May 11, 2017 10:18 Asia/Jakarta

Sastra Arab menjadi perhatian orang-orang Iran meskipun bukan bahasa ibunya, bahkan hingga abad empat Hijriyah menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan sastra mereka. Tapi kemudian bahasa Farsi Dari secara bertahap menjadi bahasa kebudayaan dan sastra orang-orang Iran.

Para budayawan Iran pun menyempurnakan kualitas dan kuantitas bahasa keilmuan ini sehingga menjadi bahasa internasional. Seiring dengan semakin kuatnya bahasa Farsi, bahasa Arab pun secara bertahap semakin menurun pengaruhnya, dan bahasa kebudayaan Iran pun diisi oleh bahasa Farsi.

Bahasa Farsi Dari sebelum era Islam telah menjadi bahasa percakapan di Iran, tapi tidak menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan sastra pada periode awal Islam  masuk ke Iran. Sebab, bahasa resmi agama dan ilmu pengetahuan di era Sassanian adalah bahasa Pahlevi dan Suryani (Syriac).Tapi mulai abad keempat saterusnya terjadi perubahan dengan dimulainya kebangkitan identitas budaya Iran di era Islam, dan orang-orang Iran berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya dengan menempatkan bahasa Farsi Dari yang merupakan bahasa percakapan para pejabat dan sebagian masyarakat Iran sebagai bahasa resmi mereka. Di wilayah timur Iran dan daerah yang berada dalam kekuasaan pemerintah Islam lainnya, bahasa Farsi Dari berangsung-angsur menjadi bahasa yang dominan menggeser bahasa Soghdi dan Khawarizmi.

Bahasa Farsi Dari di era Sassanid merupakan bahasa lisan sekaligus bahasa ibu orang-orang Iran, sedangkan bahasa Pahlevi menjadi bahasa administrasi, agama dan sastra. Di era Islam, bahasa Dari mengadaptasi alfabet Arab yang relatif lebih mudah dan rumit seperti bahasa Pahlevi dari aspek penulisannya. Sebelum bahasa Farsi Dari menjadi bahasa sastra, ilmu pengetahuan serta administrasi, bahasa ini merupakan  bahasa rakyat yang dipergunakan di pasar dan aktivitas sehari-hari masyarakat Iran. Adapun bahasa Arab ketika itu menjadi bahasa agama, sastra dan ilmu pengetahuan yang dipergunakan secara lisan maupun tulisan.

Bahasa Farsi Dari sejak awal telah menunjukkan potensi adaptifnya. Bahasa ini mengalami pengayaan dengan membuka diri menerima abjad Arab. Oleh karena itu banyak kata dan istilah Arab yang masuk dalam bahasa Farsi. Khazanah bahasa Farsi semakin kaya dengan menyerap bahasa Arab, dan pengaruhnya semakin luas ke berbagai penjuru dunia seiring meluasnya pengaruh kekuasaan pemerintah Islam.

Salah satu karakteristik sejarah Iran adalah kemampuan adaptif masyarakatnya terhadap perubahan positif. Rakyat dan kerajaan Iran yang tidak mengenal bahasa Arab bersedia menerima bahasa tersebut menjadi bahasa resmi administrasi, sastra dan ilmu pengetahuan, di samping bahasa Farsi Dari yang merupakan bahasa sastra dan budaya mereka. Contohnya adalah Klan Taharian, Samanian dan Ali Babuweh yang menulis dalam bahasa Arab.

Pengaruh luas bahasa Farsi telah dijelaskan para sejarawan Muslim. Sejarawan Masudi dalam bukunya mengungkapkan di abad keempat orang-orang Iran yang berada di wilayah Jebal, Azerbaijan, Armenia, Aran, Bilghan serta kawasan Kaukasus hingga Khorasan dan Sistan berbicara dalam bahasa Farsi. Geografer Muslim, Muqadasi juga menjelaskan mengenai pengaruh bahasa Farsi yang terbentang luas di zamannya.

Bahasa Farsi diterima sebagai bahasa resmi kerajaan Iran di era dinasti Seljuk. Meskipun mereka bangsa Turki, namun raja-raja dinasti Seljuk menjadikan bahasa Farsi sebagai bahasa resmi yang dipergunakan dalam pemerintah dan ilmu pengetahuan serta sastra. Kebijakan tersebut berbeda dengan raja-raja Iran sebelumnya. Tampaknya, salah satu alasan mengapa bahasa Farsi menjadi bahasa resmi karena para sastrawan dan seniman, serta ilmuwan menggunakan bahasa Farsi dalam karya mereka. Sejak periode ini, bahasa Farsi memiliki pijakan politik yang kuat sebagai bahasa resmi pemerintahan, ilmu pengetahuan dan sastra.

