Peresapan Inti Ramadan pada Lailatul Qadr
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i13315-peresapan_inti_ramadan_pada_lailatul_qadr
Nabi Musa as berkata kepada Allah Swt, "Tuhanku, aku ingin dekat dengan-Mu."
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 29, 2016 09:28 Asia/Jakarta

Nabi Musa as berkata kepada Allah Swt, "Tuhanku, aku ingin dekat dengan-Mu."

Allah Swt berfirman, "Kedekatan dengan-Ku adalah milik mereka yang berjaga pada malam Lailatul Qadr."

 

Nabi Musa as berkata, "Tuhanku, aku menginginkan rahmat-Mu."

 

Allah Swt berfirman, "Rahmat-Ku adalah milik mereka yang mengasihi orang-orang papa pada Lailatul Qadr."

 

Nabi Musa as kembali berkata, "Tuhanku, aku ingin mendapat ijin untuk melintasi Sirat."

 

Allah Swt berfirman, "Itu hanya untuk mereka yang bersedekah pada Lailatul Qadr."

 

Nabi Musa as berkata, "Tuhanku, aku menginginkan pepohonan dan buah-buahan sorga."

 

Allah Swt berfirman, "Itu hanya milik mereka yang bertasbih pada Lailatul Qadr."

 

Nabi Musa as kemudia berkata, "Tuhanku, aku menginginkan keridoanmu."

 

Allah Swt berfirman, "Keridoanku adalah milik mereka yang menunaikan dua shalat malam pada Lailatul Qadr."

 

Kita sedang mendekati akhir hari Ramadan. Bulan yang menyimpan kesempatan emas di dalamnya dan yang akan membebaskan manusia dari lingkup kehidupan materi, terjal dan menipu. Berdasarkan banyak riwayat, malam-malam akhir bulan Ramadan adalah malam agung dan sakral.

 

Malam itu sendiri secara keseluruhan memiliki kriteria khusus yang mengunggulkannya dari hari dan tanda-tanda kebesaran Allah Swt yang lain. Melalui kegelapannya Allah Swt membuat malam menjadi tabir untuk menutupi banyak hal dan mengurangi beratnya pekerjaan di siang hari, agar manusia dapat tenang dan beristirahat. Malam bak busana bagi manusia. Dalam beberapa ayat, Allah Swt telah bersumpah atas malam dan dengan demikian Allah Swt menjelaskan keagungan dan keajaiban malam.

 

Meski semua malam secara keseluruhan menyimpan ketenangan dan bermanfaat bagi penghuni bumi ini khususnya manusia, akan tetapi sebagian malam, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat dan riwayat, memiliki berkah dan manfaat yang lebih besar. Seperti Lailatul Qadr. Salah satu malam yang lebih dari semua malam dalam setahun, karena pada malam itu akan terjadi sebuah peristiwa penting.

 

Faktor paling penting dalam bulan Ramadan adalah al-Quran yang diturunkan pada Lailatul Qadr.  Berkah dari peristiwa tersebut sedemikian luas sehingga mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia dan memiliki kapasitas untuk membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya dan hidayah. Lailatul Qadr akan mengubah sejarah dalam bentuk lain dan takdir akan dicatat berbeda.

 

Al-Quran adalah firman Allah Swt dan munculnya kebenaran di dunia, nikmat besar Allah Swt dan catatan kebahagiaan manusia. Mungkin sebagai bentuk pensyukuran atas berkah penurunan al-Quran pada bulan Ramadan, maka umat Muslim bersuka-cita pada bulan ini, berpuasa, membaca al-Quran dan akrab dengannya. Dengan harapan akan tercapai ketakwaan di bawah naungan kesucian pada bulan Ramadan yang sekaligus menjadi penjaga manusia hingga tahun depan.

 

Dengan kata lain, Lailatul Qadr adalah momentun terbaik dalam kehidupan dan sarana hidayah umat manusia, yaitu al-Quran sebagai kitab langit paling sempurna, telah diturunkan di hati Rasulullah Saw. Al-Quran adalah wahyu Allah Swt untuk membimbing seluruh umat manusia dan diturunkan untuk menjadi tanda dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan. 

