Idul Fitri, Kelahiran Baru Manusia (1)
Hari ini adalah penutup bulan ketaatan dan ibadah. Sebuah hari perayaan syukur terbesar kepada Tuhan, hari dilantunkannya kidung persatuan terindah, kemenangan dalam ujian besar dan perayaan kelahiran baru manusia, hari ini adalah hari raya Idul Fitri.
Di hari mulia ini seakan bumi dan langit tegak berdiri melaksanakan shalat syukur. Para malaikat berduyun-duyun mendatangi bumi membawa hadiah untuk menghormati tamu-tamu Tuhan. Hari ini setiap bibir mendzikrkan kemenangan dan setiap manusia merasakan keagungan Tuhan.
Fajar, baru saja menyingsing. Di setiap penjuru Iran sudah ramai orang berkumpul untuk melaksanakan shalat. Kota suci Mashhad, salah satunya. Semua orang bergegas menuju Makam Suci Imam Ridha as supaya bisa mendapatkan tempat di barisan pertama dan tidak ketinggalan shalat. Dalam sekejap, Haram Suci Razavi sudah dipenuhi orang.
Dengan hati bersih, setelah membayar zakat fitrah, setiap orang layaknya setetes air yang jatuh ke lautan, bergabung dalam barisan shalat. Lantunan Allahu Akbar dan Lakal Hamd menggema di seluruh tempat. Masyarakat , tua, muda, perempuan, laki-laki, bahkan anak-anak dengan suka cita melaksanakan shalat Idul Fitri. Di antara mereka terlihat seorang pemuda yang susah payah mendorong kursi roda ayahnya untuk mendapatkan tempat di barisan shalat jamaah itu dan berkata, ayah saya ingin melaksanakan shalat Idul Fitri di Makam Suci Imam Ridha as.
Halaman Enghelab disiapkan untuk kaum wanita yang hendak melaksanakan shalat ied. Tempat itu tampak begitu indah dihiasi dengan bunga-bunga beraneka warna. Di salah satu barisan pertama shalat, tampak seorang perempuan muda berusia sekitar 30 tahun tengah duduk dan menengadahkan tangannya ke langit. Ia memperkenalkan namanya, Rossa dan berkata, sudah dua tahun saya memeluk Islam. Tapi hari ini untuk pertama kalinya saya benar-benar merasakan sebagai seorang Muslim Syiah.
Rossa menambahkan, ketika saya datang ke kompleks Makam Imam Ridha as, saya melihat banyak orang membawa setangkai bunga dan seketika saya merasa tidak sendirian, tapi sebagai bagian dari umat. Sebuah perasaan yang luar biasa. Shalat berjamaah yang dihadiri banyak orang ini mengingatkan salah satu perkataan Imam Ridha as, "Tuhan menyebut Idul Fitri sebagai hari raya, agar Muslimin memiliki sebuah pertemuan besar. Di hari itu mereka berkumpul untuk memuji dan mengagungkan seluruh rahmat dan nikmat-Nya. Maka dari itu, hari ini adalah hari raya dan hari persatuan, zakat, kedekatan dan kasih sayang".
Mahasiswi semester akhir jurusan arsitektur itu mengatakan, beberapa tahun ini saya bertekad untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di Makam Imam Ridha as. Seakan saya melihat Imam Ridha as hadir. Di dalam riwayat kita membaca, Imam Ridha as di setiap langkahnya selalu mengucapkan Takbir dan takbir ini beliau ucapkan sedemikian rupa sehingga seolah-olah langit dan bumi ikut melantunkannya.
Pasukan Khalifah Makmun ketika melihat Imam Ridha as dalam kondisi seperti itu, langsung turun dari kuda mereka, melepaskan alas kakinya dan mengucapkan tiga kali takbir. Fadhl bin Sahal ketika menyaksikan peristiwa itu kepada Makmun mengatakan, jika Imam Ridha as menuju masjid sembari mengucapkan takbir, masyarakat akan tertarik kepada beliau dan itu membahayakan kekuasaan anda. Lebih baik jika anda memintanya untuk kembali. Makmun kemudian mengirim seorang utusan dan meminta Imam Ridha as kembali.
Sekarang kita sedang menyaksikan keagungan ini di Haram Suci Razavi.
Ied secara etimologi berasal dari kata aud bermakna kembali, oleh karena itu hari-hari di saat satu kaum atau masyarakat terbebas dari masalah dan kembali ke kehidupan normal, hari itu disebut ied atau hari raya. Dalam terminologi Islam, karena ketaatan selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadhan, kembalinya fitrah serta kesucian ke dalam jiwa dan segala bentuk kekotoran batin sirna, maka tanggal 1 Syawal disebut sebagai hari raya.
