Apr 27, 2017 19:59 Asia/Jakarta

Kali ini di bagian ketujuh kita akan mengupas mengenai orang-orang Seljuk dan Moghul yang mendirikan dinasti baru di Iran. Imperium baru Seljuk memilih model kerajaan dan peradaban Iran dari pada menarik dukungan dari kabilahnya.Lembaran sejarah Iran menunjukkan bahwa pengaruh budaya bisa diraih tanpa menggunakan keunggulan militer. Budaya dan peradaban Iran menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan memanfaatkan ketajaman pedang bangsa Turki. Ketika itu budaya Iran berhasil menembus Cina, bahkan

Pada pembahasan sebelum kita sudah mengupas mengenai luasnya jangkauan pengaruh kebudayaan dan peradaban Iran setelah mereka memeluk agama Islam. Selain itu, dibahas juga tentang kedatangan suku Seljuk ke Iran, dan berdirinya dinasti baru yang mewarnai dinamika sejarah politik Iran di era Islam. Satu persatu dari mereka menduduki pos-pos kunci dalam pemerintahan. Setelah menguasai militer mereka berambisi untuk menduduki pucuk kekuasan. Kebanyakan mereka tidak mendapatkan dukungan dari kabilahnya, dan akhirnya menggunakan pengaruh bangsa Iran. Bahkan sebagian raja membuat silsilah palsu mengenai keluarganya yang diklaim sebagai keturunan Iran.

 

Seiring lemahnya kekuatan dinasti Gaznavi di Tranxosiana dan jauhnya ibukota dan pemindahannya ke Gaznain yang berada di perbatasan India, bangsa Seljuk memiliki kesempatan untuk meningkatkan pengaruhnya di wilayah yang makmur dan berperadaban di Tranxosiana dan Khawarizmi. Akhirnya, orang-orang Seljuk menguasai tampuk kekuasaan dinasti Gaznavi. Tapi struktur manajemen dan pos-pos strategis pemerintahan, seperti menteri masih dipegang orang-orang Iran.

 

Imperium baru Seljuk memilih model pemerintahan kerajaan dan peradaban Iran dari pada menarik dukungan dari kabilahnya. Dinasti Seljuk membuka jalan bagi kabilahnya yang terbiasa berperang untuk hidup menetap dan bercocok tanam di wilayah yang relatif subur dan makmur. Tapi sebagian dari mereka yang tidak terbiasa hidup di desa dan kota tetap melanjutkan pola hidup sebelumnya menyerang dan menjarah bangsa lain yang menimbulkan instabilitas. Menghadapi ancaman tersebut, dinasti Seljuk mengeluarkan instruksi jihad menghadapi agresor non-Muslim di Asia Kecil dan serangan Kristen di Bizantium. Pada periode ini pucuk kekuasaan dan area jihad dunia Islam berpindah dari perbatasan Tranxosiana ke Asia Kecil dan India, sebab kebanyakan orang-orang Turki Tranxosiana dan Asia telah memeluk Islam.

 

 

Suku Oghuz Seljuk secara bertahap berhasil menguasai Bizantium dari Imperium Romawi, sehingga kekuasaan Romawi hanya terbatas di wilayah Constantinople dan sekitarnya. Bahkan setelah dinasti Seljuk dan Khawarizmi tumbang, mereka mendirikan pemerintahan sendiri di Asia Kecil yang disebut sebagai Seljuk Romawi hingga berdirinya kesultanan Ottoman.

 

Dinasti Seljuk Romawi sebagaimana Seljuk Iran masih berada dalam pengaruh Iran. Faktanya bahasa resmi yang dipergunakan para pejabat istana adalah bahasa Farsi, bahkan sultan pun dinamai dengan nama-nama Iran seperti Alauddin Kaiqobad. Sejak abad kelima Hijriah pemerintahan Iran datang dan pergi silih berganti hingga periode Pahlevi, yang menerapkan rezim militer di Iran. Ketika itu pedang berada di tangan bangsa sultan-sultan Turki, dan pena masih berada di tangan bangsa Iran yang melahirkan berbagai karya gemilang.

 

Sejak era Seljuk hingga setelahnya, dari wilayah timur hingga barat dunia yang berperadaban yaitu dari India hingga Asia Kecil berada dalam pengaruh kekuasaan raja-raja Turki. Tapi itu hanya bertahan sekitar seribu tahun dan di berbagai bidang orang-orang Iran memainkan peran besar dalam administrasi pemerintahan, keagamaan, keilmuan dan budaya. Meskipun pasca dinasti Seljuk tidak ada lagi imperium Islam-Iran yang memiliki pengaruh luas, tapi kerajaan-kerajaan kecil bermunculan seperti Mamaluk Mesir, Ilkhian dan Moghul India, serta Seljuk Romawi yang dikuasai oleh orang-orang Turki.

