Nov 16, 2017 14:00 Asia/Jakarta

Abu Abdullah Jafar bin Muhammad Rudaki lahir di salah satu desa yang terletak di pengunungan Samarkand. Para sejarawan meyakini Rudaki lahir sekitar pertengahan abad kesembilan. Dari sekian banyak syair karya Rudaki, yang tersisa hingga kini hanya 960 bait saja. Dari jumlah tersebut, 115 bait mengenai buku Kalilah va Dimnah. Rudaki menyusun kembali cerita mitologi India mengenai etika dalam bentuk lakon hewan yang ditulis atas perintah Amir Abu Nasir Samanid.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh seorang orientalis Jerman, Paul H., Rudaki juga menulis buku syair mengenai cerita klasik "Sinbad Nameh" dan hikayat "Seribu Satu Malam". Cerita klasik Sinbad Nameh masuk ke Iran sejak era Sassanid dan diterjemahkan ke dalam bahasa Pahlevi. Rudaki menyusun kembali cerita Sinbad dalam bentuk syair yang indah berdasarkan terjemahan Farsi al-Fawaris Qanarzi. Rudaki menyusun cerita Sinbad dengan struktur yang mirip Kalilah va Dimnah dalam bentuk syair yang menawan.Tapi amat disayangkan hanya sebagian baitnya saja yang masih bisa dibaca saat kini, karena sebagian hilang.

Syair Rudaki berbentuk madayeh, ghazal, qasidah dan maratsi. Berdasarkan syair yang sampai ke tangan kita, madayeh merupakan pola syair Persia yang tertua. Dan Rudaki termasuk penyair terkemuka di bidang ini. Para penyair setelahnya menyebut Rudaki sebagai guru dan mengikuti gayanya. Pola syair Rudaki menggunakan gaya yang sederhana yang ditandai dengan optimisme dan pesona dengan sentuhan melankolis. Karya puisinya memberikan kontribusi paling penting dalam literatur sastra Persia.

Salah satu bentuk syair Rudaki adalah Ghazal yang merupakan ekspresi puitis yang indah mengenai cinta. Inilah gaya puisi yang paling banyak mewarnai dinamika syair di dunia Islam dan Timur yang banyak dipengaruhi oleh syair Persia. Meskipun  telah berlalu lebih dari seribu tahun silam, tapi puisi Rudaki masih berkilau cemerlang hingga kini. Sebuah petikan ghazal dari Rudaki menunjukkannya kecemerlangannya.

چون کشته ببینی ام دو لبه گشته فراز

از جان تهی این قالب فرسوده به آز

بر بالینم نشین و می گوی به ناز

کای من تو بکشته و پ‍شیمان شده باز

[Chun kushteh bibini-am du lab gashteh faraz

Az jan tahi in ghaleb farsudeh beh Az

Bar balinam nesin-o mi gui beh naz

Kai man beh kushteh-o pashiman shodeh baz]

kematian membuatkan terpana

tatkala jiwa lepas dari raga nan renta

di peraduan dikau bertutur

tentang sesal diri nan merana

Secara umum, warisan syair Rudaki dibagi menjadi tiga kategori yaitu cinta, etika dan kemanusiaan. Pada tahap awal karirnya, ia menulis lirik cinta. Kemudian, puisi cinta membuka jalan bagi Rudaki untuk menggarap tema etika. Sebuah contoh yang menonjol dari tema etika adalah buku Kalilah va Dimnah. Menjelang akhir hidupnya, ia menulis tentang eksistensi diri ketika ia menemukan dirinya. Sebuah contoh yang baik dari puisi periode ini adalah Shikayat az Piri. Qasidah ini dimulai dengan pengantar sederhana dalam bentuk ghazal.

Puisi Rudaki

Studi yang dilakukan para peneliti terhadap karya syair Rudaki yang masih tersisa hingga kini menunjukkan adanya karekter kuat dari nilai rasionalisme, cinta, saintisme, dunia yang tidak bernilai, dan kebahagiaan. Penyair Spanyol, Miguel de Unamuno (1864-1936M) berkeyakinan bahwa seorang penyair sejati memiliki prinsip utama yang mempengaruhi karya syairnya yaitu: dunia fana, dan cinta. Prinsip meyakini dunia tidak bernilai akan meningkatkan kecintaan terhadap yang transenden, non-materi yang tidak terbatas yaitu: Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika dunia tidak diletakkan di hati, maka kehidupan akan dipenuhi dengan kebaruan dan keabadian.

Barangkali jika syair Rudaki lebih banyak yang tersisa hingga kini, mungkin akan lebih banyak ruang untuk membahas dua masalah penting tentang "Dunia yang Tidak Bernilai, dan Cinta", dalam karya syairnya. Meskipun demikian, berbagai syairnya menunjukkan perhatian besar Rudaki terhadap masalah tidak bernilainya dunia dan kematian.

Rudaki memandang dunia seperti mimpi sebagai kembang tidur yang tidak memiliki pijakan dalam kehidupan nyata. Sebuah petikan bait syair Rudaki menunjukkan  pentingnya masalah ini:

این جهان پاک خواب کردار است

آن شناسد که دلش بیدار است

نیکی او به جایگاه بد است

شادی او به جای تیمار است

چه نشینی بدین جهان هموار

که همه کار او نه  هموار است

[In jehan pak, khob kerdar ast

An shenasad keh delash bidar ast

Niki ust beh jaighah bad ast

Shadi ust beh ja-ye timor ast

Che neshini bedin jehan hamvar

Keh hameh kar ust nah hamvar ast]

Dunia fana, bunga tidur belaka

tersadarlah yang hatinya terjaga

kebaikannya laksana cendala

suka citanya menjadi luka

hidup di dunia nan gangsar

semua lakunya tidaklah jembar

Rudaki

Rudaki dalam berbagai syairnya menjelaskan pandangan filosofis tentang makna kehidupan dan pentingnya cinta. Menurut Rudaki, hanya dengan cinta, manusia bisa memberikan makna dalam kehidupan dunia yang fana ini. Cinta dalam pandangan Rudaki terdiri dari cinta yang "membumi", dan "melangit" atau cinta transenden. Cinta yang kedualah yang merupakan cinta abadi, dan menjadi inspirasi dari para penyair. Tentang Cinta dan makna kehidupan, Rudaki bertutur lirih:

ز خاک من همه نرگس دمد جای گیاه

کسی که آگاهی از ذوق عشق جانان یافت

ز خویش حیف بود که دمی بود آگاه

 

[Ze khak man hameh Narges damad beh ja-ye giyah

kasi keh agahi az zough eshgh janan yaft

ze khish heift buvad keh dami buvad agah]

dari tanahku bunga Narges bermekaran

ketika memahami makna cinta

tatkala sadar diri setiap saat

Masalah lain yang menjadi perhatian Rudaki adalah kebahagiaan.Sejumlah bait syairnya menjelaskan tentang nasib manusia, tujuan hidup manusia dan kebahagiaan. Rudaki menggungkapkan empat faktor penting dalam meraih kebahagiaan yaitu, sehat jasmani, akhlak terpuji, pemikiran yang baik, dan meninggal dalam keadaan baik. Meskipun menjelaskan pentingnya kesehatan jasmani yang menjadi faktor kebahagiaan fisik, tapi lebih dari itu Rudaki menekankan tentang pentingnya kesehatan mental dan pikiran serta perbuatan baik.