Pesona Iran yang Mendunia (36)
Hakim Abu Mo’in Hamid ad-Din Nasir ibn Khusraw Qubadiani Balkhi yang lebih dikenal dengan nama Hujat, termasuk penyair dan pemikir terbesar Iran abad kelima Hijriah. Ia dilahirkan bulan Dzulqaidah tahun 394 Hijriah di daerah Qubadian yang berada di sekitar Balkh, dan saat itu termasuk kawasan Khorasan Raya.
Nama Nasir Khusraw dan ayahnya beberapa kali disebutkan dalam berbagai bait syair dengan sebutan "Hujat" atau "Hujat Zamin Khorasan". Gelar tersebut diberikan Khalifah Fatimiah kepada Nasir Khusraw, yang menempatkannya dalam kedudukan tinggi di kalangan penganut Ismailiah.
Nasir Khusraw di buku "Safarnameh" memperkenalkan dirinya sebagai orang Qubadiani al-Marvazi. Masalah ini, menyebabkan sebagian orang menyebutnya sebagai orang Qubadian Marv. Para peneliti karyanya berkeyakinan bahwa penyebutan Marvazi yang disebutkan dalam buku perjalanannya disebabkan karena ia pernah berdomisili di Marv. Sebab, Nasir Khusraw bekerja dalam pemerintahan dan membangun rumah di sana.
Nasir Khusraw dalam karya syairnya juga menyebut Balkh sebagai tanah air, kota dan rumahnya. Ia juga memiliki tanah, kebun dan keluarga di Balkh, yang menjadi alasan dirinya menyebut wilayah itu sebagai tanah airnya di berbagai bait syair yang ditulisnya.
Berdasarkan karya-karya Nasir Khusraw sendiri, para sejarawan meyakini ia dibesarkan di keluarga terdidik yang bekerja di pemerintahan. Oleh karena itu, sejak usia kanak-kanak, Nasir Khusraw telah menuntut ilmu dan tumbuh menjadi orang mencintai ilmu pengetahuan di berbagai bidang, dari filsafat, astronomi, medis, matematika, musik, seni lukis, retorika, sastra hingga ilmu agama. Nasir Khusraw dalam buku syairnya menjelaskan setiap kali mendengar ilmu pengetahuan di sebuah majelis, ia akan duduk untuk mendengarkannya dengan khusuk.
Selain mempelajari ilmu pengetahuan di berbagai bidang, Nasir Khusraw pernah tinggal di Mesir menjadi guru yang mengajar ilmu matematika. Di luar itu, berbagai karya syairnya menunjukkan kemampuannya di bidang bahasa, terutama Farsi dan Arab.
Sejak muda, Nasir Khusraw dikenal sangat tekun menuntut ilmu dan mencari jawaban berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya mengenai berbagai masalah, termasuk persoalan agama. Tidak hanya ajaran agama Islam yang dipelajarinya. Ia juga menelaah ajaran agama Hindu, Yahudi, Kristen maupun Zoroaster dan agama lainnya.
Di usia relatif muda, Nasir Khusraw telah menempati jabatan manajerial di pemerintahan. Sebelum menginjak usia tiga puluh tahun, ia telah menjadi pejabat Khorasan. Ketika itu, Khorasan menjadi pusat para penyair dan penulis yang datang dengan berbagai kepentingan, terutama demi meraih jabatan tinggi dan kekayaan yang melimpah.
Hingga usia empat puluh tiga tahun, Nasir Khusraw menempati jabatan administratif kerajaan, sekaligus sebagai penulis istana dan posisi tinggi. Dalam buku perjalanannya dijelaskan mengenai kedudukan raja-raja seperti Sultan Mahmoud dan Masoud Gaznavi.
Nasir Khusraw memiliki pengaruh besar di kalangan kerajaan Gaznavid. Ia dikenal sebagai adib atau ahli sastra, dan manajer handal. Sultan menyebutnya sebagai "Khawajeh Khatir", sehingga Nasir Khusraw sejak awal di Balkh, yang menjadi ibukota musim dingin Gaznavian, telah diperhitungkan di kalangan pucuk kekuasaan.
