Okt 25, 2018 12:07 Asia/Jakarta
  • perkembangan teknologi Iran
    perkembangan teknologi Iran

Para peneliti di Universitas Teknologi Amirkabir, Iran mempelajari proses terbentuknya patch jantung dan berhasil menciptakan sebuah rangka yang sesuai dengan patch jantung dalam rekayasa jaringan jantung.

Produksi rangka yang terbuat dari polimer Poliuretana atau Graphene (grafena), yaitu molekul yang terdiri dari atom karbon murni, dengan metode elektronika untuk digunakan dalam rekayasa jaringan jantung adalah untuk yang pertama kalinya.

Menurut para peneliti proyek ini, meskipun banyak patch jantung yang dijual di pasar, namun tidak ada satupun dari patch-patch itu yang memiliki kemampuan merekonstruksi jaringan jantung, dan kebanyakan merupakan bahan pendukung untuk menurunkan gejala gagal jantung dalam metode pengobatan klinis.

Penyakit jantung dan kardiovaskular adalah satu satu penyebab kematian paling besar di dunia. Setiap tahun jutaan orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung, terutama serangan jantung.

Myocardial Infarction (MI) atau yang lebih dikenal dengan serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke bagian jantung menurun atau berhenti, sehingga menyebabkan kerusakan pada otot jantung.

Proses ini menyebabkan salah satu bagian dari jaringan jantung mati dan disebut dengan nekrosis. Gejala yang paling umum dari serangan jantung adalah nyeri dada atau ketidaknyamanan yang dapat menjalar ke bahu, lengan, punggung, leher, atau rahang.

Serangan jantung bahkan bisa menyebabkan kematian mendadak. Menurut keterangan kepala proyek penelitian di Universitas Teknologi Amirkabir, salah satu metode pengobatan yang banyak digunakan pasca serangan jantung dan untuk membangun jaringan jantung yang mati, adalah terapi sel punca.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuntikkan sel punca di daerah luka, tidak cukup efektif, karena sel tersebut tidak tinggal di daerah bekas luka dan berpindah tempat.

Oleh karena itu, penggunaan sebuah biomaterial pendukung atau patch jantung, sangat urgen. Masalah ini menjadi sebab utama dilakukannya proyek penelitian untuk merancang patch jantung di Universitas Teknologi Amirkabir dengan kerja sama The London College.

Universitas Teknologi Amirkabir

Sementara itu, satelit operasional pertama Iran, "Saha" yang tengah dikembangkan menjadi satelit komunikasi, masuk dalam giliran untuk diluncurkan. Satelit ini dengan kemampuan deteksi 15 meter, diluncurkan dari jarak 36.000 kilometer orbit bumi.

Menurut kepala riset antariksa Iran, satelit Dosti adalah prioritas pertama untuk diluncurkan sebagai sebuah satelit operasional yang bertugas mengumpulkan informasi pengukuran dan mengirimnya ke stasiun bumi.

Setelah satelit Dosti, di urutan berikutnya ada satelit Nahid-1, produk ilmuwan dalam negeri Iran yang masuk daftar prioritas peluncuran. Kepala riset antariksa Iran menambahkan, volume satelit-satelit operasional komunikasi berkisar antara 3-5 ton, dan laboratorium-laboratorium serupa dengan milik Iran di dunia saat ini, memiliki dimensi, ukuran dan kelengkapan yang jauh lebih besar.

Diperkirakan untuk bisa memproduksi satelit multifungsi yang dibutuhkan Iran, negara ini harus sudah meninggalkan satelit-satelit bervolume satu ton. Program-program dan perangkat keras yang diperlukan untuk mempersiapkan langkah ini, sedang dikembangkan oleh Iran.

Baru-baru ini, dua peneliti Iran di Universitas Newcastle, Inggris berhasil menemukan metode baru dan sederhana untuk mengetahui pemalsuan dokumen. Salah satu metode yang biasa digunakan untuk mencegah terjadinya pemalsuan dokumen asli, adalah metode pengecekan dan kontrol struktur khusus setiap kertas.

Menurut keterangan tim peneliti ini, saat melakukan penelitian, muncul ide sederhana yang cukup menginspirasi yaitu jika kertas di letakkan di bawah sinar matahari, maka akan tampak dengan jelas pola dan bercak yang ada dalam jaringan kertas tersebut.

Pola-pola yang muncul dan bahkan bisa disaksikan dengan mata telanjang itu, juga bekas-bekas di banyak bagian kertas seperti sidik jari, berbeda-beda. Pada kenyataannya, tim peneliti ini ingin memahami apakah ada jalan untuk mengeluarkan sidik jari tersebut atau tidak.

Oleh karena itu, mereka menguji coba berbagai metode dan pada akhirnya mereka menciptakan sebuah sistem algoritma yang mirip dengan teknologi pengenalan wajah lewat kornea mata.

Tim peneliti itu pada akhirnya membuat sebuah sistem yang mencakup sebuah kamera biasa dan sumber cahaya seperti sebuah kotak bercahaya. Algoritma bisa menganalisa informasi-informasi yang ada dengan menempatkan kertas di bawah sumber cahaya dan memotretnya, sehingga struktur khusus kertas akan tampak. Metode ini tetap dapat digunakan meski kertas rusak atau basah.

satelit Nahid-1

Hal yang menarik adalah, sejumlah banyak kertas yang masing-masing memiliki kemiripan, tetap dapat dibedakan oleh algoritma tadi. Ini adalah metode cepat untuk mengungkap identitas beragam dokumen, faktur dan sertifikat.    

Di sisi lain, seorang ilmuwan asal Iran mukim Inggris menggunakan tumor-tumor berusia hampir 100 tahun untuk mempelajari jenis kanker langka yang menyerang anak-anak. Penelitian tersebut adalah proyek riset pertama di bidangnya dengan maksud untuk mengurutkan sampel-sampel tumor yang dikumpulkan hampir satu abad lalu.

Peneliti ini menggunakan tumor kanker berusia paling tua dan tak pernah tersentuh untuk melakukan penelitian akurat terkait gen-gen yang terhubung dengan jenis kanker paling langka yang menyerang anak-anak.  

Sebelum memulai penelitian baru tersebut, sampel-sampel tumor paling tua yang berhasil diurutkan, berusia 32 tahun, akan tetapi berkat teknologi canggih, terbuka kemungkinan bagi para peneliti untuk menggunakan sampel tumor paling tua, lebih tua dari sampel tersebut.

Para peneliti di proyek ini berkesimpulan bahwa untuk meningkatkan volume sampel kanker dan mengurutkannya, mesti digunakan teknologi baru yang memungkinkan pengurutan atau sekuensing DNA sampel-sampel yang berasal dari beberapa dekade lalu.

Dengan maksud ini, peneliti tersebut merujuk arsip-arsip berusia 165 tahun yang disimpan rumah sakit Great Ormond Street, London dan berhasil menemukan apa yang dicarinya.

Ia menemukan tiga sampel tumor anak-anak yang dikumpulkan seabad lalu dan mulai melakukan sekuensing. Peneliti ini bersama sejumlah rekan kerjanya memulai proses mengeluarkan DNA dari jaringan-jaringan dan berhasil mengurutkan 366 gen. Hal yang menarik adalah, para peneliti berhasil menemukan adanya mutasi genetik terkait kanker pada masing-masing sampel. []