Pesona Iran yang Mendunia (27)
Sepanjang sejarah, syair selalu terbenam dalam hati masyarakat Iran. Meskipun penguasa Iran datang dan pergi silih berganti, tapi syair senantiasa berada dalam posisi khusus dan kedudukan yang tinggi. Syair tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari orang-orang Iran. Ilmu pengetahuan dan sastra di Iran memiliki sejarah panjang, dan memasuki fase baru dengan berakhirnya imperium Archaemenid, yang berakhir hingga 331 Sebelum Masehi.
Agresi Alexander ke Iran, dan jatuhnya imperium Archaemenid memengaruhi kondisi sastra dan ilmu pengetahuan di Iran. Setelah Alexander menguasai Iran, ia memerintahkan untuk menerjemahkan literatur penting mengenai ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Farsi. Kemudian, manuskrip aslinya yang berbahasa Farsi dimusnahkan bersama dokumen penting lainnya. Tapi, Alexander dengan berbagai kejahatannya tersebut tetap tidak mampu memberangus ilmu pengetahuan di Iran. Sebab, kehadiran para ilmuwan dan sastrawan Iran menyebabkan dinamika ilmu pengetahuan dan sastra tetap terjaga. Mereka menghasilkan karya-karya baru di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan satra.
Di era Sassanid, orang-orang Iran berada di garda depan dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan sastra dengan berbagai karyanya. Pengaruh karya mereka menyebar tidak hanya di wilayah Iran saja, tapi juga menembus berbagai kawasan lainnya di dunia. Perkembangan kebudayaan dan peradaban di era Sassanid mencapai kedudukan tinggi. Bahkan para peneliti meyakini kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan sastra yang dicapai di era Sassanid telah memberikan pengaruh besar terhadap gerakan ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Sastra, terutama syair memiliki sejarah ribuan tahun di Iran, yang berdampingan dengan seni, ilmu dan pengetahuan lainnya. Karya-karya sastra ditulis dalam bahasa Pahlevi, Avista dan Arami. Seiring diterimanya agama Islam oleh orang-orang Iran, bahasa Farsi diterima menjadi bahasa nasional Iran.
Setelah masuknya Islam ke Iran, syair dan sastra Farsi memiliki sarana untuk berkembang pesat yang dimulai sejak pemerintahan Samanid pada permulaan abad kesembilan. Sebab, dinasti Samanid adalah orang-orang pribumi Iran yang mencurahkan hidupnya untuk menyebarkan budaya Iran dan sastra Farsi. Mereka mendukung para penulis, penyair dan penerjemah Iran. Seiring upaya para penguasa Samanid untuk mengokohkan posisi politik dan budayanya, dimulailah gerakan nasional budaya dan ilmu pengetahuan di sekitar timur laut Iran.
Di era itu, lahir seorang penyair dan sastrawan terkemuka Iran bernama Abu Abdullah Jafar bin Muhammad Rudaki di salah satu desa yang terletak di pengunungan Samarkand, sekarang termasuk wilayah timur Uzbekistan. Meskipun tanggal persis kelahirannya tidak tercatat secara pasti, namun para sejarawan meyakini Rudaki lahir sekitar pertengahan abad kesembilan. Para sejarawan menyatakan bahwa kelahiran Rudaki berbarengan dengan ilmuwan dan filsuf besar dunia Islam, yaitu Zakaria Razi, dan Abu Nasir Farabi.
Rudaki memiliki keahlian di bidang sastra dan musik. Keahliannya dalam memainkan alat musik dan melantunkan syair, terkenal ke mana-mana, hingga Amir Nasr Samanid yang menjadi penguasa Khorasan saat itu mengundangnya ke istana. Hingga akhir abad kelima Hijriah atau abad sebelas Masehi, syair dilantunkan dengan iringan petikan alat musik. Ketika itu, kebanyakan penyair hanya melantunkan syairnya saja. Oleh karena itu, mereka merekrut para penabuh alat musik yang disebut "Rawi", untuk mengiringi lantunan syairnya. Tapi Rudaki memiliki dua keahlian tersebut sekaligus.
