandar selatan Cina di Kanton dan membeli sutra langsung dari bandar itu.
Sebelum imperium Sasanian runtuh dan bangsa-bangsa di wilayah Mesopotamia, Kharazmi dan Turkestan belum memeluk Islam, perdagangan di jalur sutra Turkestan masih menjadi monopoli orang-orang Iran dari suku Soghdian. Selain menguasai perdagangan, mereka juga memiliki pengaruh budaya di wilayah tersebut. Ketika itu, kapal-kapal Iran telah mencapai bandar Vietnam, termasuk Hanoi, dan bandar selatan Cina di Kanton. Adanya jalur perhubungan tersebut menimbulkan interaksi antara budaya Iran dan bangsa-bangsa lain di kawasan tersebut. Melalui jalur itu, budaya Iran menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Ditinjau dari aspek geografis, terutama geografi budaya dan sejarah, Iran merupakan tempat kelahiran peradaban awal dan pusat interaksi agama, pemikiran, seni dan berbagai capaian manusia baik materi maupun non materi. Iran juga menjadi tempat bertemunya berbagai etnis, suku, bangsa sekaligus medan pertarungan kepentingan dari berbagai latar belakangan yang beraneka ragam, dari para politisi, saudagar, pemikir, dan berbagai lapisan masyarakat. Jalur Sutra hingga periode Islam memainkan perannya sebagai kawasan strategis bagi pertemuan berbagai kepentingan dari Timur ke Barat.
Berbagai fakta sejarah menunjukkan bahwa gerakan pemikiran dan kebudayaan serta seni juga menggunakan Jalur Sutra untuk menyebarkan pengaruhnya dan memperoleh manfaat besar dari zona strategis tersebut. Selain pedagang dan politisi, para agamawan dari berbagai agama memanfaatkan Jalur Sutra untuk kepentingan mereka masing-masing. Para penyair, sastrawan dan seniman pun mempublikasikan karyanya kepada bangsa-bangsa dunia dengan menggunakan Jalur Sutra. Di era Islam, para pedagang muslim, bangsa Arab dan Iran serta saudagar dari berbagai bangsa bertemu di jalur Sutra. Interaksi tersebut secara langsung maupun tidak menyebabkan terjadinya interaksi antarbudaya yang beraneka ragam.
Kedatangan bangsa Cina, Turki dan bangsa lainya memasuki jalur Sutra memberi pengaruh terhadap peradaban dan budaya masyarakat Iran. Misalnya, pengaruh tradisi budaya seperti produksi sutra dan kertas dari bangsa Cina yaitu bangsa Hotan (Khotan), teh dari bangsa India, dan tradisi lainnya yang memperkaya kebudayaan dan peradaban Iran.
Kedatangan agama Islam dan dipeluknya agama ilahi ini oleh bangsa Arab dan menyebar ke berbagai bangsa dunia mempengaruhi interaksi di Jalur Sutra. Para mubaligh menggunakan Jalur Sutra untuk menyebarkan agama ilahi ini ke seluruh penjuru dunia. Pasukan Muslim meluaskan pengaruhnya yang semakin besar dari jazirah Arab menuju Mesopotamia dan Ctesiphon. Kemudian menyebar menuju wilayah selatan dan tengah Iran, terutama Khorasan dan wilayah timur.
Pada tahun 98 Hijriah, Kashgar berhasil dikuasai pasukan Muslim dan kota itu dijadikan sebagai "Gerbang Cina". Dengan demikian, ketika bagian timur Jalur Sutra berada di bawah pengaruh Muslim dan sebagian wilayah barat Asia di sekitar laut Mediterania, maka sebagian besar wilayah penting Jalur Sutra berada dalam pengaruh pasukan Muslim.
kehidupan ekonomi dan perabadan Jalur Sutra terus berlanjut hingga era Islam masuk Iran, dan interaksinya yang tetap terjaga dengan agama dan budaya berbagai bangsa dunia hingga abad-abad 15 dan 16 Masehi. Tapi,seiring masuknya kolonialisme bangsa-bangsa Eropa ke Asia, dan ditemukannya jalur baru perairan terjadi perubahan besar yang menguntungkan kepentingan imperialis yang menjajah bangsa-bangsa Asia.