Nov 23, 2017 10:53 Asia/Jakarta

Tasawuf Islam-Iran merupakan warisan khazanah budaya Iran yang kaya. Hingga kini menjadi sumber inspirasi yang tetap hidup di dunia modern  dewasa ini. Para sufi terkemuka Iran memainkan peran penting dalam penyebaran khazanah tasawuf Islam. Sejumlah nama sufi terkenal  Iran di antaranya: Hallaj, Bayazid Bustami, Kharghani, Abu Said Abul Khair, dan lainnya. Dari deretan nama tersebut, Abu Said Abul Khair termasuk sufi dengan karakteristik khusus, terutama karya di bidang sastra sufistik.

Abu Said Abul Khair adalah sufi, ahli hadis dan sastrawan terkemuka Khorasan pada permulaan abad kelima Hijriah. Arif besar ini dilahirkan tahun 357 Hijriah atau 967 Masehi di desa Meyhaneh, bagian dari Khorasan Raya, saat ini terletak di dekat Torbat-e Heydarieh yang termasuk bagian dari provinsi Khorasan-e Razavi. Di tanah kelahirannya pula, Abu Said meninggal dunia tahun 440 Hijriah atau 1048 Masehi.

Ayah Abu Said adalah seorang dokter dan penjual obat-obatan. Selain itu, beliau seorang yang memiliki perhatian besar terhadap tasawuf. Sejak kecil, Abu Said sering mengikuti ritual sufi yang diadakan ayahnya sendiri. Oleh karena itu, tasawuf bukan dunia yang asing bagi Abu Said. Dari keluarganya, ia mewarisi bekal sufisme.

Ketika Abu Said kecil hingga masa mudanya, Khorasan Raya berada dalam pengaruh kekuasaan dinasti Ghaznavid dengan ibukota di Ghazni, yang saat ini terletak di Afghanistan. Dinasti Ghaznavid memiliki pengaruh yang luas dari barat Iran hingga timur India. Tapi di akhir kehidupan Abu Khair, Khorasan diserang orang-orang Turki yang mulai mendirikan dinasti Seljuk di Iran.

Abu Said mengenyam pendidikan dasar di desa kelahirannya Meyhaneh,  kemudian melanjutkan pendidikan Islam di kota Nishapur. Tapi, arif besar ini kembali ke Meyhaneh hingga akhir hayatnya. Abu Said mempelajari berbagai studi Islam dari al-Quran, hadis fiqih, hingga sastra Arab. Namun minatnya yang besar terhadap tasawuf membawa Abu Said melakukan perjalanan ke berbagai kota kecil di sekitar provinsi Khorasan untuk mengunjungi para sufi dan guru tasawuf. Abu Said berguru kepada sejumlah tokoh besar, seperti sufi Abul Hassan Kharqani dan Abul Qasim Bashar Yasin.

Abu Said adalah seorang sufi sekaligus penyair terkenal yang berkontribusi besar terhadap perkembangan tradisi tasawuf. Perjalanan intelektual dan karya sufistik Abu Said bersumber dari buku Asrar al-Tauhid (Rahasia Tauhid) yang ditulis salah seorang cucunya bernama Mohammad Ibn Monavvar, sekitar 130 tahun setelah kematiannya. Buku berbahasa Farsi ini memberikan referensi penting tentang catatan hidup Abu Said Abul Khair dari berbagai sumber dan berisi kumpulan kata-katanya.

Tokoh-tokoh Iran

Lembaran sejarawan menunjukkan selama hidupnya ketenaran Abu Said Abul Khair menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam, bahkan hingga menembus Spanyol. Dia adalah penulis sekaligus penyair sufi pertama yang menggunakan secara luas puisi cinta umum untuk mengekspresikan pengalaman mistisis yang memberi pijakan penting bagi puisi sufistik Iran.

Berbagai literatur menunjukkan bahwa Abu Said Abul Khair  berpidato di berbagai pertemuan penting yang senantiasa disertai bait-bait puisi yang mempesona, termasuk syair dari penyair pendahulunya. Lebih dari 1.500 bait syair dinisbatkan kepada Abu Said Abul Khair. Tapi, dari jumlah tersebut sebagian merupakan karya para penyair sebelumnya. Abu Said hafal di luar kepala syair-syair para pendahulunya. Biasanya, ia mengutip syair para penyair sebelumnya sebagai penegas, maupun untuk menjelaskan makna syair dan kata-katanya.

