Pesona Iran yang Mendunia (6)
Pada acara sebelumnya, kita telah membahas sebagian pengaruh orang-orang Iran yang semakin meluas setelah mereka masuk Islam.
Di era imperium Islam, jangkauan para pelaut Iran semakin jauh menembus Mediterania hingga selat Gibraltar. Dengan memeluk agama Islam, orang-orang Iran semakin terhormat dan berpengaruh melebihi sebelumnya. Para pelaut Iran dikenal di kota-kota yang berada di pesisir laut Lebanon hingga Tripoli yang berada di tepi selatan laut Mediterania, yang menunjukkan identitas Iran di kawasan tersebut. Di era sebelum Islam, area aktivitas para pelaut Iran lebih banyak di samudera Hindia, Laut Merah, Teluk Persia dan Luat Oman.
Sejarah mencatat mengenai peran bangsa Iran dalam pemerintahan Islam. Di era Khalifah Abbasiyah, orang-orang Iran Khorasan memainkan peran penting dalam urusan politik dan militer di Mesir dan wilayah lainnya di kawasan Afrika Utara, Moroko dan kepulauan Turki, yang berada dalam kekuasaan imperium Islam. Ketika itu, kebudayaan Iran kembali menembus wilayah Mesir setelah periode Achaemenid.
Selain menduduki posisi penting di dinasti Abbasiyah seperti menteri maupun pos strategis lainnya. Di bidang keilmuan, para ahli fiqih, hadis, filsuf dan astronom, matematikawan, hingga astronom terkemuka ditempati orang-orang Iran. Mereka memiliki kemampuan untuk melakukan asimilasi budaya dengan berbagai bangsa Muslim, dan menyuguhkannya sebagai kekayaan budaya dan peradaban Islam Iran.
Di era imperium Islam, untuk pertama kalinya orang-orang Iran menyebarkan budaya dan peradabannya hingga menembus kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Berbagai artefak budaya menunjukkan pengaruh kebudayaan Iran-Islam di kedua negara itu. Para mubaligh yang dikirim menyebarkan Islam di kawasan tersebut kebanyakan adalah orang-orang Iran dan sebagian buku yang ditulis dalam bahasa Melayu merupakan terjemahan dari bahasa Farsi.
Salah satu transformasi penting setelah orang-orang Iran masuk Islam adalah perpindahan poros kebudayaan dari wilayah barat ke arah wilayah Plateau di bagian timur. Di era dinasti Umayah, kebanyakan para budayawan dan pemikir tinggal di wilayah tengah, barat dan selatan.Tapi, karena wilayah tengah sering terjadi konflik, akhirnya mereka berpindah tempat ke wilayah Khorasan, dan Transoxiana di timur laut Iran. Migrasi itu menyebabkan kebudayaan Iran-Islam berkembang pesat dan menemukan bentuk khasnya di wilayah tersebut hingga kini.
Kawasan Transoxiana di era awal masuknya Islam ke Iran dihuni oleh orang-orang Iran, dan hingga kini masih menjadi salah satu tempat kebudayaan tradisonal Persia.Tapi, di wilayah dekat sungai Sihon, mereka menghadapi ancaman dari suku-suku haus perang yang sering melakukan aksi penjarahan dan penyerangan di daerah tersebut. Khorasan utara dan Transoxiana dalam periode awal Imperium Islam merupakan tapal batas perbatasan Islam di ujung utara kawasan Asia. Dengan masuknya orang-orang Iran memeluk agama Islam, wilayah Khorasan dan Transoxiana menjadi benteng yang kokoh menghadapi serangan dari luar, termasuk dari pasukan Turki yang belum memeluk Islam ketika itu.
