Jul 13, 2017 12:03 Asia/Jakarta

Di depan gedung kantor PBB di kota Wina, ibukota Austria, terdapat empat skluptur para pemikir besar dunia yang berjasa dalam bidang kedokteran, filsafat, fisika, geografi, astronomi, kimia, matematika dan berbagai disiplin ilmu lainnya yang paling berpengaruh dalam sejarah. Skluptur  pertama adalah patung Abu Ali Sina atau Ibnu Sina, dokter sekaligus filsuf dan ilmuwan Muslim Persia terkemuka yang menulis buku al- Sifa dan Qanun Fi Tib, serta berbagai karya besar lainnya.

Patung kedua adalah Abu Rayhan Al-Biruni yang dikenal sebagai seorang matematikawan, astronom, geografer, fisikawan dan sejarawan Iran di era Gaznavid. Patung ketiga adalah Omar Khayyam, seorang filsuf, matematikawan, astronom dan penyair Persia di era dinasti Seljuk. Sedangkan patung keempat adalah Zakaria Razi, yang dikenal sebagai dokter, filsuf dan kimiawan terkemuka Persia. Salah satu penemuan Zakaria Razi adalah alkohol dan sulphuric acid. Menariknya, keempat skulptur tersebut seluruhnya adalah ilmuwan Persia-Islam, yang menunjukkan peran bangsa Iran dalam pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dunia.

Dari keempat skluptur ilmuwan Persia tersebut, kali ini akan dibahas salah satunya, yaitu Al-Biruni. Abu Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni dianggap sebagai salah satu ilmuwan Muslim terkemuka yang memiliki karya di bidang fisika, matematika, astronomi, geografi dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Al-Biruni dilahirkan Khwarizm, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ghazni, ibukota dinasti Ghaznavid, yang sekarang terletak di Afghanistan hingga meninggal di sana. Al-Biruni disebut sebagai "bapak geodesi" atas sumbangan pentingnya di bidang tersebut.

Al-Biruni melakukan terobosan penting di bidang astronomi dengan membuat sebuah miniatur globe untuk memudahkan penyelesaian masalah astronomi. Ia dikenal luas sebagai seorang astronom terkemuka dinasti Gaznavid. Al-Biruni melakukan perjalanan ke India dan menjadi ilmuwan Muslim pertama yang menyelidiki sistem pemikiran, filsafat, tradisi kebudayaan, agama dan keyakinan orang-orang India.

Para peneliti al-Biruni di Eropa mengungkapkan bahwa seluruh karya al-Biruni mencapai 180 buah. Dari jumlah tersebut, 115 meliputi masalah matematika, astronomi dan pembahasan lainnya yang terkait dengan dua displin ilmu ini. Tapi dari berbagai karya ini hanya 28 yang sampai ke tangan kita saat ini. Menurut Eduard Sachau, al-Biruni merupakan ilmuwan terbesar di zamannya yang tercatat dalam sejarah. Sebab, ia menguasai berbagai disiplin ilmu dari sejarah, sastra, filsafat, fisika, biologi matematika, geometri dan astronomi.

Abu Rayhan al-Biruni berkeyakinan bahwa segala bentuk argumentasi ilmiah harus diuji terlebih dahulu untuk memastikan validitasnya. Penggunaan metode empiris dalam ilmu pengetahuan telah lama dipergunakan oleh Ilmuwan Muslim jauh sebelum para ilmuwan Barat melakukannya. Abu Rayhan al-Biruni merupakan salah seorang ilmuwan Muslim yang memiliki banyak terobosan dalam motode ilmiah yang berbasis empiris jauh sebelum Bacon dan Descartes yang meletakkan pondasi sains modern.

Di bidang fisika, al-Biruni melakukan riset bernilai  berjudul "al-Lam'at" yang membahas mengenai masalah optik, terutama struktur cahaya. Pandangan al-Biruni mengenai bagaimana melihat benda melalui mata tidak jauh berbeda dengan Ibnu Haitham yang menyatakan bahwa objek yang dilihat mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat. Salah satu konstribusi penting dari teori al-Biruni mengenai kecepatan cahaya yang melampaui suara. Pandangan ini baru diketahui oleh para ilmuwan Barat ratusan tahun setelah al-Biruni.