 

Pada bulan ini, Allah Swt menyempurnakan rahmat-Nya dan menunjukkan jalan kebahagiaan dalam sebuah kitab yang bernama Aa-Quran. Hukum, ibadah, pedoman akhlak, petujuk hidup dan apa saja yang membat manusia bahagia, telah dijelaskan dalam al-Qruan. Baik bentuk dan cetakan ayat-ayat Al-Quran dan juga kandungannya, membuktikan bahwa al-Quran adalah mukjizat abadi dan bahwa sumbernya di luar kemampuan manusia. Tidak ada kitab lain seperti al-Quran yang mampu menjawab seluruh tuntutan umat Manusia.

 

Dalam ayat 29 surat Shad disebutkan:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. Maksud dari Qadar adalah, pentakdiran dan pengukuran. Pada malam iatu, Allah Swt akan mencatat berbagai peristiwa dalam satu tahun sampai tahun depan seperti kehidupan, kematian, rezeki, kebahagiaan dan berbagai masalah lain.

 

Menurut para mufasir, pentingnya malam Lailatul Qadr bersumber dari sebuah fakta tidak terpungkiri terkait campur tangan manusia dalam penentuan nasibnya. Oleh karena itu, dianjurkan untuk berjaga dan tidak tidur pada malam hari, membentuk sebuah kelompok besar untuk berdoa, bermunajat dan beristighfar kepada Allah Swt.

 

Doa akan mengubah nasib manusia, khususnya doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca pada Lailatul Qadr karena memiliki kandungan irfani dan spiritual yang sangat tinggi, serta menyalakan cahaya harapan untuk masa depan yang lebih baik dalam hati manusia. Pendoa akan mendengar pertolongan dan kasih sayang Allah Swt dari lisan para auliya. Oleh karena itu, penyesalan atas masa lalu akan menggetarkan sekujur tubuhnya, dan dengan harapan untuk dunia serta akhiratnya dengan penuh keimanan, dia mulai menyusun rencana untuk masa depannya.

 

Manusia dengan berdoa dan bermunajat akan memasuki jalur nasibnya dan akan mengubahnya berkat kasih sayang Allah Swt. Terkadang untuk menempuh jalur takdir, harus dengan berdoa atau dengan amal, meski doa itu sendiri adalah sebuah amal. Oleh karena itu, doa pada Lailatul Qadr yang merupakan salah perilaku pilihan yang akan berpengaruh pada nasib dan takdir seseorang.

 

Imam Ja'far As-Shadiq as, ketika memasuki bulan Ramadan, beliau selalu berpesan kepada putra-putranya, "Tingkatkan usaha kalian di bulan ini, rejeki akan dibagi dan kematian akan ditulis dan pada bulan ini akan ditulis tamu-tamu Allah yang akan berziarah ke rumah-Nya, dan pada Ramadan, terdapat satu malam di mana amal di dalamnya lebih baik dari amal di seribu malam."                                                             

 

Seseorang bernama Humran bertanya kepada Imam Baqir as, "Apa maksud ari ayat malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan?" Imam menjawab, "Di malam itu, amal baik (seperti shalat, zakat dan berbagai kebaikan) lebih baik di banding perbuatan di seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadr."

                                                                                                                                         

Dalam hal ini, Allamah Thabathabai menulis, "Yang dimaksud dengan lebih baiknya Lailatul Qadr dari pada seribu bulan, sebagaimana yang ditulis oleh para mufasir al-Quran adalah lebih baik dari sisi keutamaan ibadah, mengingat seluruh penekankan al-Quran agar masyarakat lebih dekat dengan Allah Swt, berjaga pada malam itu untuk beribadah, adalah lebih baik dari ibadah seribu bulan."

 

Sebagian riwayat menekankan bahwa Lailatul Qadar pada 10 hari terakhir bulan Ramadan dan di salah satu malam ke-21 atau ke-23. Meski Lailatul Qadr tidak jelas dan tidak pasti malam yang keberapa bulan Ramadan, akan tetapi Lailatul Qadr memiliki tanda-tanda. Di antara tanda-tandanya adalah dirasakannya angin sepoi. Maka bila kita merasakan angin sepoi itu, maka kita mendapatkan malam Lailatul Qadr. Jika pada musim panas, tidak terasa panas dan jika pada musim dingin tidak terasa dingin, maka angin itu itu adalah angin Lailatul Qadr. Tanda lainnya adalah bau harum yang tercium.