Pesona Iran yang Mendunia (19)
Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengupas mengenai biografi singkat Sayid Zayn al-Din Abu Ibrahim Ismail Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad Alhusayni Al-Jurjani.
Sayid Ismail Jurjani lahir di Jurjan, yang terletak di sekitar laut Kaspia tahun 434 Hijriah. Pendidikan dasarnya dilalui di kota kelahirannya kemudian menuntut ilmu ke berbagai kota seperti Nisabur, Ray, Isfahan, Shiraz, Khozestan, Marv dan kota lain, di bawah bimbingan para ilmuwan terkemuka di zamannya. Sayid Ismail Jurjani menguasai disiplin ilmu kedokteran dan farmasi. Selain itu, ia juga memiliki pengetahuan yang luas di bidang filsafat, hadis dan fiqih.
Khwarizmi merupakan wilayah yang membentang dari selatan danau Aral di muara sungai Jeihun yang merupakan pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan tempat berkumpulkan orang-orang yang berilmu dan seniman terkemuka. Hingga tahun 385 Hijriah, bahkan di zaman sebelum Islam, wilayah ini secara politik termasuk daerah yang relatif independen. Tapi sejak saat itu pusat dinasti Khwarizmi dipindahkan ke kota lain bernama Jurjan.
Di era dinasti Seljuk, Khwarizm secara administratif merupakan bagian dari pemerintahan pusat Khorasan. Tapi dengan diutusnya Qutb al-Din ke Khwarizm oleh pemerintahan Seljuk, maka di tahun 491 Hijriah dimulailah pemerintahan otonomi Khwarizmshah, yang menandai babak baru perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan ekonomi dan stabilitas politik di wilayah tersebut. Otonomi politik di tangan Qutb-al-Din Muhammad yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan menjadikan Khwarizmshah sebagai wilayah yang independen.
Situasi dan kondisi politik Khwarizmi yang stabil dan dukungan pemerintah terhadap kemajuan ilmu pengetahuan menyuburkan lahirnya karya-karya besar dari para pemikir besar Muslim terkemuka seperti Sayid Ismail Jurjani. Pada tahun 504 Hijriah, Jurjani yang berusia tujuh puluh tahun diutus oleh Qutb al-Din Muhammad ke Khwarizm, dan dia tinggal di kota itu menjadi pejabat istana Khwarizmshah. Magnum Opus Jurjani berjudul "Zakhireye Khwarazmshahi" dipersembahkan untuk penguasa Khwarizmshah.
Tampaknya menarik menyoroti penulisan buku "Zakhireye Khwarazmshahi" yang menjadi karya mounumental Sayid Ismail Jurjani dilihat dari beberapa aspek. Pertama, buku ini merupakan karya pertama mengenai ensiklopedia medis terlengkap di zamannya yang disusun kira-kira satu abad setelah "Al-Qanun fi al-Tibb" Ibnu Sina. Meskipun warna pengaruh pemikiran Ibnu Sina tampak dalam buku tersebut, tapi Jurjani mampu mengemukakan pandangan orsinilnya sendiri yang tidak ditemukan dalam karya-karya sebelumnya.
Kedua, sebelum menjelaskan pandangannya terhadap sebuah masalah medis, Jurjani secara objektif mengemukakan pandangan para ilmuwan sebelumnya. Sebagai murid Ibnu Sina, Sayid Ismail Jurjani melanjutkan metode kedokterannya, bahkan ia menyempurnakannya dengan memberikan koreksi dan penambahan serta terobosan baru. Ilmu pengetahuan medis Ibnu Sina disintesiskan dengan karya-karya ilmuwan lain seperti Razi, Ahvazi serta pengalaman para dokter terkemuka di zaman itu.
Di bidang mata, Jurjani melanjutkan pengujian yang dilakukan oleh 'Alī Ibn al-'Īsā Kahhal, salah satu dokter mata Muslim yang paling terkenal di abad keempat dan kelima Hijriah. Di Eropa, dia dikenal dengan nama Jesu Occulist. Ia menulis buku mengenai oftalmologi (Ophthalmology) yang merupakan cabang disiplin ilmu kedokteran mengenai anatomi, fisiologi dan penyakit mata. Jurjani mengadopsi saran pengobatan untuk berbagai penyakit yang disampaikan Ali Ibnu Isa di bidang pengobatan mata.
