Okt 29, 2018 12:09 Asia/Jakarta
  • perkembangan teknologi Iran
    perkembangan teknologi Iran

Seorang penemu Iran berhasil menciptakan gelas sekali pakai dengan bahan dua lapis yang selain mencegah tangan dari panas, juga bisa untuk membuat minuman teh. Produk ini bisa digunakan untuk beraneka ragam teh dan minuman herbal lainnya.

Sekarang ini, membuat teh atau minuman herbal lain biasanya dilakukan secara instan dengan menggunakan teh celup dalam kemasan kantong yang tidak memungkinkan dilakukannya proses memanaskan dan mengatur kekentalan teh dengan baik.

Penemu Iran ini berhasil mengatasi masalah tersebut dengan produknya itu. Saat air mendidih dituangkan ke dalam gelas ini, setelah tiga menit dengan menekan bagian bawah gelas, teh dimasukkan ke dalam gelas, dan minuman teh yang dihasilkan dapat digunakan dua kali.

Seorang ilmuwan Iran dengan kerja sama para peneliti di Universitas Texas, berhasil merancang sistem komputer baru untuk karbon yang diprediksi akan menggantikan transistor dan bisa dipasang pada alat elektronik.

Dalam rancangan sistem sirkuit spectronic baru, elektron-elektron bergerak melewati bagian dalam tabung nano karbon (kabel-kabel halus yang mengandung karbon) dan menciptakan medan magnet yang mempengaruhi gerakan di dalam nanoribbon grahphene di sekitarnya, dan menciptakan gerbang-gerbang logika yang masing-masing bersambung secara fisik.

Karena hubungan di antara nanoribbon graphene itu terjadi disebabkan oleh gelombang elektro magnetis, bukan gerak fisik elektron, maka diharapkan hubungan tersebut dapat terjadi lebih cepat. Lebih dari itu, penghantar karbon ini dapat menjadi penghantar yang lebih kecil dibandingkan penghantar dari silikon.    

Para peneliti di Universitas Teknologi Amirkabir, Iran berhasil menciptakan perban untuk luka dari ekstrak tumbuhan aloe vera (lidah buaya) yang selain tetap menjaga kekhususan tumbuhan, juga mampu menurunkan efek luka bakar dan infeksi. Para peneliti itu berhasil mengeluarkan ekstrak aloe vera tanpa sama sekali mengubah bentuk dan struktur kimianya.

Universitas Teknologi Amirkabir

Menurut keterangan salah satu peneliti, gel aloe vera, sensitif terhadap oksidasi dan diproduksi dengan bantuan polimer organik, Gelatin dan Polikaprolakton (PCL), juga dengan memanfaatkan teknik listrik hibrida.

Pada tahap akhir, sifat-sifat bilogisnya seperti biodegradasi, kemampuan melepas obat, anti-bakteri dan kemampuan memperbanyak sel, juga karakteristik-karakteristik morfologi, mekanis dan kimia, dan Nanolife Scaffolding, dianalisa dan dikaji.  

Menurut kepala penelitian, dikeluarkannya ekstrak aloe vera dengan mempertahankan sifat-sifat biologis positifnya merupakan salah satu proses paling rumit dalam penelitian ini.

Karena aloe vera sendiri tidak bisa menciptakan listrik untuk memproduksi Nanolife, maka harus dibantu oleh polimer organik dengan karakteristik yang sesuai dan kondisi listrik yang tepat, sehingga bisa diciptakan perancah atau scaffolding final yang memiliki karakteristik optimal.

Produk ini digunakan untuk keperluan teknik rekayasa jaringan khususnya dalam penyembuhan luka jaringan kulit seperti luka bakar. Saat ini, untuk menyembuhkan luka infeksi terutama luka bakar, biasanya menggunakan perban yang mengandung senyawa perak atau bahan kimia lain.

Hal ini dapat menimbulkan banyak efek samping bagi pasien, namun penggunaan perban yang mengandung ekstrak tanaman obat seperti produk yang diteliti itu, dapat mengurangi timbulnya efek samping.     

Dua ilmuwan keturunan Iran, Dr. Babakhani, dosen di jurusan teknik listrik Universitas Rice dan Dr. Razavi, peneliti di pusat jantung Texas yang juga asisten dosen di Baylor Medical College, Amerika Serikat dengan maksud untuk membantu bedah jantung, menciptakan sebuah alat pacu jantung yang secara langsung dapat bekerja di jantung pasien.

teknologi nano Iran

Biasanya, alat pacu jantung tidak bisa bekerja secara langsung di jantung, tapi harus ada sebuah mesin yang memungkinkan para dokter bedah mengganti baterai mesin itu secara periodik.

Alat pacu jantung ini ukurannya lebih kecil dari koin dan dapat memperoleh energi dari sebuah baterai eksternal secara nirkabel. Dengan demikian, para dokter bedah tidak perlu lagi mengganti baterai dan alat pacu jantung tersebut bisa bekerja lebih baik. Sampel awal alat ini dipamerkan dalam sebuah simposium internasional di Amerika.

Para peneliti di Universitas Mazandaran, Iran menciptakan nanosensor laboratorium yang dapat mendeteksi sel-sel kanker usus besar dengan akurasi dan kecepatan tinggi.

Kanker usus besar merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita di dunia yang masih belum ditemukan pengobatan efektif untuk penyakit itu. Kanker ini adalah kanker ketiga dan salah satu sebab utama kematian dengan penderita lebih dari satu juta orang di dunia. Deteksi segera penyakit ini dapat mempermudah pengobatan.

Berbagai metode deteksi jenis kanker ini sudah ditemukan, namun tidak ada tanda khusus apapun yang menunjukkan bahwa sel-sel kanker bisa dideteksi dengan akurat dan ada metode pengobatan khusus untuknya.

Oleh karena itu, penemuan sebuah metode yang sangat sensitif, cepat dan selektif untuk mengungkap dan memperjelas volume sel-sel kanker untuk keperluan diagnosa klinis dan pengobatan terbaik, sangat penting dan urgen.

Tujuan akhir penelitian ini adalah membuat sebuah opto sensor yang sensitif dan akurat dengan menggunakan teknologi nano untuk mendeteksi secara cepat sel-sel kanker usus besar. Penggunaan nano sensor jenis ini selain bisa meningkatkan akurasi dalam deteksi kanker usus besar, juga menurunkan biaya. []