Masuknya orang-orang Turki dan Moghul ke Iran tidak merusak bahasa Farsi, bahkan mereka pun ikut menyebarkannya ke wilayah lain. Oleh karena itu, ketika orang-orang Turki meningkatkan pengaruhnya ke berbagai segenap penjuru dunia, mereka membawa budaya Persia yang dikenalinya di Iran. Ketika orang-orang Turki meluaskan pengaruhnya ke berbagai wilayah dunia hingga menembus Cina dan India di Asia Kecil, mereka menjadikan bahasa Farsi sebagai salah satu bahasa internasional terkemuka ketika itu. Selain bangsa Turki, dinasti Moghul yang menguasai Iran menjadikan bahasa Farsi sebagai bahasa resmi surat menyurat antarnegara. Giok Khan menulis surat yang dilayangkan kepada Paus dalam bahasa Farsi yang dibubuhi tandatangannya. Saking luasnya pengaruh bahasa Farsi, traveler dunia, Marcolopo sedikit banyak mengenal bahasa dunia ini, bahkan ia pun menulis nama-nama wilayah di Cina dengan bahasa Farsi.

Di era Ibnu Batutah, Bahasa Farsi mencapai puncaknya sebagai bahasa yang mampu menjalin hubungan yang kuat di tingkat dunia. Menurut Ibnu Batutah, di mana pun ia mengunjungi berbagai wilayah dari Cina hingga India selalu bertemu dengan orang-orang yang menguasai bahasa Farsi. Ibnu Batutah dalam catatan perjalanannya menjelaskan pengaruh bahasa Farsi yang tersebar luas di berbagai wilayah di penjuru dunia yang dikunjunginya. Meskipun sebagian rakyat di kawasan Asia Tengah, India dan Asia Kecil dan Azerbaijan berbicara dengan bahasa Turki, tapi bahasa resmi yang dipergunakan dalam pemerintahan, sastra dan ilmu pengetahuan adalah bahasa Farsi.

Ibnu Batutah dalam bukunya mengungkapkan bahwa umat Islam di zaman itu menggunakan bahasa Farsi sebagai bahasa para raja Turki di India. Misalnya, nama istana sultan Delhi menggunakan nama Farsi yaitu "Dar Sara". Selain itu, Istana raja dinamai Farsi "Barghah", emas batangan juga menggunakan nama Farsi "Hesht". Buku "The Cambridge History of Iran" menjelaskan tentang pengaruh bahasa Farsi di India sejak dinasti Gaznavid menguasai wilayah itu. Meskipun raja-rajanya berkebangsaan Turki, tapi bahasa resmi kerajaan adalah bahasa Farsi. Orang yang direkrut menjadi pejabat kerajaan harus menguasai bahasa Farsi.

Para penyair terkemuka Lahore seperti Masud Sa'ad Salman, Abu al-Faraj Runi, dan Abu al-Hassan Halabi Hujwiri menulis buku syair dalam bahasa Farsi. Sebelum mereka, Amir Khusro Dehlavi dikenal sebagai penyair terkemuka India yang memiliki karya dalam bahasa Farsi. Di abad ketujuh Hijriah, rakyat Kashgar di Cina yang dekat dengan perbatasan Tajikistan dan Kyrgyzstan telah mengenal bahasa Farsi. Terkait hal ini, Saadi di bagian kelima bukunya "Golestan" menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang pemuda di Masjid raya Kashgar. Pemuda itu bertanya kepada Saadi, "Sebagian besar syair Saadi berbahasa Farsi, dan dengannya lebih mudah dipahami,".

Bahasa Urdu yang kini menjadi bahasa resmi Pakistan dipengaruhi oleh bahasa Farsi dari sisi kata, kalimat, tata bahasa maupun konsep bahasanya. Selain bahasa Urdu, bahasa Farsi juga berpengaruh terhadap bahasa-bahasa di India, termasuk Sanskerta hingga Dravidian di wilayah selatan India. Cerita rakyat Iran seperti kepahlawanan Rostam dikenal baik di India. Mereka juga mengenal cerita Laila dan Majnun, Farhad dan Shirin serta cerita rakyat Iran lainnya.