Ketiga, buku "Zakhireye Khwarazmshahi" merupakan buku referensi medis terlengkap dalam bahasa Farsi. Buku ini menunjukkan kemajuan ilmu kedokteran Iran yang termaju di zamannya dengan lahirnya karya terkemuka di bidang medis dan dokter-dokter terkenal seperti Ibnu Sina dengan karyanya, "Al-Qanun fi al-Tibb"; Abu al-Faraj Ibn Hindu dengan bukunya "Miftah al-Tibb wa-Minhaj al-Tullab", Abu al-Qasim al-Naishabouri, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, kehadiran rumah sakit besar yang tersebar di berbagai kota besar Iran menegaskan kemajuan dunia kedokteran di zaman itu. Kehadiran Jurjani dengan karya dan perannya sebagai dokter melengkapi bukti perkembangan ilmu pengetahuan di zaman Khwarizmi.
Para peneliti menilai buku "Zakhireye Khwarazmshahi" bukan hanya sebuah langkah besar untuk menghidupkan, sekaligus menyelamatkan bahasa Farsi sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Tapi lebih dari itu, menjadi sumber terminologi medis yang ditulis dalam bahasa Farsi. Dengan penulisan buku tersebut, Jurjani membuktikan independensi disiplin ilmu kedokteran Iran yang dimulai oleh Ibnu Sina dari pusat kedokteran Baghdad, tapi juga disertai independensi budaya. Selain menulis buku medis, Jurjani terjun langsung sebagai seorang dokter, dan pengajar ilmu kedokteran serta terlibat aktif mendidik para calon dokter di zamannya.
Buku "Zakhireye Khwarazmshahi" terdiri dari sepuluh jilid meliputi sepuluh bidang medis antara lain: anatomi, fisiologi, kebersihan, diagnosis dan prognosis, demam, penyakit tertentu di bagian tubuh, operasi, penyakit kulit, racun dan penangkal, dan obat-obatan baik yang sederhana dan kompleks. Penyusunan buku ini menelan waktu yang cukup lama.
Di jilid kesembilan, Sayid Ismail Jurjani menjelaskan alasan mengapa penyusunan buku ini berlarut-larut karena pekerjaaannya sebagai apoteker di kota Khwarizmi. Dalam pengantar jilid kesembilan, ia menjelaskan alasan mengapa pembahasan mengenai obat-obatan masuk dalam buku tersebut. Pada awalnya, Jurjani tidak berniat memasukan pembahasan obat-obatan dalam bukunya, tapi karena permintaan para ahli dan pejabat, akhirnya masalah farmasi dimasukan menjadi pembahasan khusus dalam bukunya.
Buku "Zakhireye Khwarazmshahi" ditulis antara tahun 504 Hijriah hingga 521 Hijriah yang bertepatan dengan momentum meninggalnya Qutb al-Din Muhammad. Penerusnya, Ala al-Din Atsiz meminta Sayid Ismail Jurjani menulis buku ringkasan "Zakhireye Khwarazmshahi" berjudul "Khafi Alayee" yang ditulis dalam bahasa Farsi dua jilid.
Sejarah mencatat hingga tahun 521 Masehi, Jurjani setidaknya telah menulis dua buku mengenai kedokteran. Selain kedua buku tersebut, Jurjani juga menulis berbagai karya lain seperti al-Iqraz al-Tibbiah wa al-Mabahis al-Alaiah,Tib Yadegar, Kitab-fi-Hifz al-Sihat, Zubdah al-Tib, al-Tazkirah al-Ashrafiyah fi Asnaah al-Tibbiah, dan al-Tib al-Mulkuki. Selain kedokteran dan farmasi, Sayid Ismail Jurjani juga menulis buku di bidang filsafat dan disiplin ilmu lainnya.