Nov 01, 2018 12:24 Asia/Jakarta
  • perkembangan teknologi nano Iran
    perkembangan teknologi nano Iran

Untuk pertama kalinya, proyek penanganan Human T-lymphotropic Virus Type 1 atau human T-cell leukemia virus tipe 1, sukses dilakukan di Iran. HTLV-1 merupakan virus kuno kerabat HIV yang dapat menyebabkan leukimia dan limfoma.

Proyek yang dilakukan oleh para peneliti kedokteran Mashhad tersebut dapat membantu mendeteksi penderita penyakit dan orang yang tertular, dan bagi mereka yang ingin melakukan eksperimen atau uji coba laboratorium tentang metode penanganan penyakit ini, dapat merujuk hasil proyek penelitian tersebut.

Penyebaran infeksi HTLV-1 minimal dapat terjadi dalam tiga cara. Salah satu caranya adalah penularan dari ibu ke anak, terutama lewat air susu ibu (ASI), cara kedua melalui aktivitas seksual dan biasanya menular dari laki-laki ke perempuan, dan cara ketiga melalui transfusi darah tercemar atau jarum suntik yang merupakan cara penularan paling banyak.

Jika dibandingkan dengan HIV yang bisa berpindah lewat sel secara independen, HTLV-1 tingkat infeksinya lebih kecil dan metode penularan biasanya dilakukan dengan kontak sel dengan sel lain. Faktor penyebab penyakit virus HTLV yang terbagi dalam empat subkelompok 1 hingga 4 ini yang dapat dideteksi dan menyerang sel-sel limfosit.

Menurut keterangan salah satu dosen Universitas Ilmu Kedokteran Mashhad, virus HLTV-1 membentuk tumor ATL yang merupakan penyakit darah sangat parah dan dalam waktu dua pekan bisa membunuh pasien. Penyakit Hepatitis B dan C jika tidak ditangani dengan baik juga dapat berubah menjadi kanker. Salah satu metode pengobatan penyakit Hepatitis B terbaik adalah penyuntikan vaksin atas penderita dan seluruh anggota keluarga.

Akan tetapi dalam kasus penyakit HTLV-1 seluruh kemungkinan penularan dari penderita harus dicegah dan jangan sampai penyakit itu menular melalui ASI. Menurut dosen Universitas Ilmu Kedokteran Mashhad, HTLV-1 sudah terdaftar di universitas ini dan dengan informasi serta langkah-langkah yang sudah berhasil dilakukan, dapat dilakukan penanganan-penanganan yang lebih efektif terhadap para penderita penyakit ini.

Sementara itu, tim peneliti Universitas Stanford, Amerika Serikat termasuk seorang ilmuwan keturunan Iran, sukses meningkatkan kemampuan Optical coherence tomography (OCT), teknik pencitraan medis yang menggunakan cahaya untuk menangkap gambar tiga dimensi beresolusi mikrometer dari dalam media hamburan optik (misalnya, jaringan biologis).

Peningkatan yang disertai dengan kemampuan teknologi visual efektif hingga 2 milimeter ini, membuka kesempatan bagi para dokter untuk melakukan biopsi secara virtual. Dengan kata lain mereka dapat menyaksikan jaringan sel dalam tiga dimensi dan dengan kualitas mikroskop. Metode sederhana dan berbiaya murah ini membutuhkan sepasang lensa, cermin dan beberapa perubahan perangkat lunak yang menghilangkan sisa-sisa pada gambar yang dibersihkan lewat metode OCT.

Ilmuwan keturunan Iran bersama tim peneliti ini berhasil memperkuat kinerja dua sistem berbeda dan akses OCT. Mereka juga sukses menyaksikan karakteristik sel-sel jaringan tak tersentuh di dalam telinga seekor tikur hidup dan ujung jari manusia dengan resolusi tinggi.

Di sisi lain, dengan melakukan pemurnian laboratorium Nano Clay, para peneliti Iran berhasil menjadikan partikel nano murah dan tidak berbahaya ini sebagai salah satu media penyimpan obat yang dapat digunakan dalam bidang penyaluran obat-obatan dan pengemasan. Clay atau sering juga disebut nanoclay, merupakan senyawa aluminosilikat berarsitektur lapis dengan kation-kation antarlapis yang umumnya dapat dipertukarkan. Nano Clay adalah mineral-mineral yang minimal salah satu dimensinya sama dengan nanometer. Material ini dikarenakan harganya yang murah dan mudah diakses, menarik perhatian banyak orang di bidang nanoteknologi. Partikel Nano Clay adalah partikel yang sepenuhnya netral dan tidak membahayakan tubuh.

teknologi nano Iran

Partikel ini juga merupakan anti-racun kuat yang memiliki karakteristik daya serap sangat tinggi. Oleh karena itu, poin terpenting dalam penggunaan hasil penelitian ini adalah penurunan tingkat konsumsi obat sehingga mengurangi biaya serta pencemaran lingkungan hidup akibat produksi dan penggunaan obat. 

