Pesona Iran yang Mendunia (12)
Pada acara sebelumnya, kita telah membahas biografi intelektual salah seorang ilmuwan dan filsuf Muslim Persia, Abu Nasir Farabi.Meskipun para sejarawan berbeda pendapat mengenai tempat kelahirannya Farab, yang terletak di wilayah selatan Kazakhstan atau di wilayah Afghanistan, yang dahulu termasuk wilayah Khorasan Besar.Tapi, semua sejarawan sepakat bahwa Abu Nasir Muhammad Farabi adalah ilmuwan Persia. Ayahnya termasuk anggota pasukan kerajaan Iran.
Farabi menguasai berbagai ilmu pengetahuan dari matematika hingga astronomi. Di luar beragam disiplin ilmu tersebut, karya-karya Farabi mengenai filsafat menjadikan dirinya dikenal luas sebagai filsuf muslim terkemuka, dan pendiri filsafat Islam.Di bagian kedua belas kali ini, kita masih melanjutkan pembahasan tentang Farabi yang membahas mengenai karya-karyanya.
Abu Nasir Muhammad Farabi memandang para filsuf sebagai pemimpin masyarakat, sebagaimana Allah swt menjadikan orang-orang alim sebagai pemimpin. Farabi memiliki perhatian yang besar terhadap masalah filsafat politik. Tingginya minat ilmuwan Muslim ini terhadap masalah sosial dan politik membuahkan berbagai karya mengenai hubungan filosofis antara masalah sosial dan politik.Menurut Farabi, politik terbagi menjadi dua bagian, moral dan sipil. Prinsip politik moral berpijak pada ketuhanan, keyakinan terhadap hari akhirat dan wahyu. Adapun prinsip politik sipil adalah sebuah keharusan sosial yang menciptakan kerjasama di tengah masyarakat. Lalu, apa kaitan antara politik moral dan sipil dalam pandangan Farabi?
Farabi memandang keduanya memiliki ikatan yang sangat erat. Menurutnya, kebahagian masyarakat sipil ditentukan oleh politik moral. Terkait hal ini, filsuf kontemporer Iran, Ebrahim Dinani berkata, "Farabi memiliki perhatian terhadap masalah sosial dan hubungan sosial, berdasarkan prinsip ontologis. Alur pemikirannya bergerak dari materi fisik ke metafisika, dan sebaliknya dari metafisika ke fisik. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai filsuf budaya." Perhatian besar Farabi terhadap masalah budaya dituangkan dalam berbagai karyanya. Para pemikir Muslim membahas masalah sosial dalam karya mereka, tapi hingga kini amat jarang filsuf yang memiliki karya di bidang filsafat sosial dan budaya selevel Farabi.
Sejarah mencatat, Farabi menulis lebih dari 100 buku di berbagai bidang. Sebagian karyanya masih bisa kita nikmati hingga kini. Filsafat dan logika merupakan fokus perhatian Farabi dalam berbagai karyanya melebihi bidang lain. Di bidang filsafat, Farabi menjadi filsuf Muslim pertama yang memahami dengan baik filsafat Yunani, terutama filsafat Aristoteles dan Plato. Tidak hanya itu, Farabi juga menulis karya yang memberikan penjelasan tentang pemikiran filsafat Yunani bersama kritiknya. Para filsuf dunia, terutama filsuf Muslim setelah Farabi mempelajari filsafat Yunani dari karya-karyanya. Meskipun Farabi sangat meminati pemikiran filsafat Yunani, tapi dirinya tidak terjebak menjadi pengekor gagasan. Sebagai seorang pemikir, Farabi mampu memahami filsafat Yunani, sekaligus memberikan pandangan kritisnya, dan menyodorkan gagasan baru.
Meskipun memiliki kedekatan pandangan dengan Aristoteles dan Plato, tapi ia mampu menawarkan pemikiran barunya yang berbeda dari filsafat Yunani. Farabi belajar filsafat dari Yunani, tapi karakteristik pemikiran filsafatnya dengan ciri khas keharmonisan filsafat dengan nilai-nilai Islam. Farabi mempelajari filsafat Arsitoteles dan Plato di bidang logika, fisika, metafisika, dan etika. Kemudian ia mengembangkannya dalam bentuk karya yang seirama dengan ajaran Islam. Pijakan pemikiran filsafat Islam yang diletakan oleh Farabi mengenai hakikat.
