Pesona Iran yang Mendunia (11)
Abu Nasir Muhammad Farabi dilahirkan tahun 257 Hq, atau 870 M di Farab. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai tempat kelahirannya.
Sebagian sejarawan mengatakan Farabi dilahirkan di Farab, yang berada di sekitar kota Otrar, di wilayah selatan Kazakhstan. Tapi sebagian lainnya mengungkapkan ilmuwan Muslim terkemuka ini dilahirkan di Faryab yang kini berada di wilayah Afghanistan, dan dahulu termasuk wilayah Khorasan Besar. Meskipun demikian, semua sejarawan sepakat bahwa Abu Nasir Muhammad Farabi adalah ilmuwan Persia. Ayahnya termasuk anggota pasukan kerajaan Iran.
Sejarawan Arab, Ibnu Abi Udzaibah dalam bukunya "Insan al-Uyun" menyebut Farabi sebagai keturunan Persia. Demikian pula Ibnu Nadim dalam bukunya "al-Fihrist" dan al-Syahruzi yang hidup sekitar tahun 1288 M menjelaskan silsilah keturunan Farabi dalam karya mereka. Selain garis keturunan Farabi yang merupakan bangsa Persia, pemikir Muslim ini menulis berbagai karyanya dalam bahasa Farsi, Sughdi dan Yunani serta Arab. Tapi tidak satupun ditemukan karyanya yang berbahasa Turki. Sebagian sejarawan menyebut alasan penggunaan bahasa Sughdi yang merupakan bahasa ibunya yang lazim dipergunakan di wilayah Farab.
Para ilmuwan Barat juga mengakui bahwa Farabi adalah ilmuwan Persia. Profesor universitas Oxford, Edmund Bosworth Clifford menulis, "Para tokoh terkemuka seperti Farabi, Al-Biruni dan Ibnu Sina diklaim sebagai keturunan Turki oleh sejumlah peneliti Turki. Orang yang pertama kali mengatakan Farabi keturunan Turki adalah Ibnu Khallakan. Kemudian, sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopædia Iranica, Gutas mengapresiasi pernyataan Khallakan tersebut. Menurut Gutas, berbagai dokumen bersejarah menunjukkan bahwa Ibnu Khallakan berupaya untuk membuktikan Farabi keturunan Turki, setelah Ibnu Udzaibah menyebut Farabi kebangsaan Persia".
Untuk pertama kalinya, Ibnu Khallakan menyebut Farabi dengan nama belakang al-Turk, padahal kebanyakan sejarawan tidak melakukannya dan berbagai bukti sejarah yang kuat tidak mendukung pernyataan tersebut.
Ali Akbar Dekhoda, sastrawan Iran mengutip Forouzanfar dalam karyanya "Badi' al-Zaman", menulis, "Biografi Farabi yang menjelaskan tentang perjalanan kehidupan masa kanak-kanak hingga remajanya tidak diungkapkan dalam buku-bukunya. Ibnu Usaibiah, sastrawan abad ketujuh Hijriah, mengutip tentang dua berita yang saling bertentangan tentang kehidupan Farabi: Pertama, Farabi pada awalnya bekerja sebagai penjaga kebun di Damaskus. Kedua, ketika remaja ia bekerja di pengadilan. Kemudian Farabi meninggalkan pekerjaanya, karena kecintaanya terhadap ilmu pengetahuan. Di masa muda, Farabi sangat antusias mempelajari filsafat dan mencari guru dari satu pusat pendidikan ke pusat pendidikan lainnya". Ketika itu, Farabi tidak melakukan pekerjaan lain selain menuntut ilmu.
Di usia sekitar empat puluh tahun, Farabi melanjutkan pendidikannya di Baghdad. Ketika itu Baghdad yang merupakan pusat pendidikan dipenuhi oleh para ilmuwan yang ahli di bidang sastra Arab, fiqih dan hadis.Tapi tidak banyak ilmuwan yang menguasai logika dan filsafat. Ketika Farabi tiba di Baghdad, Farabi menimba ilmu logika dan filsafat dari Matta bin Yunus. Kemudian, Farabi meninggalkan Baghdad menuju kota Harran, yang kini berada di wilayah tenggara Turki. Di Harran, Farabi berguru filsafat kepada Yūḥannā b. Ḥaylān. Kecerdasan dan kerja kerasnya membuahkan hasil, sehingga semua ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dia pahami secara sempurna, dan diajarkan kembali kepada murid-muridnya. Tidak berapa lama, nama Farabi melambung tinggi sebagai filsuf terkemuka saat itu yang didatangi murid-murid untuk belajar. Salah seorang muridnya adalah filsuf Kristen terkemuka, Yahya bin Adi.
