Pesona Iran yang Mendunia (24)
Ghiyath al-Din Jamshid Mas'ud al-Kashi lahir tahun 790 Hijriah atau 1388 Masehi di kota Kashan, provinsi Isfahan, Iran. Berkaitan dengan latar belakang keluarganya, Jamshid dalam salah satu karyanya menuturkan, “...Jamshid bin Masoud Tabib Kashani bin Mahmoud bin Muhammad.”
Masa kecilnya bersamaan dengan agresi Timorian ke Iran, Meskipun demikian ia tidak meninggalkan pendidikannya dan konsisten hingga akhir hayatnya sebagai ilmuwan. Para sejarawan tidak menjelaskan secara detil para gurunya, terutama di masa kecil hingga remaja. Jamshid mengenyam pendidikan di kota kelahirannya Kashan dan melanjutkan studi di kota Shiraz. Ayahnya, seorang dokter yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Dalam salah satu surat yang dikirim ayahnya kepada Jamshid, sang ayah bermaksud menulis syarah buku syair "Mi'yar al-Ash'ar" karya Nasir al-Din al-Tusi, dan mengirimkan kepada putranya.
Aktivitas ilmiah Jamshid yang dijelaskan para sejarawan adalah keberhasilannya melakukan pengamatan gerhana matahari pada 12 Zulqaidah 808 Hijriah atau bertepatan 2 Juni 1406 Masehi di Kashan. Karya pertamanya berjudul "Sullam al-Sama" yang ditulis dalam bahasa Arab di kota kelahirannya pada tahun 809 Hijriah atau 1407 Masehi. Di usia dua puluh tiga tahun, Jamshid masih berada di kota kelahirannya Kashan, dan menulis buku ringkasan mengenai astronomi dalam bahasa Farsi berjudul "Mukhtasar dar' Ilm-i Hay'at". Sejarah mencatat buku tersebut ditulis dari tahun 1410 hingga 1411 Masehi.
Kemudian, ilmuwan Kashan ini menulis buku berbahasa Farsi berjudul "Khaqani Zij" yang ditulis tahun 1413 Masehi dan selesai tahun 1414 Masehi. Karyanya ini membahas tabel astronomi (Zij) yang didedikasikan untuk Ulugh Beg, penguasa Samarkand dan cucu dari pendiri dinasti Timurid. Ghiyath al-Din Jamshid Mas'ud al-Kashi berharap dengan bantuan Ulugh Beg proyek intelektualnya terutama di bidang astronomi semakin berkembang maju.
Ketika masih berada di Kashan, Ghiyath al-Din Jamshid berada dalam naungan penguasa Timurian. Di era itu, astronomi dan matematika mengalami perkembangan pesat. Berbagai bukti seperti buku di kedua bidang tersebut, dan tabel astronomi sebagian masih bisa disaksikan hingga kini.
Pada 1417 Masehi, penguasa Timurian bernama Mirza Muhammad bin Taraghay Shahrukh, yang lebih dikenal dengan nama Ulugh Beg, mendirikan universitas besar. Di sekolah tersebut diajarkan berbagai disiplin ilmu dari teologi, fiqh, logika, matematika, astronomi dan ilmu pengetahuan alam di Samarkand. Ulugh Beg sendiri dikenal sebagai orang yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengatahuan. Saking besarnya universitas ini, sejumlah sejarawan menyebut madrasah Samarkand setara dengan Nizamiah Baghdad, Universitas al-Azhar yang dibangun dinasti Fatimiah di Mesir, dan Qurtuba di Andalusia, Spanyol.
Perhatian Ulugh Beg terhadap astronomi sangat tinggi. Ketika masih kecil, penguasa Timurian ini pernah mengunjungi Observatorium Maragheh yang dibangun oleh Khawaja Nasir al-Din al-Tusi di era Holagu Khan. Observatorium Maragheh memicu gelombang baru intelektualisme di dunia Islam, sekaligus berperan penting dalam pengembangan astronomi sistem pra-Copernicus non-Ptolemaic yang canggih, untuk menjelaskan gerakan planet. Ulugh Beg terinspirasi membangun Obseravatorium besar di Samarkand dari Observatorium Maragheh.
Pada 1424 Masehi memulai pembangunan observatorium besar di Samarkand. Pembangunan observatorium tersebut melibatkan banyak astronom dan matematikawan terkemuka yang datang dari berbagai wilayah termasuk Shiraz dan Kashan. Dengan bantuan para ilmuwan Iran, Ulugh Beg berhasil membangun Observatorium Samarkand, dan menjadikannya sebagai pusat peradaban baru.
