Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (27)
-
pameran nano teknologi Iran
Para peneliti di pusat riset Royan, Iran mencapai kemajuan lain dalam menciptakan metode baru pengobatan rambut rontok, dengan meneliti sel-sel punca dan pengaruhnya.
Sebelum meraih kesuksesan ini, para peneliti berhasil menguji coba prototipe laboratorium dalam proses menghidupkan sel-sel ini, pada hewan pengerat. Para peneliti pusat riset Royan juga melakukan sejumlah penelitian lain untuk menemukan cara mengidentifikasi sel-sel pionir rambut pada manusia.
Dermal papilla, terkadang disebut pasak dermal atau DP, adalah tonjolan kecil dari lapisan dermis ke lapisan epidermis, dan sel punca epitelia, keduanya adalah faktor yang menciptakan dan menyusun siklus pertumbuhan rambut.
Karena rambut rontok pada kepala manusia tidak menyenangkan dan dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan, maka para peneliti dalam proyek ini berusaha mengembangbiakkan dermal papila dan sel punca epitelia rambut yang sudah dipisahkan dari kepala manusia, dalam sebuah uji laboratorium.
Para peneliti membagi 15 ekor tikus yang diuji coba menjadi tiga kelompok, kelompok pertama menerima sampel sel dermal papilla, sementara kelompok kedua menerima sel-sel dermal papilla bersamaan dengan sel-sel punca epitelia, dan kelompok ketiga tidak menerima apapun atau disebut kelompok pengontrol.
Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah internasional, Cell Journal itu menunjukkan, dari kedua kelompok yang menerima sel, tampak adanya pertumbuhan rambut, namun pada kelompok yang menerima kombinasi kedua sel, tumbuhnya rambut lebih nyata dan bisa dilihat dengan mata telanjang.
Selain itu, tampak jelas bahwa transplantasi sel punca yang efektif pada proses pertumbuhan rambut, terbukti bisa menumbuhkan rambut tikus yang tidak memiliki rambut.
Dengan penelitian lebih lanjut dan pemahaman yang lebih baik, mekanisme penumbuhan rambut pada manusia, bisa membawa harapan bagi penemuan metode pengobatan rambut rontok pada manusia.
Sementara itu, para peneliti Iran di sebuah perusahaan berbasis ilmu pengetahuan, berhasil menciptakan produk antibakteri untuk mengobati luka baring (ulkus dekubitus) atau luka akibat tekanan.
Atin Abr Arya Pvt.Company adalah perusahaan pertama dan satu-satunya di dunia yang memproduksi biofoam antibakteri yang mampu mencegah munculnya luka baring.
Perusahaan itu memulai proyeknya dengan membentuk sebuah tim riset dan mahasiswa, dan berangkat dari tekad untuk menghilangkan kebutuhan para veteran perang dan orang cacat pada tempat tidur antibakteri untuk kenyamanan mereka.
Sampel pertama produk berkualitas tim riset ini, berhasil meraih medali emas pada Olimpiade Dunia Jenewa tahun 2014 dan di tahun yang sama, meraih medali emas di Rumania.
Luka baring atau luka tekan adalah penyakit susulan yang muncul setelah penyakit pertama, akibat pasien yang kurang bergerak selama masa penyembuhan dan penyakit ini terkadang bahkan lebih mematikan dari penyakit asli.
Para penderita diabetes, veteran perang dan orang-orang yang terpaksa terbaring di tempat tidur dalam jangka waktu lama, akibat tekanan pada bagian-bagian sensitif luka dan adanya bakteri serta faktor lain, akhirnya terkena luka baring.
Oleh karena itu, para peneliti di perusahaan Atin Abr Arya berusaha memulihkan kesehatan mereka dengan menciptakan produk ini. Perusahaan Iran ini telah meraih prestasi baru berdasarkan teknologi terkini termasuk produk nano yang 100 persen buatan dalam negeri untuk menyembuhkan luka baring dan siap memasarkannya di dalam maupun luar negeri.
Sebuah proyek penelitian lain yang dipimpin peneliti keturunan Iran, berhasil memproduksi sel-sel punca manusia di laboratorium, untuk pertama kalinya di dunia. Prestasi ini sangat penting, pasalnya sel-sel punca yang ditemukan dalam sumsum tulang itu, dapat digunakan dalam proses pengobatan yang sulit dan rumit, seperti pengobatan penderita kanker darah atau leukimia, bahkan untuk mengembangkan berbagai jenis metode pengobatan seperti kemoterapi.
Di sisi lain, setelah 20 tahun, para ilmuwan berhasil menciptakan sel-sel punca dewasa dalam sel darah yang bisa memulihkan sel darah itu sendiri dan komponen-komponen darah. Peristiwa yang bisa dianggap sebagai revolusi besar dalam dunia medis ini, dilakukan dalam dua proyek penelitian terpisah.
Satu tim riset yang dipimpin Dr. George Daley, spesialis hematologi di rumah sakit anak Boston, Amerika, berhasil menciptakan sel-sel punca manusia yang bekerja layaknya sel-sel punca darah.
Tim riset ini menggunakan sel kulit manusia dan sel-sel lainnya yang diambil dari tubuh orang dewasa, sebagai bahan dasar. Dengan memakai metode standar, dari sel tersebut mereka menyusun perencanaan untuk menciptakan sel-sel serupa.
Sel-sel punca yang mampu memperbanyak diri, termasuk sel-sel punca yang kuat. Meski hingga kini, sel-sel semacam ini belum mampu menciptakan darah. Para penderita kelainan darah, dengan menggunakan sel-sel puncanya sendiri dapat disembuhkan ketimbang mengandalkan transplantasi sumsum tulang orang lain.
Tim riset kedua yang dipimpin Shahin Rafii, spesialis bedah kardiotoraks keturunan Iran di Weill Cornell Medical College, New York, Amerika, mengubah sel-sel punca dewasa dari beberapa tikus menjadi sel-sel punca darah.
Terobosan ini telah membuka jalan bagi transfer darah dan dapat digunakan untuk mengobati para penderita kelainan darah dengan menggunakan sel-selnya sendiri ketimbang mengandalkan transplantasi sumsum tulang orang lain.
Transplantasi sumsum tulang dan transplantasi sel punca, adalah proses mengganti sumsum tulang pasien dengan sumsum tulang yang sehat, sehingga pasien mampu mengkonsumsi obat-obatan kemoterapi dalam jumlah tinggi atau menjalani terapi radiasi. Akan tetapi masalahnya adalah, kebanyakan pasien kesulitan menemukan donor sel-sel yang sama dengan mereka.
Para peneliti dalam proyek ini, untuk menciptakan sel-sel punca darah, mengambil sel-sel dari dinding paru-paru tikus, setelah itu mereka menggunakan empat protein yang telah diidentifikasi sebelumnya dalam pembentukan sel-sel punca darah.
Dalam sebuah uji coba, terbukti bahwa sel-sel punca darah yang sudah disusun ulang, memiliki kemampuan pemulihan seluruh sistem darah tikus sepanjang umur hewan ini dan penting untuk memperkuat sistem ketahanan tubuhnya.
Hasil uji coba itu juga menunjukkan bahwa metode ini secara efektif dapat mengubah sel-sel pembuluh darah menjadi sel-sel punca yang memiliki kinerja yang sempurna. []