Farabi menjauhkan keyakinan agama dari khurafat dan lainnya dengan prinsip-prinsip filsafat. Filsuf Muslim ini membuktikan Tauhid dengan menggunakan pendekatan filsafat. Menurut Farabi, filsafat sebagaimana ilmu lainnya harus diketahui oleh umat Islam. Ia berupaya mendekatkan istilah filsafat dengan bahasa agama. Terobosan yang dilakukan Farabi ini dilanjutkan dalam format yang lebih baik oleh Ikhwanul Safa pada pertengahan abad kesepuluh Masehi.
Terkait peran Farabi sebagai pendiri Filsafat Islam, filsuf Iran Reza Davari Ardakani berkata, "Di bidang filsafat, Farabi mencapai tingkatan mujtahid. Ia bukan hanya menjadi [sosok] seperti Aristoteles sebagai guru ilmu Burhani, tapi lebih dari itu ia mengklasifikasikannya. Ilmu pengetahuan Islam diklasifikasi dan disistematisasi, dengan formasi logika dan burhan. Farabi dalam hakikat, pembaharu filsafat dan pendiri filsafat Islam. Dalam pandangan Farabi, hakikat filsafat adalah pengenalan terhadap Allah swt. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan antara filsafat dengan agama yang berpijak pada tauhid dan keimanan kepada Tuhan. Perbedaan keduanya bukan dalam tujuan dan esensinya, tapi dari metodologinya. Satu dengan potensi teoritis, dan lainnya dengan potensi daya cipta. Manusia sempurna menurut Farabi adalah 'Rais awal', 'Nabi', maupun 'Imam',".
Farabi menulis karya mengenai logika yang menunjukkan pengusaannya terhadap bidang ilmu tersebut. Filsuf Muslim ini menjelaskan urgensi ilmu logika dan peran serta manfaatnya sebagai argumentasi bagi orang yang menentang ilmu tersebut. Menurut Farabi, logika mengantarkan manusia menuju cara berpikir yang benar, dan menghindarkannya dari kekeliruan dengan berbagai kaidah berpikir logis.
Konsepsi menurut Farabi terbagi dua, jelas (badihi) dan teoritis. Menurut Farabi, manusia tidak akan keliru dalam masalah badihi. Misalnya, semua orang tahu keseluruhan lebih besar dari sebagian.Tapi, dalam konsepsi teoritis, banyak orang yang keliru. Oleh karena itu memerlukan bantuan ilmu logika yang memberikan bekal kaidah-kaidah berpikir yang benar. Farabi mengibaratkan logika seperti ilmu Nahwu, kaidah bahasa. Ia berkata, "Logika memliki hubungan dengan konsepsi sebagaimana nahwu dengan lafadh".
Pembahasan lain yang menjadi perhatian Farabi dalam karyanya adalah metafisika. Dalam berbagai karyanya di bidang metafisika, Farabi berupaya mewujudkan harmonisasi antara filsafat dengan tauhid. Farabi mengemukakan berbagai kaidah filsafat tentang prinsip-prinsip ketuhanan secara rasional. Teologi disebut oleh Aristoteles sebagai mahkota filsafat. Oleh karena itu, pembahasan teologi masuk dalam buku "Metafisika" Aristoteles, dan Farabi memberikan penjelasan serta perubahan dan koreksinya.
Menurut Farabi, segala sesuatu bergerak menuju ke arah kesempurnaan, bahkan yang berada di tingkatan paling lemah sekalipun. Bagi filsuf Muslim ini, tidak ada sesuatu di tingkat kesempurnaan yang melampaui Tuhan. Tidak ada yang berada dalam tingkatan tertinggi, kecuali Allah swt. Oleh karena itu, tidak ada lawan dan sesuatu yang menyamai-Nya.