Menurut keterangan ketua tim peneliti, selain memiliki kinerja unik, Nano Clay sebagai partikel nano juga mengandung bahan mineral yang karena karakteristiknya, bisa digunakan dalam industri farmasi termasuk untuk menjaga obat dari kerusakan dan meningkatkan daya tariknya.

Berdasarkan hasil penelitian ini, tingkat pemurnian Nano Clay yang dilakukan dengan salah satu metode pemurnian, sampai pada level di mana Nano Clay yang sudah diubah dapat menarik 97 persen vitamin B-12 dalam larutan. Di sisi lain, penggunaan berbagai macam metode koreksi dan pemurnian, menyebabkan tertariknya vitamin B-12 di tempat-tempat berbeda dari Nano Clay sehingga target-target berikutnya termasuk melepaskan obat dan keawetannya bisa dikontrol dalam berbagai kondisi.

Sumber melimpah bentonit sebagai bahan dasar pembuatan Nano Clay bisa didapatkan dengan mudah dan saat ini dua perusahaan bernama Oxford Nanopore Technologies dan Southern Clay Products, memproduksi Nano Clay untuk tujuan profit dan di Iran hal serupa juga dapat ditemukan.

Tim ilmuwan di salah satu pusat riset dan teknologi California yang dipimpin seorang profesor keturunan Iran, Ali Haji Miri berhasil menciptakan kamera tanpa lensa pada chip komputer dengan dimensi satu per satu milimeter yang bisa mengambil gambar dengan menggunakan sejumlah algoritma berbeda. Biasanya pemotretan membutuhkan lensa dengan ukuran dan bentuk akurat serta spektrum khusus.

Begitu juga biasanya lensa memiliki kelengkungan yang membuat cahaya yang masuk melengkung dan memancarkannya lewat film atau sensor gambar dalam kamera digital. Akan tetapi para peneliti ini merancang sebuah kamera yang mengganti fungsi lensa dengan chip OPA. Chip OPA dengan bantuan kemampuan kalkulasinya, direkayasa sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan gambar seperti lensa biasa.

Chip sarat dengan sensor-sensor cahaya yang masing-masing bisa menciptakan penundaan waktu yang terkontrol saat menerima cahaya. Dengan menambahkan penundaan waktu penerimaan cahaya di beberapa titik chip, OPA dapat mengubah titik konsentrasi tanpa lensa.     

Peneliti Iran di Universitas MIT Amerika Serikat, Fahim Farzad Fard yang merupakan mahasiswa S3 di universitas ini dan menyelesaikan S2 di Universitas Tehran jurusan bioteknologi, terlibat dalam tim peneliti biologi sintentis yang menggarap proyek besar di laboratorium elektronik Universitas MIT. Peneliti muda Iran selama ini ikut meneliti ide rekayasa sistem penyimpanan memori dengan menggunakan DNA sel-sela tubuh manusia.

Sel-sel hidup selalu berada dalam kondisi merasakan lingkungan di sekitarnya. Mereka sibuk mengambil sampel dari molekul-molekul dan mengevaluasi bentuk reaksi berdasarkan struktur genetik dan petunjuk-petunjuk yang ditemukan dari lingkungan sekitar. Sebagai contoh, saat sel-sel pankreas merasakan konsentrasi tinggi dari glukosa, sebuah rantai reaksi pengaturan dimulai yang berujung dengan produksi dan penyebaran insulin. Dalam biologi sintetis, terbuka kemungkinan gen-gen didesain dan direkayasa dengan cara tertentu yang memberikan reaksi pada molekul-molekul pemberi sinyal dan ini tidak lain adalah sumber penelitian tim Farzad Fard.

Dalam berbagai penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh para ilmuwan, terbukti bahwa memori masa lalu dapat di beri kode dalam DNA, namun pengkodean semacam ini harus dilakukan secara digital yaitu hanya bisa dicatat ketika terjadi peristiwa khusus. Tapi dalam proyek yang diikuti peneliti Iran ini, tidak ada keterbatasan ini, karena pengkodean memori dilakukan secara analog, bahkan bisa diberi kode saat memori berjalan. Para peneliti ini berusaha menampilkan kinerja baru dalam sel, oleh karena itu bagi mereka ini adalah fungsi baru dan pada kenyataannya merupakan upaya untuk menampilkan peralatan yang baru. []