Okt 22, 2018 10:54 Asia/Jakarta
  • perkembangan teknologi Iran
    perkembangan teknologi Iran

Para peneliti di Institut Riset Royan, Iran berhasil memproduksi partikel subatomik yang bermanfaat untuk mengobati kanker payudara pada wanita. Kanker merupakan salah satu penyakit paling ganas di abad ini, dan kanker payudara adalah yang paling banyak menyerang kaum wanita.

Para peneliti sejak lama berusaha menemukan sebuah mekanisme untuk mengontrol dan menyembuhkan berbagai jenis kanker. Penggunaan partikel subatomik polimer merupakan salah satu metode kontrol dan pengobatan kanker. Partikel subatomik ini dibuat menyerupai kantung yang berisi obat, racun pembunuh sel kanker dan yang lainnya. 

Ilmuwan Iran melakukan sejumlah penelitian untuk indigenisasi atau pribumisasi dan mengembangkan teknologi ini agar partikel subatomik tersebut bisa digunakan untuk menyembuhkan kanker. Partikel subatomik ini akan melepaskan obat-obat yang terperangkap di dalam tubuhnya dengan pola segitiga dalam kondisi uji laboratorium.

Uji efektivitas partikel subatomik terhadap garis-garis sel kanker payudara menunjukkan, penyerapan yang dilakukan oleh partikel yang dilengkapi perangkat deteksi sel target, lebih besar ketimbang oleh partikel-partikel yang tidak memiliki perangkat tersebut, atas sel-sel kanker yang dituju.  

Selain itu, dengan menggunakan partikel ini, para peneliti berhasil menurunkan hingga 83 persen Connective Tissue Growth Factor (CTGF) atau faktor penghubung pada pembuluh darah yang banyak terdapat dalam sel-sel kanker dan merupakan faktor penting dalam pertumbuhan kanker.

Penelitian-penelitian lanjutan dan pengkajian lebih akurat, dapat membawa harapan bahwa partikel-partikel subatomik ini tidak lama lagi dapat digunakan untuk pengobatan. Keberhasilan ini diraih berkat kerja keras para peneliti perempuan Iran di Institut Riset Royan.

Di sisi lain, berdasarkan hasil pemeringkatan internasional terbaru, Iran, di bidang nano teknologi berhasil naik satu peringkat dan menduduki posisi kelima dunia. Diperkirakan hingga akhir tahun 2017, posisi nano teknologi Iran di level dunia akan kembali naik satu peringkat dan menduduki posisi keempat dunia.

Menurut Wakil Presiden Iran urusan ilmu pengetahuan dan teknologi, saat ini ada lima startup (perusahaan rintisan) Iran dengan pendapatan tinggi dan menghasilkan lebih dari 450 produk nano untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

teknologi nano

Lebih dari itu, bersamaan dengan bertambahnya jumlah perusahaan-perusahaan berbasis teknologi Iran yang bergerak di bidang industri baja, otomotif dan minyak, keberhasilan ini diperkirakan akan terus meningkat.

Sementara itu, para peneliti Iran juga berhasil melakukan pribumisasi iptek yang lain. Para peneliti di sebuah perusahaan berbasis teknologi Iran berhasil memproduksi prototipe perangkat keras mesin pengolah gambar CT Scan dan mendesain serta mengoperasikan perangkat lunak pengolah data mesin ini.

Menurut keterangan penanggungjawab proyek tersebut, tujuan utama proyek adalah merancang mesin CT Scan untuk deteksi dan simulator radoterapi, mendesain algoritma-algoritma rekonstruksi bagian-bagian gambar dengan teknologi terkini, merancang algoritma canggih untuk merekonstruksi bagian-bagian di luar jangkauan penglihatan dan merancang mesin CT Scan untuk keperluan industri.

Perangkat-perangkat mesin CT Scan, seperti dalam merancang perangkat mekanik dan penggerak, juga dibuat dengan menggunakan teknologi rekayasa balik dan dengan menjalankan usulan-usulan yang sesuai dengan proyek.

Dalam aplikasi yang dirancang untuk mesin ini, akan diproduksi gambar-gambar CT Scan berdasarkan pada Cone Beam Computed Tomography (CBCT), salah satu teknik pengambilan gambar radiografi yang menggunakan pancaran sinar-X yang berbentuk kerucut (cone shape) dan terpusat pada sebuah sensor dua dimensi, serta panel datar untuk mengobati atau mendeteksi berbagai penyakit.