Mayoritas peneliti karya Abu Said Abul Khair sepakat menobatkan beliau sebagai penyair sufi pertama Iran. Mereka berkeyakinan bahwa Abu Said adalah seorang sufi yang menyampaikan pandangan sufistiknya melalui bait-bait syairnya. Oleh karena itu, dari aspek ini, Abu Said lebih utama dari Sinai dan Attar.

Tampaknya, tidak mudah untuk mengklasifikasikan mana karya Syeikh Abu Said Abul Khair dan karya pendahulunya, dari sekian banyak bait-bait syair yang dinisbatkan kepadanya. Sebab, sebagian peneliti berkeyakinan bahwa karya  syair Abu Said relatif sedikit.

Dr. Shafei Kadkani yang melakukan riset mendalam mengenai  Abu Said dan karya-karyanya, mengatakan, "Dari seluruh rubaiyah dan syair yang dinisbatkan kepada beliau [Abu Said], jelas kiranya beberapa rubaiyah didendangkan sendiri. Perspektif  ini menempatkan beliau termasuk deretan penyair besar. Beliau adalah salah satu penyair paling terkenal dalam sejarah sastra Persia sekaligus pendiri syair sufistik, dan pembuka rubaiyah irfan terindah. Beliau menyempurnakan rubaiyah, bersama filsuf dan penyair terkemuka Iran, Khayyam. Ia termasuk yang terbesar dari para guru mulia dan bersih serta berpikiran terbuka".

Para peneliti berkeyakinan bahwa Syeikh Abu Said sangat mencintai puisi melebihi seorang penyair pada umumnya. Kehidupan beliau tidak bisa dilepaskan dari syair. Berdasarkan biografi yang disusun oleh salah seorang cucunya, Syeikh Abu Said mulai menyukai syair sejak usia sekitar enam tahunan yang terus berlanjut hingga akhir hayatnya. Syair yang dipergunakannya kebanyakan dalam bentuk puisi awam atau prosa biasa yang mampu dipahami oleh seluruh kalangan. Karakteristik syair Abu Said bisa dilihat dalam penjelasan buku Asrar al-Tauhid yang berisi perkataan dan sejarah kehidupan penyair sufistik Iran itu.

Warisan budaya Iran

Hingga kini, banyak orang yang menjelaskan karamah Syeikh Abu Said. Sebagian dari karamah tersebut berupa kemampuan batinnya yang tajam, bahkan bisa mengetahui isi batin orang lain. Berdasarkan catatan biografinya, Abu Said sejak kecil memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ketika tumbuh dewasa, kecerdasannya semakin matang, dan ia dianugerahi kemampuan mistis bisa mengetahui isi batin orang lain.

Terkait hal ini, Dr. Shafei Kadkani menuturkan, "Poros utama karamah yang dinisbahkan kepada Abu Said Abul Khair adalah Farast atau kemampuan membaca pikiran orang lain. Dengan kemampuannya tersebut, sebagian orang, terutama masyarakat awam berkeyakinan bahwa beliau dianugerahi karamah. Sangat sulit bagi masyarakat awam membayangkan bagaimana manusia suci tidak dikarunia karamah sebagai anugerah khusus ilahi kepadanya."

Para murid dan pengikut Syeikh Abu Said Abul Khair adalah anggota keluarganya sendiri. Mereka termasuk pengikut setia yang bekerja di berbagai bidang termasuk perniagaan, tapi tetap memegang teguh prinsip spiritualitas. Syekh Abu Said menyusun 10 panduan bagi pemula jalan sufistik. 10 aturan ini terdiri dari 17 aturan praktis yang telah dijalankan dengan ketat oleh Syeikh Abu Said sendiri selama hidupnya. Salah satu dari aturan tersebut adalah membuka pintu rumah bagi orang-orang yang membutuhkan dan kaum papa, meluangkan waktu untuk mempelajari aturan hukum agama, menjalani kehidupan zuhud, dan melayani orang lain.