Pada tahun 330 Hijriah, atau bertepatan dengan 941 Masehi, Farabi pergi ke Suriah menjadi ilmuwan pemerintahan Saif ad-Daula Hamdanid, yang berkuasa di Allepo saat itu. Ilmuwan Muslim ini meninggal dunia di usia delapan puluh tahun di sekitar Damaskus. Sebagian sejarawan menuturkan penyebab kematian Farabi. Menurut mereka, Farabi dibunuh oleh perampok dalam perjalanan dari Damaskus ke Ashkelan, yang kini berada di wilayah selatan Palestina pendudukan. Farabi berkata, "Ambillah semua hartaku, senjata, pakaian dan serta barang-barang lainnya, dan jangan bunuh aku !" Tapi mereka tetap menyerangnya dan Farabi melawan dengan segenap kekuatannya. Penguasa Syam mendengar kejadian ini dan Farabi dimakamkan secara terhormat sebagai ilmuwan Muslim dan para perampok itu dihukum mati.
Para sejarawan Muslim berkeyakinan bahwa Farabi adalah orang yang bersahaja dan zuhud dalam kehidupannya. Selain menulis dan meneliti, dia tidak meluangkan waktunya untuk pekerjaan lain. Dia tidak berlebihan dalam hidupnya, bahkan cukup dengan empat ratus dirham yang diberikan oleh Saif ad-Daula Hamdanid sebagai gajinya selaku ilmuwan.
Farabi menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Ia pun menulis buku mengenai setiap ilmu yang berkembang di zamannya. Berbagai karyanya yang beragam dari matematika, kimia, astronomi, militer, musik, ilmu alam, teologi, mineral, logika dan fiqh menunjukkan kemampuannya yang luas dan mendalam terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Di luar disiplin ilmu tersebut, karya-karya Farabi mengenai filsafat menjadikan dirinya dikenal luas sebagai filsuf muslim terkemuka.
Sejarah filsafat Islam menjelaskan bahwa filsuf Muslim pertama adalah Yakub bin Ishaq al-Kindi. Mekipun berhasil membuka lembaran baru bagi filsuf Muslim, tapi Kindi tidak berhasil membangun sebuah sistem pemikiran filsafat yang sistematis. Namun, Farabi berhasil membangun sebuah sistem pemikiran filsafat yang berpengaruh hingga kini.
Kerja intelektual Kindi di bidang filsafat diteruskan oleh Farabi dengan mengembangkan tradisi pemikiran filsafat baru yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab dan Suriyani. Farabi memainkan peran penting dalam dinamika filsafat Islam yang dilanjutkan oleh para penerusnya. Filsuf terkemuka Iran, Ibnu Sina menyebut Farabi sebagai gurunya. Demikian juga dengan Ibnu Rushd, filsuf Arab yang menilai Farabi dengan berbagai karya filsafatnya telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi bangunan filsafat Islam. Mengenai Farabi, Ibnu Sina berkata, "Aku telah membaca buku metafisika Aristoteles berulangkali. Setelah empat puluh kali mengkajinya, aku tetap tidak mampu memahami tujuan penulis buku ini. Suatu hari aku menemukan buku Abu Nasir Farabi di pasar yang membahas penjelasan tentang buku metafisika Aristoteles, dan setelah membaca buku ini, aku bisa memahaminya". Literatur sejarah filsafat Islam menyebut Farabi sebagai guru kedua setelah Aristoteles.
Peran Farabi menghidupkan tradisi pemikiran di dunia Islam di zamannya dengan berbagai karya yang beragam dari logika hingga astronomi, menempatkannya sebagai ilmuwan Muslim terkemuka. Selain itu, karya-karya filsafatnya menghembuskan angin baru bagi generasi filsafat Islam. Oleh karena itu, Farabi juga disebut pendiri filsafat Islam yang terus berlanjut hingga kini. Dari generasi Farabi hingga Mulla Hadi Sabzavari, yang terjadi dari abad kesembilan hingga abad sembilan belas masehi, para filsuf Muslim membahas berbagai masalah penting di bidang filsafat. Abu Nasir Farabi mempelajari seluruh pemikiran filsafat Yunani, dan pemikirannya sedikit banyak dipengaruhi oleh Plato. Di antara karya Farabi yang terkenal adalah "Madinah Fadhilah". Buku tersebut menjadi perhatian para pemikir setelahnya hingga kini.