Manfaat terpenting dari pengembangan tiga generasi pertama CT Scan terletak pada waktu pengambilan gambar. Pada generasi pertama, pengambilan gambar dilakukan dalam waktu lima menit sementara pada generasi ketiga hanya membutuhkan waktu satu detik, sehingga bisa menurunkan tingkat transisi dosis rata-rata pada pasien.

Selain itu, dengan menggunakan panel datar baru, resolusi spasial, kecepatan pengambilan gambar dan algoritma-algoritma yang digunakan untuk menghapus sisa-sisa gambar, akan lebih baik.

Di belahan dunia lain, mahasiswa Universitas Oxford, Inggris berhasil menciptakan jaringan lunak retina sintetis pertama di dunia. Penemuan ini diharapkan dapat membawa harapan baru bagi orang-orang yang terkena gangguan penglihatan. Sama seperti fotografi tergantung pada piksel kamera yang bereaksi terhadap cahaya, penglihatan bergantung pada retina yang melakukan fungsi yang sama.

Retina berada di belakang mata manusia, dan mengandung sel protein yang mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang berjalan melalui sistem saraf, memicu respons dari otak, akhirnya membangun gambaran pemandangan yang sedang dilihat.

Vanessa Restrepo-Schild, seorang mahasiswa dan peneliti berusia 24 tahun, di Jurusan Kimia, Universitas Oxford, yang memimpin proyek penelitian ini melakukan pengembangan retina berlapis ganda sintetis baru yang secara dekat meniru proses retina manusia alami.

CT Scan

"Mata manusia sangat sensitif, karena itulah benda asing seperti implan retina logam bisa sangat merusak, menyebabkan peradangan dan atau ketakutan. Tapi implan sintetis biologis lunak dan berbasis air, jauh lebih bersahabat dengan lingkungan mata," kata Venessa.

Replika retina terdiri dari hidrogel dan protein membran sel biologis. Hidrogel merupakan kristal polimer yang berfungsi menyerap dan menyimpan air dan nutrisi dalam jumlah besar. Dirancang seperti kamera, sel berfungsi sebagai piksel, mendeteksi dan bereaksi terhadap cahaya untuk menciptakan citra skala abu-abu.

Para peneliti berharap temuan ini dapat digunakan untuk menyembuhkan fungsi penglihatan pada orang-orang yang terkena gangguan penglihatan akibat sejumlah faktor seperti usia dengan degenerasi makula (AMD/ARMD) dan Retinitis Pigmentosa. Degenerasi makula merupakan penyebab gangguan penglihatan paling umum di negara-negara maju. Di Asia sendiri, sekitar 6 dari 100 orang ditemukan menderita degenerasi makula.

Degenerasi makula atau age-related macular degeneration (AMD/ARMD) adalah penurunan penglihatan pusat, yaitu kemampuan Anda memandang lurus ke depan. Makula adalah suatu area kecil di tengah lapisan bagian dalam retina mata dengan jumlah sel batang dan kerucut terbanyak.

Area ini berperan penting bagi manusia untuk bisa melihat dengan baik di kala terang maupun gelap. Penglihatan sisi (peripheral vision) tidak memiliki jumlah sel yang sama dengan makula sehingga menghasilkan penglihatan yang tidak fokus atau tidak tajam.

Ada dua jenis utama degenerasi makula (AMD) dengan penyebab yang berbeda, yaitu degenerasi makula basah dan kering. AMD kering adalah jenis yang paling sering ditemui dan kemungkinan baru terdeteksi ketika penderita melakukan pemeriksaan mata. Namun, meskipun menyebabkan kondisi yang lebih parah, AMD basah lebih bisa di tangani.  

Sementara Retinitis Pigmentosa atau yang dikenal dengan singkatan RP adalah suatu kemunduran yang progresif pada retina yang mempengaruhi penglihatan pada malam hari dan penglihatan tepi dan pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. Retinitis Pigmentosa mempengaruhi retina atau lapisan sel-sel saraf yang berada di belakang mata.

Penyakit ini jarang ditemui dan muncul karena sel-sel fotoreseptor atau sel-sel batang, dengan atau tanpa sel-sel kerucut atau reseptor warna, saling bertabrakan. Meski mengalami peningkatan seiring dengan berjalannya waktu, namun pertumbuhan penyakit ini berbeda pada setiap orang. Penyakit ini termasuk penyebab utama kebutaan di malam hari.[]