Pesona Iran yang Mendunia (18)
Sayyid Ismail Jurjani adalah seorang dokter terkemuka Iran, sekaligus intelektual terkenal di zamannya. Nama lengkapnya, Sayid Zayn al-Din Abu Ibrahim Ismail Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad Alhusayni Aljurjani. Ilmuwan Muslim ini lahir tahun 434 Hijriah ,atau 1041 Masehi di kota Jurjan, sekitar Gorgan, Iran, saat ini yang terletak di pesisir laut Kaspia.Tapi keluarganya adalah sayid Isfahan yang hijrah ke Jurjan.
Tampaknya, tidak banyak informasi yang tersedia mengenai masa kecil dan muda Jurjani. Meskipun demikian, para sejarawan memastikan bahwa Jurjani menyelesaikan studinya di bawah bimbingan Abu al-Qasim Abdul al-Rahman Ibnu Ali Ibn Abi Sadiq al-Naishabouri, Ibnu Sina dan Abu al-Faraj, yang dikenal dengan keahlian mereka di bidang kedokteran dan disiplin ilmu lainnya.
Ketika Jurjani hidup, kota Jurjan merupakan daerah yang yang terbilang maju di zamannya.Kota yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khwarizmian ini dipenuhi para ilmuwan terkemuka dari berbagai bidang. Filsuf dan dokter terkemuka Iran, Ibnu Sina pernah mendatangi tempat ini dan mengajar di sana. Sejarah mencatat, buku Ibnu Sina "Al-Qanun fi al-Tibb" jilid pertamanya ditulis di kota itu. Selain itu, dokter terkemuka lainnya seperti Abu al-Faraj Ibn Hindu yang menulis buku, "Miftah al-Tibb wa-Minhaj al-Tullab" (Kunci ilmu kedokteran dan panduan siswa) berada di Jurjan antara tahun 400 hijriah hingga 455 Hijriah untuk mengajar kedokteran kepada para siswa.
Selain belajar kedokteran dari Ibnu Sina dan Abu al-Faraj, Sayid Ismail Jurjani juga mempelajari filsafat dan disiplin ilmu lainnya dari kedua ilmuwan tersebut. Menurut keterangan Qutb al-Din Lahiji dan Ibnu Abu Assibia, Jurjani memiliki kecerdasan yang tinggi dan mahir dalam bidang kedokteran. Selain ilmu-ilmu kedokteran dan farmasi, ia juga mahir dalam ilmu teologi, filsafat dan etika.
Sayid Ismail Jurjani mengunjungi berbagai tempat untuk menimba ilmu dari para ahli di bidangnya masing-masing, terutama di bidang kedokteran.Tempat yang pertama dikunjungi Jurjani setelah meninggalkan daerah kelahirannya adalah Nisabur. Kemudian ia mengunjungi Irak, Ray, Isfahan, Shiraz, Khozestan dan berbagai kota lainnya. Kunjungan Jurjani ke berbagai tempat itu menunjukkan perkembangan ilmu kedokteran di abad kelima hijriah. Ketika itu, Nisabur yang berada di timur laut Iran dikenal sebagai "Kota Rumah Sakit Besar". Para peneliti sejarah kedokteran Iran mengungkapkan bahwa tujuan utama Jurjani mengunjungi Nisabur untuk belajar kedokteran kepada Abu al-Qasim Abdul al-Rahman Ibnu Ali Ibn Abi Sadiq al-Naishabouri.
Ibnu Abi Sadiq memainkan peran pentng bagi pendidikan kedokteran Jurjani. Ibnu Abi Sadiq al-Naishaburi adalah dokter Iran abad ke-11 dari Nisabur di Khorasan. Ibnu Abi Sadiq disebut sebagai Buqrat al-Thani, atau Hippocrates kedua, terutama berkat karyanya yang merupakan penjelasan dan komentar terhadap buku Hippocrates berjudul Prognostics.
Kota lain seperti Ray, Tehran selatan, yang dikunjungi Sayid Ismail Jurjani, ketika itu merupakan kota yang dipenuhi para dokter dan ilmuwan terkemuka seperti Zakaria Razi dan Abul Hassan Turanji. Selain itu, Isfahan menjadi tempat yang dikunjungi Jurjani, karena di sana terdapat rumah sakit besar dan dokter terkemuka seperti Ibnu Manduyah dan ahli kedokteran lainnya.Shiraz menjadi kota lain yang dikunjungi Sayid Ismail Jurjani. Di kota itu terdapat rumah sakit besar dan dokter berpengalaman dan terkenal.