 

Di era kesultanan Turki, budaya dan peradaban Iran telah tersebar di berbagai wilayah di dunia, dan bahasa Farsi menjadi bagian dari bahasa dunia. Bahkan, luasnya jangkauan pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan imperium Iran pra-Islam di era dinasti Achaemenid, Eskanian dan Sasanid yang menguasai separuh dunia. Semua itu terjadi di era pemerintahan raja-raja Turki di Iran.

 

Lembaran sejarah Iran menunjukkan bahwa pengaruh budaya bisa diraih tanpa menggunakan keunggulan militer. Budaya dan peradaban Iran menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan memanfaatkan ketajaman pedang bangsa Turki. Ketika itu budaya Iran berhasil menembus Cina, bahkan kawasan Afrika dan Eropa yang jauh dari pusat pertukaran budaya. Para budayawan Iran yang datang ke berbagai wilayah di dunia bersama tentara Turki menjalin hubungan antarbangsa, hubungan seni, perdagangan dan keilmuan, dan mereka juga membawa kebudayaan Iran.

 

Di abad kedelapan, Ibnu Batutah yang menjelajahi dunia lebih luas dari Marcopolo mengungkapkan perjumpaannya dengan para pejabat dari berbagai kerajaan yang sebagian adalah orang-orang Iran. Menurut Ibnu Batutah, orang-orang Iran menempati posisi sensitif dan strategis.Catatan perjalanan Ibnu Batutah mengungkapkan di abad keempat belas sedikit tempat yang dikunjunginya yang tidak ada orang Irannya, baik sebagai saudagar, ulama, pelaut, politikus, dan sufi yang berpengaruh. Meskipun kebanyakan orang Iran tersebut menggunakan nama-nama Arab, tapi identitas keiranannya terlihat dari nama kota tempat kelahirannya yang terbentang dari Isfahan, Khawarizmi hingga Samarkand. Mereka menduduki posisi penting di berbagai bidang. Sejak abad kesepuluh hingga abad ketujuh belas Masehi, orang-orang Iran telah menembus kawasan Afrika seperti Kenya, Afrika Tengah,Tanzania dan wilayah lainnya. Mereka membangun budaya dan peradaban di kawasan tersebut.

 

Bangsa Moghul untuk pertama kalinya menyerang Iran dengan tujuan menghancurkan budaya dan peradabannya. Setelah mereka melakukan penjarahan dan pembunuhan, lalu membawa hasil rampasan perangnya ke tanah air mereka. Para agresor asing yang menginvasi Iran akhirnya menerima budaya dan peradaban dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah menguasainya.

 

Ketika orang-orang Moghul menguasai Iran, sejak awal pemerintahannya menggunakan pejabat dari orang-orang Iran seperti keluarga Juweni, bahkan mereka menempati posisi kementerian dinasti Ilikhan Moghul. Sejak itu, orang-orang Iran dan budayanya menembus Cina melalui Moghul. Waktu itu, keluarga Juweini dan Khajeh Rashiduddin Fadlullah menempati posisi penting dalam pemerintahan Ilikhan.

 

Berbagai dokumen sejarah menunjukkan bahwa orang Iranlah yang membawa ajaran Islam ke Cina dan menyebarkan bahasa Farsi ke wilayah itu.Seorang peneliti Prancis menilai Muslim Cina merupakan keturunan Iran. Selain itu, Marcopolo juga mengungkapkan sejumlah ilmuwan dan perwira Iran di Cina.

 

Salah satu faktor penting meluasnya pengaruh budaya Iran, selain faktor militer dan budaya adalah aspek tasawuf dan sufistiknya.Orang-orang Iran yang menjalankan Irfan teoritis dan praktis menyebarkan pengaruhnya di seluruh penjuru dunia. Gerakan mereka yang dibekali pengetahuan dan kecerdasan spiritual serta kelembutan budaya dan peradaban Iran menyebabkan penyebaran kebudayaan Persia-Islam begitu cepat menjangkau penjuru dunia.

 

Para arif besar Iran lahir di sebuah tempat yang masih dalam jangkauan pengaruh budaya Iran dan meninggal di tempat lain. Penyebaran Islam ke anak benua India bukan oleh tajamnya pedang Sultan Mahmoud dan Imperium Timurian, tapi lebih dari itu berkat peran para sufi dan ulama Muslim Iran dengan pengaruh spiritual dan kesantunan budayanya yang menyebabkan orang-orang Hindu tertarik memeluk agama Islam.

 

Para ulama dan ilmuwan Iran tidak tinggal menetap lama di kota kelahirannya. Setelah dewasa mereka mengunjungi tempat lainnya dan mengembangkan pemikirannya dan menghasilka karya yang menjadi perhatian ketika itu bahkan hingga kini. Misalnya, Thabari dan Ibnu Sina lahir di kota besar di wilayah Iran, tapi meninggal di tempat yang jauh dari tempat kelahirannya.(IRIBIndonesia/PH)