Idul Fitri adalah salah satu hari terbesar yang menurut riwayat, di hari ini dibuka pintu-pintu rahmat Ilahi dan ketika manusia menggunakan energi maknawi Ramadhannya, Idul Fitri dan hari-hari setelahnya dapat menjadi hari yang suci dan bersih dari dosa. Allah Swt di dalam Al Quran ayat ke-14-15 Surat Al Aala berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ﴿١٤﴾ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ ﴿١٥﴾
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang".
Ayat-ayat ini menyinggung keselamatan orang-orang beriman, faktor-faktor yang menyelematkannya, dan sebab-sebab kemenangan itu ada tiga, tazkiah, mendzikirkan nama Tuhan dan melaksanakan shalat. Tentang apa makna tazkiah, sebagian orang menganggapnya sebagai kesucian jiwa dari syirik, begitu juga kesucian hati dari akhlak buruk dan menjalankan amal saleh. Selain itu, memperoleh ketakwaan dan kesucian.
Muslimin berpisah dengan Ramadhan dalam keadaan bercahaya, setelah menyiapkan peluang keselamatan dan kemenangan bagi dirinya. Mereka menerangi hati mereka dengan berpuasa, dzikir, membaca Al Quran, berdoa, mengagungkan nama Tuhan dan amal-amal lainnya, sehingga sampai pada fase baru dan melanjutkan langkahnya menuju kesempurnaan dengan bekal takwanya.
Dengan kata lain tamu-tamu jamuan Tuhan di bulan suci Ramadhan, sudah berlatih menjauhkan diri dari dosa dan mensucikannya dari maksiat. Hakikatnya, buah dari sebulan kerja keras di madrasah Ramadhan adalah kembali ke fitrah. Kata Fitr dalam bahasa Arab bermakna mekar. Di hari Idul Fitri, manusia yang kembali ke fitrahnya, merayakan kehidupan barunya dan bergembira karena berhasil membersihkan dan mensucikan kembali dirinya.
Menurut Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, shalat Idul Fitri dalam salah satu makna syukurnya, adalah kelahiran baru. Dalam shalat Idul Fitri berulangkali kita sampaikan kepada Tuhan, masukkan kami ke dalam surga yang telah Engkau masukkan sebelumnya orang-orang pilihan ke dalamnya. Dan keluarkan kami dari neraka dimana orang-orang terpilih, Engkau jauhkan dari amal tak terpuji, akhlak buruk dan akidah menyimpang.
Imam Musa Sadr, salah seorang pelopor persatuan Dunia Islam terkait lahirnya manusia baru pasca bulan suci Ramadhan mengatakan, dimensi-dimensi keberadaan manusia baru itu berbeda dengan manusia sebelumnya. Ia hidup dengan pemahaman yang lebih luas karena selama sebulan penuh berlatih. Dengan berpuasa ia memiliki perasaan yang lebih lembut.
Puasa dengan seluruh kesulitan dan penderitaannya, mengenalkan seseorang dengan penderitaan orang-orang tertindas. Puasa juga meningkatkan kekuatan dan kekokohannya, sabar dan keseimbangannya. Manusia besar ini dengan perubahan yang terjadi di dalam dirinya pada pagi hari Idul Fitri, membayar zakat dan mengingat nama Tuhan serta melaksanakan shalat. Setelah merayakan kemenangan ia memulai kehidupan baru. Kehidupan yang di dalamnya ia bisa lebih mengendalikan perasaan dan tindakannya.
Dalam pandangan Imam Ali as hari raya adalah hari diberikannya pahala untuk orang-orang baik. Hal terkecil yang diberikan kepada wanita dan laki-laki di hari itu adalah malaikat yang di penghujung bulan Ramadhan menyeru mereka dan berkata, kabar gembira bagi kalian hamba-hamba Tuhan, dosa-dosa kalian telah diampuni, maka berpikirlah untuk masa depan, bagaimana kalian akan melewati sisa-sisa hari kalian.
Setelah melaksanakan shalat, setiap orang dengan hati yang baru bergembira dan saling bersilaturahmi. Nabi Musa as dalam salah satu munajatnya bertanya kepada Tuhan, apa pahala bagi orang yang bersilaturahmi ? Tuhan berfirman, Aku akan memanjangkan usianya dan memudahkan sakaratul mautnya dan memasukkannya ke dalam surga. Kami menyerunya, segeralah kembali kepada Kami dari pintu manapun yang engkau kehendaki.