Tampaknya, perhatian pemerintahan Ulugh Beg yang berpusat di Samarkand sedikit terlambat melihat bakat luar biasa yang dimiliki ilmuwan seperti Ghiyath al-Din Jamshid Mas'ud al-Kashi. Pasalnya, hingga tahun 1421 Masehi atau 824 Hijriah, Ghiyath al-Din Jamshid masih berada di tempat kelahirannya Kashan. Padahal ketika itu, ilmuwan Iran ini telah menulis berbagai karya termasuk buku berjudul "Talkhis al-Miftah". Akhirnya Ghiyath al-Din Jamshid diundang ke Samarkand. Ia termasuk salah satu ilmuwan yang memberikan kontribusi penting bagi pembangunan observatorium Samarkand. Pemuda dengan kemampuan luar bisa di bidang ilmu pengetahuan, terutama disiplin ilmu fisika, matematika dan astronomi ini, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan keahliannya.
Salah satu karya terpenting Ghiyath al-Din Jamshid berjudul Khaqani Zij yang disusun berkat bantuan finansial Ulugh Beg. Sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Ulugh Beg, Ghiyath al-Din Jamshid menamai bukunya Khaqani Zij, yang diambil dari nama ayah Ulugh Beg, Shahrukh Timurian yang dikenal dengan nama Khaqani.
Sebagian sejarawan meyakini buku Khaqani Zij inilah yang menjadi penyebab diundangnya Ghiyath al-Din Jamshid ke Samarkand. Tapi sebagian sejarawan lain mengungkapkan bahwa Ulugh Beg mengenal Ghiyath al-Din Jamshid melalui Qazi Zadeh yang juga seorang matematikawan dan astronom terkemuka ketika itu. Pada akhirnya, ilmuwan muda Iran ini diundang ke istana Ulugh Beg yang berpusat di Samarkand, dan menjadi jajaran ilmuwan terkemuka era Timurian.
musik
Qazi Zadeh Rumi, yang merupakan salah satu ilmuwan Rum (Turki saat ini) mengunjungi Samarkand untuk bertemu dengan Mirza Ulugh Beg. Dalam perjalanan tersebut, Qazi Zadeh melewati kota Kashan dan tinggal beberapa waktu untuk istirahat di kota itu. Ia mengunjungi pasar dan pusat pendidikan Kashan untuk bertemu dengan ilmuwan matematika dan astronomi.
Di sebuah tempat, ia melihat seorang lelaki bertubuh pendek dan disampingnya ada tumpukan buku, astrolabe dan peralatan astronomi lainnya. Qazi Zadeh mengira lelaki itu seorang ilmuwan matematika dan astronomi. Lalu, ia menyapa lelaki itu, sambil menanyakan astrolabe miliknya. "Tuan, alat apa ini ?". Lelaki itu malah menjawab, "Mau dipakai apa [alat ini]". "Saya akan membelinya !" ujar Qazi Zadeh. "Anda akan membeli Astrolabe milikku ?", ujar lelaki itu dengan nada tanya.
Kini, Lelaki itu justru yang menghujani Qazi Zadeh dengan pertanyaan. "Bagaimana Astrolabe tepat untuk pekerjaan Anda, Tuan ?". "Saya hanya akan menjual astrolabe kepada orang yang menguasai astronomi dan bisa mengoperasikan astrolabe ini", tegas lelaki itu. Kemudian, Qazi Zadeh menjelaskan keahliannya di bidang astronomi dan matematika untuk meyakinkan lelaki Kashan itu. Lelaki itu terus mengajukan pertanyaan tentang astronomi dan Qazi Zadeh menjawabnya satu persatu. Tapi, tidak semua pertanyaan bisa dijawab oleh Qazi Zadeh.
Kini lelaki itu menjelaskan secara panjang lebar pertanyaan yang diajukannya sendiri kepada tamunya itu. Qazi Zadeh terkesima dengan pengetahuan yang dimiliki lelaki Kashan itu. Lalu, ia menanyakan namanya, dan dijawab oleh lelaki itu, Ghiyath al-Din Jamshid. Kedua orang yang baru bertemu itu menjadi sahabat. Kemudian Qazi Zadeh melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota Samarkand dan bertemu dengan Ulugh Beg. Ketika itu, Qazi Zadeh mengetahui sultan Timurian sedang membangun Observatorium. Qazi Zadeh berkata, "Yang Mulia, saya tahu siapa orang yang paling tepat mengerjakan proyek ini. Ia seorang lelaki bertubuh pendek. Dari bumi ke langit saya mengetahuai dia orang yang baik [dan berilmu].." Lalu, Ulugh Beg mengirimkan utusan untuk menjemput Ghiyath al-Din Jamshid di Kashan, dan menugasinya bekerja di observatorium ".
Ghiyath al-Din Jamshid bersama dengan keponakannya Mouin al-Din Kasani dikenal sebagai matematikawan terkemuka di zamannya. Keduanya meninggalkan Kashan menuju Samarkanf antara tahun 819 Hijriah hingga 822 Hijriah. Ghiyath al-Din Jamshid mengirim dua surat kepada ayahnya yang menjelaskan asmosfir intelektual Samarkand ketika itu, interaksi dengan sesama ilmuwan dan raja, serta hubungan sosial dan budaya di zaman itu.