Okt 19, 2017 11:11 Asia/Jakarta

Pada pembahasan sebelumnya kita sudah mengulas latar belakang Ghiyath al-Din Jamshid Mas'ud al-Kashi yang lahir  tahun 790 Hijriah atau 1388 Masehi di kota Kashan. Ayahnya, seorang dokter yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Di usia dua puluh tiga tahun, Jamshid masih berada di kota kelahirannya Kashan, dan menulis buku ringkasan mengenai astronomi dalam bahasa  Farsi berjudul "Mukhtasar dar' Ilm-i Hay'at".

Kemudian, ilmuwan Kashan ini menulis buku berbahasa Farsi berjudul "Khaqani Zij" yang didedikasikan untuk Ulugh Beg, penguasa Samarkand dan cucu dari pendiri dinasti Timurid. Pada akhirnya, ilmuwan muda Iran ini diundang ke istana Ulugh Beg yang berpusat di Samarkand, dan menjadi jajaran ilmuwan terkemuka era Timurian.   

Ketika Ghiyath al-Din Jamshid tiba di Samarkand, para ilmuwan istana Ulugh Beg menyampaikan permasalahan yang tidak bisa mereka selesaikan untuk menguji kemampuan pemuda Kashan itu. Sejak hari pertama, Jamshid mampu menjawab berbagai permasalahan ilmu pengetahuan yang ditanyakan kepadanya.Tepat sebagaimana diuraikan oleh Qazi Zadeh Rumi, ilmuwan di masa itu yang mengakui keunggulan Ghiyath al-Din Jamshid di bidang ilmu pengetahuan, terutama di bidang astronomi dan matematika.

Sejak itu, Jamshid menjadi ilmuwan penasehat istana, dan Ulugh Beg sendiri mengakui kecerdasan dan kedudukan ilmu pengetahuan lelaki yang datang dari Kashan ke Samarkand tersebut.

Di bidang astronomi, Jamshid Kashani melahirkan berbagai macam terobosan penting. Buku karyanya berjudul "Khaqani Zij" merupakan tabel trigonometri yang berisi fungsi sinus, tabel gerakan longitudinal matahari, bulan, dan planet. Para peneliti menilai buku Khaqani Zij sebagai bentuk revisi atas buku "Ilkhani Zij" karya Nasir al-Din al-Tusi.

Dalam pengantar buku tersebut, Jamshid Kashani memberikan penjelasan rinci tentang metode penentuan titik pertengahan dan anomali gerakan bulan berdasarkan tiga pengamatan gerhana bulan yang dilakukannya di Kashan, dan tiga pengamatan gerhana bulan oleh Ptolemy yang dijelaskan dalam Almagest. 

Di buku ini dijelaskan deskripsi rinci tentang kalender lunar Hijrah, kalender Persia, dan kalender Yunani-Suriah (Seleukus), reformasi kalender al-Khayyami dari kalender Cina-Uigur, dan kalender yang digunakan di kekaisaran Holagu Khan yang dibuat oleh Nasir al-Din al-Tusi. Ia juga memberikan penjelasan rinci tentang gerak longitudinal matahari, bulan, dan planet-planet, serta gerakan garis lintang bulan dan planet-planet. Jamshid Kashani juga memberikan tabel longitudinal dan latitudinal parallaxes untuk lintang geografis tertentu, tabel gerhana, dan visibilitas bulan. 

Dalam waktu yang tidak relatif lama menetap di Samarkand, Jamshid Kashani menjadi ilmuwan terkemuka. Berbagai terobosannya, terutama alat yang ditemukan dan dibuatnya menjadikan universitas Samarkand sebagai pusat pendidikan dan riset terbesar di kawasan Timur. 

Di bidang matematika, Jamshid Kashani menulis buku berjudul "Miftah al-Hisab". Dalam buku tersebut, ilmuwan Iran ini menemukan pecahan desimal merupakan salah satu karya besarnya yang memudahkan untuk menghitung aritmatika. Buku tersebut memberikan pengaruh besar bagi para pemikir setelahnya. Bahkan selama ratusan tahun menjadi buku teks di berbagai universitas Eropa.