Al-Biruni juga menjelaskan teori tentang bagaimana naiknya air dari mata air, termasuk cara bagaimana air bisa naik dari sumur menuju menara dan benteng-benteng yang tinggi dengan teori tekanan air. Ia juga mengukur luas bumi yang dijelaskan dalam bukunya "Ustur Laban" mengenai persamaan untuk mengukur setengah ruas bumi, dan para ilmuwan Barat menyebutnya sebagai formulasi Alberonius. Ia juga menulis karya mengenai kalender untuk menetapkan tahun, bulan hingga hari dalam sepekan, dan namanya yang berbeda-beda dari beragam budaya dan peradaban bangsa-bangsa dunia.

Al-Biruni merupakan orang pertama yang mengkaji masalah geografi dan menjadikannya sebagai sebuah disiplin ilmu mandiri, sebagaimana yang dikaji saat ini melalui pendekatan empiris dengan pijakan ilmu alam dan matematika. Ia juga melakukan terobosan besar di bidang ilmu ukur dengan menggabungkan ilmu matematika dan geometri. Al-Biruni mengukur panjang horizontal kota Balkh dengan tingkat akurasi tinggi, dan hasilnya tidak berbeda jauh dengan perhitungan yang dilakukan saat ini.

Ilmuwan besar ini mengukur garis meridian bumi ketika itu dengan hasil 11.061,4 kilometer. Hasil tersebut tidak terpaut jauh dari perhitungan akurat saat ini sebesar 11.110 kilometer. Metode baru al-Biruni dalam mengukur meridian bumi dengan menggunakan teori pengukuran sudut horizon. Seribu tahun setelah al-Biruni, Albert Einstein mengungkapkan teori tentang foton, yang merupakan partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik. Foton dianggap sebagai pembawa radiasi elektromagnetik, seperti cahaya, gelombang radio, dan Sinar-X. Teori hampir serupa dikemukakan oleh Abu Rayhan al-Biruni yang menyebut foton sebagai "Ajza' Latifah".

Abdol Hameed Nirnouri menulis, "Abu Rayhan al-Biruni mengerahkan seluruh upayanya untuk menjelaskan masalah kemungkinan bumi mengelilingi matahari. Kepada orang-orang yang menyatakan mengapa benda tidak jatuh ke atas [tapi ke bawah], ia menjawab: Orang yang meyakini bumi bergerak dan matahari diam, menyatakan bahwa penyebab mengapa benda di atas bumi tidak jatuh ke atas adalah adanya kekuatan di pusat bumi yang menarik benda menuju dirinya dan gerakan bumi menghalangi benda ke angkasa..".  Jawaban al-Biruni ini ratusan tahun sebelum Newton mengemukakan teori tentang gravitasi bumi yang ia temukan ketika melihat apel jatuh ke tanah. Berbeda dengan Copernicus dan Galilei [yang menghadapi tekanan dari otoritas gereja Barat ketika itu], Al-Biruni menyampaikan pandangannya secara bebas, dan tidak ada penentangan dari kalangan ilmuwan Muslim".

Abu Rayhan al-Biruni merevisi penanggalan yang lebih akurat dari revisi Gregorian yang dilakukan enam abad setelahnya. teori Biruni seperti gravitasi bumi, berputarnya bumi mengitari matahari baru ditemukan oleh para ilmuwan Barat seperti Copernicus, Kepler dan Newton ratusan tahun kemudian. Al-Biruni menemukan cara untuk mengukur kepadatan dan membuat terobosan dengan membuat alat khusus untuk mengukur 18 jenis batuan mulia dan membuat tabel mengenai masalah ini. Ia juga membuat ensiklopedia mengenai astronomi dan matematika yang menjadi panduan bagi para ilmuwan Eropa selama beberapa ratus tahun.

Ilmuwan Muslim terkemuka ini berhasil menemukan cara menghitung hasil dari jumlah deret ukur dan metode sumur artesis dengan baik. Al-Biruni mengukur radius bumi dan kemiringan orbit matahari terhadap garis khatulistiwa dengan keterbatasan alat di zamannya yang tidak secanggih saat ini. Ketika itu, al-Biruni mendapatkan hasil 27 derajat 27 menit, sedangkan dengan alat akurat saat ini didapatkan hasil 23 derajat 27 menit. Oleh karena itu, para ilmuwan yang mengkaji berbagai karyanya menyebut Abu Rayhan al-Biruni sebagai manusia kini.