Di provinsi Khozestan, Jurjani mempelajari wilayah penting yang pernah menjadi kota peradaban dengan adanya Universitas Jundi Shapur. Meskipun perguruan tinggi kuno itu sudah tidak berfungsi dan rumah sakit besar tidak ditemukan di Khozestan, tapi kehadiran para dokter di berbagai wilayah terutama Ahvaz menarik perhatian Sayid Ismail Jurjani.
Jurjani dalam bukunya menjelaskan tentang kota-kota yang dikunjunginya untuk menuntut berbagai ilmu terutama ilmu kedokteran. Selain kota-kota penting yang menjadi pusat para dokter terkemuka di zamannya, Sayid Ismail Jurjani mengunjungi kota suci Qom yang dikenal sebagai kota yang dihuni orang-orang Syiah, sejak dahulu kala hingga saat ini. Ketika itu Qom telah menjadi pusat pendidikan ilmu agama dan ilmu umum di berbagai bidang.
Meskipun kota suci Qom tidak dikenal sebagai kota para dokter terkemuka seperti Nisabur dan kota lainnya, tapi di sana terdapat ilmuwan di bidang kedokteran. Di Qom, Sayid Ismail Jurjani bertemu dengan putra Koshyar Gili, astronom terkemuka abad keempat Hijriah yang juga ahli di bidang medis. Para sejarawan tidak mencatat secara detil kapan dan berapa lama Jurjani mengunjungi kota suci Qom. Tapi catatan yang jelas menunjukkan Jurjani mengunjungi Qom sebelum tahun 504 Hijriah, sebelum ia mengunjungi Khwarizmi. Di masa mudanya, Jurjani juga mengunjungi kota Merv, ibukota dinasti Saljuk.
Jurjani menulis magnum opusnya mengenai ensiklopedia medis Persia berjudul "Zakhireye Khwarazmshahi" sekitar tahun 1110 Masehi, tidak lama setelah dia menetap di Khwarizmi. Karyanya ini banyak diwarnai pengaruh pemikiran Ibnu Sina dalam buku "al-Qanun fi al-Tibb", Meski demikian, Jurjani mengemukakan pandangannya sendiri yang tidak ditemukan dalam buku sebelumnya. Karya ini terdiri dari sepuluh jilid meliputi sepuluh bidang medis antara lain: anatomi, fisiologi, kebersihan, diagnosis dan prognosis, demam, penyakit tertentu di bagian tubuh, operasi, penyakit kulit, racun dan penangkal, dan obat-obatan baik yang sederhana dan kompleks.
Para ahli sejarah medis menyebut Jurjani sebagai orang yang mengaitkan exophthalmos dengan gondok, jauh sebelum penelitian Caleb Parry (1755-1822) di tahun 1825, dan kemudian oleh Robert James Graves (1796-1853 ) dan Carl von Basedow (1799-1854). Jurjani juga telah menyelidiki hubungan antara gondok dan palpitasi. Ilmuwan Iran ini mengkaji berbagai tumbuhan tradisional dan menjelaskan khasiatnya.Tidak hanya itu, ia juga menyusun formulasi dari tumbuhan-tumbuhan tersebut menjadi kombinasi yang berfungsi sebagai obat seperti sumak dengan minyak zaitun, daun dan akar Rumex, Alum (vitriol), daun Melia azedarach, daun delima, Cinnamon dan lainnya. Sebagian tumbuhan tersebut terbukti memiliki sifat insektisida.
Jurjani menjalani karirnya sebagai dokter istana Khwarazm-Shah di era Qutb al-Din Muhammad I, yang memerintah dari tahun 1097 M sampai 1127 Masehi. Buku Jurjani berjudul "Zakhireye Khwarazmshahi" dipersembahkan untuk penguasa Khawarizmi itu. Setelah berakhirnya kekuasaan Qutb al-Din, Sayid Ismail Jurjani melanjutkan tugasnya sebagai dokter istana di era Ala al-Din Atsiz. Selain buku kedokteran, Sayid Ismail Jurjani juga menulis buku di bidang lain seperti logika dan filsafat di antaranya: Fi al-Qiyas, Fi al-Tahlil, dan Kitab fi al-Rad al-Falasifah.