Salah satu pengakuan muncul dalam pengantar terjemah bahasa Rusia buku Miftah al-Hisab, “Kashani merupakan matematikawan dan astronom terbesar abad ke-15. Berbagai penemuannya dalam masalah ini merupakan contoh dari puncak pengetahuan di abad pertengahan [dunia Islam]. Metode dan teknik canggih yang dipergunakan Kashani dalam matematika telah menyedot perhatian para ilmuwan kami.” 

Selain itu, Ghiyath al-Din Jamshid Mas'ud al-Kashi juga menulis risalah mengenai Instrumen observasi astronomi yang ditulis tahun 1416. Dalam buku tersebut, al-Kashi menggambarkan berbagai macam instrumen yang berbeda untuk observasi astronomi seperti triquetrum, bola armillary, equinoctial armillary juga solsticial armillary, sinus, sextant, dan Fakhri sextant yang dipergunakan di observatorium Samarkand.

Sejarawan mencatat, Jamshid Kashani menemukan delapan alat astronomi dan metode pembuatannya yang dijelaskan dalam buku berjudul "Syarh al-Alat Rasd". Dalam bukunya "Nuzha al-Hadaiq", Jamshid Kashani menjelaskan dua instrumen astronomi yang ia ciptakan, yaitu plat konjungsi ( plate of conjunctions) dan plat zona (Plate of Zones). 

Plat konjungsi adalah instrumen perhitungan analog yang digunakan untuk menentukan waktu dan hari kapan konjungsi planet akan terjadi. Sedangkan plat zona adalah instrumen yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah tentang planet seperti prediksi posisi yang benar antara matahari dan bulan dalam garis bujur, garis lintang matahari, bulan, dan planet-planet. Instrumen tersebut juga digunakan untuk mengukur ekliptika matahari.

Lebih dari itu, karya terbesar Jamshid Kashani adalah observatorium Samarkand. Ia memainkan peran besar dalam perhitungan teoritis, pembangunan, metode kerja dan pembuatan alat serta perhitungan observatorium Samarkand. Terkait hal ini, sejarawan Iran abad kesembilan Hijriah, Ghiyath al-Din Khand Mir dalam bukunya "Habib al-Sir" menulis, "Plotemy kedua Maulana Ghiyath al-Din Jamshid dan Maulana Mouin al-Din Kashi mencurahkan seluruh hidupnya untuk pembangunan observatorium [Samarkand] ini". 

Sejarah mencatat, Ghiyath al-Din Jamshid adalah orang yang menyiapkan gambar desain bangunan Observatorium Samarkand. Sedangkan pembuat peralatan astronomi adalah Ibrahim Safar atas instruksi Jamshid Kashani. Setelah bangunan observatorium berdiri, Jamshid bertangungjawab pejabat observator dan menyusun tabel astronomi. Tapi tugas tersebut tidak berlangsung lama, karena Jamshid meninggal dunia.

Para sejarawan berbeda pendapat mengenai makam ilmuwan iran ini. Sebagian mengatakan bahwa Jamshid dimakamkam di bukit Chapan Ata. Tapi sebagian sejarawan lainnya mengungkapkan bahwa Jamshid Khashani dimakamkan di sekitar makam Qazi Zadeh di kompleks pemakaman Shah Zand.

Ilmuwan Iran ini meninggal jauh dari tanah kelahirannya. Semasa hidupnya, Jamshid menghadapi berbagai konspirasi dari pihak-pihak yang tidak menyukai kehadirannya di Samarkand. Dari jauh, Ayahnya mengkhawatirkan kondisi Jamshid. Kekhawatiran itu tampak jelas dalam bagian surat-menyurat antara ayah dan putranya itu semasa Jamshid masih hidup.

Ia meninggal dalam usia yang masih muda. Ilmuwan Iran ini meninggal tanggal 19 Ramadhan tahun 832 Hijriah (1429 Masehi) dalam usia 42 tahun dibunuh oleh orang tak dikenal suruhan Ulugh Beg di sekitar observatorium Samarkand. Ia meninggal di tempat yang sebagian hidupnya dicurahkan untuk membangun dan mengembangkan observatorium terkemuka di zamannya itu.