Untuk pertama kalinya di era imperium Islam, pasukan Muslimin di perbatasan Transoxiana berhadapan dengan bangsa Turki. Setelah bertahan dan melakukan perlawanan, bangsa Turki akhirnya memeluk Islam. Salah satu karakteristik bangsa Turki yang baru memeluk agama Islam adalah kekuatan mereka sebagai petarung tangguh. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka berhasil membenamkan pengaruh besar di bidang militer. Sebagian komandan pasukan Muslim dipegang oleh orang-orang Turki. Para penguasa Muslim memiliki budak Turki yang dijadikan sebagai pengawal pribadinya. Kesetiaan terhadap penguasa menyebabkan pengaruh mereka di dalam kekuasaan semakin besar, bahkan sampai tingkat raja.
Tapi kesetiaan para budak Turki terhadap penguasa Muslim tidak berlangsung lama. Sebab, setelah berhasil menembus jantung kekuasaan dengan menempati posisi strategis di tubuh militer, mereka melakukan berbagai intervensi terhadap penguasa Muslim. Untuk pertama kalinya Khalifah Abbasiyah yaitu Mutasim menggunakan orang-orang Turki dalam pasukan Islam, dan menjadikannya sebagai tradisi.Tapi dalam buku "The Cambridge History of Iran", dengan bersandar kepada berbagai dokumen terpercaya, disebukan bahwa sebelum khalifah Abbasiyah, pangeran Persia dan bangsa Transoxiana dan Sughd (meliputi bagian dari Tajikistan dan Uzbekistan kini) telah lebih dahulu menyewa orang-orang Turki sebagai tentara.
Penguasa Iran, dinasti Shapur dan Samanid juga menggunakan orang-orang Turki sebagai tentara bayaran dan pengawal pribadi mereka. Sabuktigin, ayah Sultan Mahmoud Gaznavi, termasuk salah seorang tentara bayaran era Samanid. Ia memiliki kemampuan militer yang tinggi dan pengaruh luas hingga Khorasan. Sejak itu, bangsa Turki untuk pertama kalinya berkuasa di Iran.
Sebelum akhir periode Gaznavian, pengaruh Turki di bidang militer dan politik dalam pemerintahan Iran kebanyakan secara individu dan tidak berkelompok. Satu persatu dari mereka menduduki pos-pos kunci dalam pemerintahan. Setelah menguasai militer mereka berambisi untuk menduduki pucuk kekuasan. Kebanyakan mereka tidak mendapatkan dukungan dari kabilahnya akhirnya menggunakan pengaruh bangsa Iran. Bahkan Sultan Mahmoud membuat silsilah palsu mengenai keluarganya yang diklaim sebagai keturunan Iran.
Masuk atau lebih tepatnya agresi masif bangsa Seljuk ke wilayah Iran dimulai dengan masuknya bangsa Oghuz Seljuk. Ketika itu, kebanyakan bangsa Turki
di wilayah Traxosiana dan Khorasan utara telah memeluk agama Islam dan tidak ada alasan untuk berjihad mengerahkan pasukan Muslim di kawasan tersebut. Akhirnya pusat jihad di perbatasan Traxosiana dihapuskan. Hal ini membuka jalan bagi bangsa Turki memasuki wilayah Iran.
Orang-orang Seljuk yang sudah memeluk Islam, meminta lapangan kerja dan perlindungan dari Gaznavi Iran. Seiring lemahnya kekuatan dinasti Gaznavi di Tranxosiana dan jauhnya ibukota dan pemindahannya ke Gaznain yang berada di perbatasan India, bangsa Seljuk memiliki kesempatan untuk meningkatkan pengaruhnya di wilayah yang makmur dan berperadaban di Tranxosiana dan Khawarizmi.
Sebelum datangnya kabilah Turki, terutama bangsa Seljuk, di wilayah Khawarizmi dan Traxosiana berkembang budaya Iran, dan bahasa Sughd serta Khwarizmi baik dalam tulisan maupun lisan berkembang di wilayah tersebut.Tapi, setelah bangsa Seljuk berulangkali menyerang wilayah tersebut lambat laun kota-kota di wilayah tersebut mereka kuasai dan akhirnya Sultan Mahmoud Gaznavi kalah dan berdirilah dinasti baru Seljuk.