Di bidang sastra, Rudaki memiliki keahlian khusus, salah satunya yang terkenal dalam diksi syair. Keahliannya memilih kata dalam syair diakui oleh para ahli sastra di zamannya hingga kini. Sebab, sebagian kata yang dipergunakannya tidak ditemukan dalam kamus bahasa Farsi manapun.
Setelah Rudaki menjadi penyair istana Samanid, pengaruh syairnya semakin berkembang luas. Pada awalnya, Rudaki selama beberapa waktu tinggal di istana atas bantuan Abu Fadhl Balami, salah seorang menteri dinasti Samanid. Kemudian ia menjadi penyair istana di bawah pengaruh langsung Amir Nasir Samanid, raja kedua dinasti Samanid. Rudaki juga bertemu dengan para ilmuwan dan sastrawan dan penyair terkemuka di zamannya.
Shahid Balkhi, Abu Ishaq Zibari, Kashai dan Daqiqi termasuk para penyair terkemuka di masa itu. Rudaki dalam sejumlah syairnya menyebut nama mereka. Rudaki merupakan seorang penyair terkemuka, dan kemampuannya diperoleh dari syair dan musik yang digarapnya. Bahkan, menurut Nasir bin Ahmad, tidak ada seorang penyair pun yang setara dengan Rudaki. Oleh karena itu, Abu Abdillah Jafar bin Muhammad Rudaki dikenal sebagai bapak syair Farsi. Rudaki meninggal dunia pada tahun 329 Hijriah atau 940 Masehi.
Sebagian peneliti menyebutkan bahwa syair Rudaki mencapai satu juta tiga ratus ribu bait. Sebagian menilai jumlah tersebut terlalu berlebihan, tapi sebagian peneliti lain meyakini mungkin saja demikian mengingat kemampuan dan potensi yang besar dalam bersyair, serta keahliannya menyusun kembali karya besar seperti Kalilah dan Dimnah. Amat disayangkan, hingga kini syairnya yang tersisa hanya 960 bait saja.
Berbagai bait dari kasidah hingga ghazal karya Rudaki yang tersisa hingga kini menunjukkan keahliannya di bidang syair. Para ahli sastra berkeyakinan bahwa karya sastra Rudaki memiliki karakteristik khusus dalam susunan dan struktur kalimatnya. Sebagian peneliti meyakini salah satu karya Rudaki yang tercerai-berai dan masih tersisa hingga kini adalah buku Kalilah dan Dimnah.
Kalilah dan Dimnah merupakan cerita mitologi India dalam bentuk lakon hewan. Buku aslinya berjudul Paschatantra yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dan diterjemahkan ke dalam bahasa Pahlevi oleh Berzuveh Tabib. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abdullah bin Muqafa'.
Amir Nasr Ahmad Samanid memerintahkan Abu al-Fadhl Ba'lami menerjemahkan buku Kalilah dan Dimnah ke bahasa Farsi Dari. Kemudian, Rudaki menyusun dan mensistematikakan terjemahan tersebut dalam bentuk syair Farsi yang indah dan menawan. Dimnah dan Kalilah yang disusun Rudaki mencapai 115 bait, salah satunya antara lain:
Har ki namokht (nayamokht) az gazasteh rozegar
Niz namozad ze hich amozegar
Ta jahan bod az sar Adam faraz
Kasi nabod az raz danesh bi niaz
Danesh andar del cheragh roshan ast
Yang tidak mengambil pelajaran dari masa lalu
tidak belajar sedikitpun dari sang guru
sepanjang kehidupan manusia di dunia
rahasia pengetahuan dibutuhkan manusia
dialah lentera penerang jiwa