May 04, 2017 14:45 Asia/Jakarta

Bahasa merupakan salah satu unsur konstruktif, masif dan penentu dalam setiap budaya. Bahasa juga menjadi faktor dan sarana terpenting bagi peralihan budaya dari satu generasi kepada generasi lainnya.

Pasang surut dan dinamika bahasa menunjukkan pengalaman, sekaligus batu ujian getir dan manis yang dilalui budaya sebuah bangsa. Oleh karena itu, pembahasan mengenai bahasa merupakan salah satu sarana untuk mengkaji interaksi dan kedudukan setiap budaya di lingkungannya dan hubungan sosial dengan yang lain.

Bahasa Farsi dibandingkan dengan unsur sosial budaya lainnya menunjukkan karakteristik khusus dari budaya Iran yang memperlihatkan kemampuan adaptifnya dengan lingkungan.Sebagaimana unsur sosial budaya lainnya, bahasa Farsi selama ribuan tahun mengalami dinamisasi dengan melalui perubahan dalam perjalannya sejak dahulu hingga kini. Oleh karena itulah, meski bahasa Farsi modern mengalami perubahan besar dari bahasa Farsi Pahlevi, namun tetap menjaga indentitas dan esensi kebudayaan Iran yang tidak lekang oleh zaman. Dari aspek kata dan tata bahasanya, Bahasa Farsi mengalami perjalanan panjang dan terjadi dialektika antarbudaya melalui perang maupun damai.

Bahasa Farsi sebagaimana unsur sosial budaya lainnya berinteraksi dengan bahasa adan budaya lain.Tapi dengan kepercayaan diri orang-orang Iran, bahasa Farsi membuka pintu rumahnya untuk menerima kata-kata dan tata bahasa dari luar demi memperkaya khazanah kebahasaannya sehingga mencapai bentuknya yang ada saat ini. Lembaran sejarah Iran menunjukkan bahwa kerukunan dan kehidupan yang relatif harmonis orang-orang Iran dengan bangsa-bangsa lain tidak merusak identitas kebudayaan dan bahasanya, bahkan memperkaya budaya Iran dan bahasa Farsi dengan masuknya berbagai kata dan konsep bahasa yang beraneka ragam dalam sastra Persia. Kemampuan dan potensi bahasa Farsi menjalin interaksi di tingkat dunia pun semakin besar, sehingga bahasa orang-orang Iran ini pernah menjadi bahasa besar dunia di abad pertengahan.

Hingga kini bahasa Farsi masih mengemban amanat bahasa asalnya, dan sejumlah kata telah berusia lebih dari 3000 tahun sejak pertama kali dibawa oleh bangsa Aria yang masih lestari hingga kini. Sejumlah kata yang merupakan kesamaan antara bangsa India, Eropa dan Iran menunjukkan hubungan historis ribuan tahun lamanya. Contohnya seperti kata baradar (Brother), modar (Mother), pedar (father), dokhtar (daughter), dan lainya merupakan kata yang masih dipergunakan secara bersama dalam bahasa Farsi dan Eropa.

Dari sisi tata bahasa, bahasa Farsi masih mempertahankan karakteristiknya yang memiliki kesamaan dengan India dan Eropa. Bahasa Farsi juga tidak terpengaruh oleh tata bahasa budaya lain dalam interaksinya sepanjang sejarah. Hingga kini, bahasa Farsi sebagaimana bahasa Hindi dan bahasa-bahasa Eropa menggunakan kata benda di awal kemudian disusul dengan kata kerja. Struktur tata bahasa dalam bahasa Farsi juga masih mempertahankan bentuknya awalnya yang memiliki kesamaan dengan bahasa Hindia dan Eropa dengan penambahan kata depan dan belakangan yang mengalami dinamisasi.

Interaksi bahasa Farsi terjadi pertama kali ketika bangsa Aria datang ke wilayah Plateau Iran. Sebelum berdirinya imperium Archaemenid, bahasa Arami yang dipergunakan orang-orang Mesopotamia merupakan bahasa global ketika itu. Di era Archaemenid untuk pertama kalinya jalur interaksi antarbahasa yang beraneka ragam terjalin yang membantu terjadinya dialektika antarbudaya dan bahasa bangsa-bangsa dunia.