Setelah Salajegheh menguasai Balkh di tahun 432 Hijriah, Nasir Khusraw meninggalkan wilayah itu menuju Marv, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Abu Sulaiman Jaghri Beik Dawud bin Mikail. Di sana, ia kembali menempati jabatan penting di kerajaan.
Sebelum terjadi revolusi pemikiran dalam dirinya, Nasir Khusraw menjadi penyair istana dan penulis kerajaan yang gemar memuji penguasa dalam berbagai karyanya. Tapi kemudian ia mengubah jalan hidupnya. Setelah menghabiskan sebagian usianya menjadi bagian dari penguasa demi meraih jabatan tinggi dan harta yang melimpah ruah, Nasir Khusraw mengalami perubahan dalam dirinya. Ia mulai mencari hakikat.
Ketika itu, tidak sedikit ulama yang didatanganinya untuk diajak berdialog.Tapi, tidak ada yang menentramkan pikirannya yang gelisah. Ia tidak bisa mendapatkan jawaban memuaskan dari orang-orang yang dianggap menguasai berbagai disiplin ilmu di zamannya. Pencarian kebenaran membawanya mengunjungi berbagai wilayah seperti Turkmenistan, Sind dan India. Tujuannya tidak lain untuk menemui para pemuka agama yang berada di sana.
Para sejarawan menjelaskan upaya keras Nasir Khusraw untuk meraih hakikat kebenaran, yang mengubah jalan hidup penyair sekaligus ilmuwan Iran ini. Revolusi pemikiran dalam diri Nasir Khusraw dijelaskan dalam berbagai versi oleh para peneliti setelahnya. Perubahan besar dalam kehidupannya terjadi di tahun 437 Hijriah. Ketika itu, ia berusia 43 tahun.
Nasir Khusraw meyakini kiblat sebagai arah menuju hakikat. Mimpi ini membawanya menempuh perjalanan selama tujuh tahun yang menjadi babak baru kehidupan penulis, penyair serta ilmuwan Muslim Iran itu. Bersama saudaranya, Nasir Khusraw menunaikan ibadah haji demi menemukan hakikat kebenaran. Perjalanan tersebut menjadi permulaan dimulainya lembaran baru kehidupannya.
Para peneliti karya dan kehidupan Nasir Khusraw berkeyakinan bahwa dunia dengan berbagai keindahannya sangat menarik bagi seorang pemuda berusia 40 tahun. Demikian juga dengan Nasir Khusraw.Tapi setelah terjadi perubahan dalam dirinya, ia menilai dunia tidak berarti seperti fatamorgana.
Berbeda dengan sebelumnya, kehidupan di istana yang dipenuhi dengan riya dan kebohongan menimbulkan kebencian dalam dirinya. Kini, apa yang dicarinya hanyalah makna hidup. Nasir Khusraw pun mencarinya hingga harus menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Kemudian ia memutuskan untuk menunaikan ibadah haji yang dijalaninya selama tujuh tahun. Selama itu, Nasir Khusraw menunaikan empat kali manasik haji, dan tiga tahun tinggal di Mesir. Setiap kali bertemu dengan ulama dan ilmuwan, ia gunakan untuk membahas sebuah masalah.
Setelah kembali ke tanah airnya, Nasir Khusrwa mengubah jalan hidupnya dengan menjadi pesuluk, zuhud dan meninggalkan keindahan dunia. Ia melepaskan jabatannya sebagai pejabat kerajaan dan menjadi tokoh penyebar ajaran Ismailiyah.
Keyakinan Nasir Khusraw memicu penentangan sebagian kecil pihak, yang menyebabkan dirinya diasingkan ke Balkh. Keadaan yang sulit ketika itu membuat dirinya mengungsi ke Badakhsan dan hidup di pegunungan yang tinggi. Di tempat itulah, Nasir Khusraw mengabiskan sisa umurnya menjadi penyair dengan menghasilkan berbagai karya. Nasir Khusraw meninggal dunia dalam keadaan sendirian dan terasing serta dilupakan orang lain di tahun 481 Hijriah.