Bahasa Yunani dikenal di Iran karena interaksi militer dan budaya dengan bangsa Iran, dan orang-orang Yunani di era Alexander datang ke Iran, dan dijadikan sebagai bahasa resmi negara menggantikan bahasa Aram oleh putra mahkota Alexander. Berbagai bukti menunjukkan bahwa suku bangsa Iran yang tetap menjaga bahasanya sendiri menerima kehadiran bahasa lain. Di era Archaemenid dan Eskanian misalnya, bahasa Farsi kuno berdampingan dengan bahasa resmi Aram dan Yunani, tapi dalam kehidupan sehari-hari mereka tetap menggunakan bahasa Farsi.

Di era imperium Sasanid, bahasa resmi para pelaut adalah bahasa Farsi Pahlevi yang berbeda dengan periode sebelumnya yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa resmi negara. Meskipun demikian, tradisi penerjemahan dari bahasa asing yang diletakkan di era Archaemenid tetap dilanjutkan. Tradisi penerjemahan yang terjadi setelah terpuruknya kebudayaan Yunani di tanah kelahirannya sendiri memberikan berkah bagi Iran dengan berpindahnya ilmu pengetahuan melalui penerjemahan buku. Tradisi ini terus dilanjutkan di era Islam dari bahasa Farsi Pahlevi ke bahasa Arab, dan dari sana menembus benua Eropa.

Di era awal Islam masuk ke Iran, orang-orang Iran belum memliki bahasa yang matang, padahal imperium Islam telah membentang luas ke berbagai penjuru dunia. Bahasa Pahlevi yang merupakan bahasa agama dan pejabat tidak memiliki kemampuan menjadi agama global, karena kerumitan abjad dan gramatikalnya. Oleh karena itu orang Iran tidak bisa menggunakannya dalam pergaulan internasional, terutama di era Islam yang menguasai separuh dunia ketika itu.Kemudian, untuk pertama kalinya berkat usaha para ilmuwan bahasa Iran, abjad Pahlevi diubah dengan mengadopsi abjad Arab yang melalui sejumlah perubahan dan penambahan. Abu Rayhan Biruni adalah salah satu dari ilmuwan Iran menyatakan bahwa bahasa Khawarizme yang merupakan bahasa Ibunya sendiri dan salah satu dari bahasa suku Iran, tidak bisa menjadi bahasa ilmu pengetahuan dunia. Menurut Biruni, ilmu pengetahuan akan aneh, jika ditulis dalam bahasa Khawarizmi. Menurutnya, bahasa Arab, bahasa Farsi, Sansakerta, Seriyani dan Yunani lebih tepat sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Pada periode awal kedatangan Islam, bahasa Arab dan Farsi menjadi bahasa penting dunia Islam. Bahkan warga dua kota penting Bashrah dan Kufah lebih banyak menggunakan bahasa Farsi, meskipun demikian kedua bahasa tersebut dipergunakan oleh masyarakat sehari-hari. Sebelum mengenal bahasa Arab, orang-orang Iran telah mengenal bahasa Yunani. Kebudayaan Arab lebih banyak disampaikan melalui tradisi lisan dari pada tulisan. Oleh karena itu, sedikit sekali ilmuwan Arab yang menyusun karyanya dalam bentuk tulisan. Ruang kosong itu diisi oleh ilmuwan Iran yang memperlajari bahasa Arab.   

Penulis Lebanon, George Zaidan dalam bukunya, Sejarah Peradaban Islam menulis, "Orang-orang Iran bahkan dalam ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab pun yang bukan bahasa mereka, tetap berada dalam barisan para guru. Untuk pertama kalinya buku kamus bahasa Arab disusun oleh orang-orang dari Khorasan. Batu pijakan pertama penyusun tata bahasa Arab adalah Sibaweh yang merupakan orang Persia, penyusun [ilmu] yang kemudian disebut sebagai sastra Arab kebanyakan adalah para ilmuwan Iran".

Muhammad Bin Ahmad Muqaddasi, geografer abad keempat Hijriah mengatakan dalam kunjungannya ke berbagai wilayah kekuasaan [imperium] Islam saya menyaksikan orang–orang Khorasan menggunakan bahasa Arab yang paling murni. Dalam buku "The Cambridge History of Iran" disebutkan, "orang-orang Iran menjadi para penerjemah dan penulis utama yang memiliki peran besar dalam sastra Arab. Kebanyakan penulis dan ilmuwan bahasa Arab adalah orang-orang Iran." Interaksi antara bahasa Arab dan bahasa Farsi sudah dimulai sejak permulaan tahun pertama hijriah dengan masuknya kata bahasa Farsi diserap dalam bahasa Arab dan sebaliknya.