Idul Fitri, Kelahiran Baru Manusia (2)
Kedatangan hari raya Idul Fitri disambut dengan meriah dan suka cita oleh umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Kegembiraan sudah tampak beberapa hari sebelum datangnya Idul Fitri.
Berbagai persiapan telah dilakukan menyambut datangnya hari agung ini. Jalanan dihiasi lampu yang terang-benderang. Berbagai jenis makanan khas daerah masing-masing disiapkan. Anak-anak dibelikan pakaian baru di hari raya Idul Fitri. Semua berbahagia karena telah menunaikan ibadah selama sebulan penuh di bulan suci Ramadhan.
Sejak malam menjelang hari ied, takbir dan tahmid mulai membahana di sudut-sudut kota dan kampung. Mereka melantunkan kebesaran dan keagungan ilahi, menegaskan keesaan Allah Swt, dan memanjatkan pujian pada-Nya. Allahu akbar.......Allahu Akbar.....Allahu Akbar, lailahaillahu waallahu akbar, Allahu Akbar walillahil-hamd.
Di Pagi hari tanggal 1 syawal, semua mendatangi masjid maupun lapangan yang luas untuk menunaikan shalat Idul Fitri. Keagungan spiritual shalat Idul Fitri menyatukan ikatan hati antarsesama Muslim di seluruh penjuru dunia. Umat Islam yang terbentang dari Iran di Asia Barat, kawasan Afrika hingga Indonesia, Malaysia dan negara-negara kawasan Asia Tenggara, bahkan benua Eropa dan Amerika, semua menunaikan shalat Idul Fitri, yang menunjukkan keindahan dan persatuan, serta persaudaraan umat Islam.
Shalat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat. Tata cara shalat Idul Fitri menurut mazhab Ahlul bait dimulai dengan rakaat pertama, yang diiringi dengan qunut sebanyak lima kali, sedangkan di rakaat kedua membaca qunut sebanyak empat kali. Doa dan zikir yang dipanjatkan dalam qunut shalat ied memiliki makna yang begitu mendalam dan mengandung harapan yang amat luhur.
Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya menjadikan idul Fitri sebagai khazanah kemuliaan dan sumber keagungan yang tercermin dalam shalat Idul Fitri dan ibadah lainnya di hari itu. Umat Islam berdoa supaya kehidupannya mengikuti tuntunan Rasulullah Saw dan keluarga sucinya. Mereka meminta agar dimasukkan dalam kebaikan yang juga dimasuki oleh Rasul dan Ahlul Baitnya, sebagaimana tercermin dalam doa qunut.
"Ya Allah, Wahai pemilik kebesaran dan keagungan,
Wahai pemilik kedermawanan dan kebesaran,
Engkaulah dzat yang paling pantas memberikan pengampunan dan rahmat,
Ketaqwaan dan ampunan hanya dari Mu, aku memohon dengan haq hari ini yang Kau jadikan sebagai hari raya bagi kaum muslimin, dan Kau jadikan sebagai kekayaan, kemuliaan, kehormatan, dan anugerah.
Aku mohon pada-Mu kirimkan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya.
Masukkan aku ke dalam setiap kebaikan yang juga kau masukkan Muhammad dan keluarganya ke dalam kebaikan itu. Dan keluarkan aku dari segala keburukan yang Engkau keluarkan Muhammad dan keluarganya dari keburukan itu.
Ya Allah, aku meminta kepada Mu kebaikan yang diminta oleh hamba-hamba-Mu yang saleh, dan aku berlindung pada-Mu dari segala hal yang diminta oleh hamba-hamba-Mu yang ikhlas terlindung darinya."
Bacaan doa tadi merupakan tuntunan doa qunut yang diajarkan oleh Ahlul Bait dan dibaca saat shalat Idul Fitri. Setelah shalat selesai, semua mendengarkan khutbah yang disampaikan khatib. Di bagian pertama khutbah berisi seruan untuk bertakwa. Kemudian dilanjutkan dengan membahas kondisi umat Islam.
Setelah menunaikan shalat Idul Fitri, mereka bersalaman dan memohon maaf atas segala kekhilafan selama setahun. Kemudian saling kunjung dan bersilaturahmi kepada sanak keluarga, tetangga dan handai taulan. Semua bergembira, dan kebahagiaan tersebut dinikmati bersama-sama. Oleh karena itu, hari raya idul fitri atau lebaran menjadi momentum yang dinanti-nanti selama setahun.
Pada hari raya Idul Fitri, orang-orang yang berada di kota-kota besar kembali ke kampung halamannya masing-masing. Mereka mengunjungi orang tua dan berbagi kebahagian dengan seluruh anggota keluarga yang lain. Hari raya Idul Fitri menjadi momentum silaturahmi antara sesama anggota keluarga besar yang jarang bertemu karena berada di tempat yang berjauhan. Di hari agung ini, semua saling bersilaturahmi dan memaafkan.
Hari besar idul fitri menjadi kesempatan bagi muslim untuk berkumpul bersama dan meningkatkan rasa solidaritas mereka serta membantu saudara mereka yang tertindas baik moril maupun moral. Hal ini kembali menunjukkan keagungan dan kebesaran umat Islam.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei juga menekankan sisi sosial ritual Idul Fitri, "Idul Fitri, hari persatuan. Idul Fitri juga hari tersambungnya seluruh kekuatan serta memanfaatkannya dalam kehidupan. Idul Fitri sumber keagungan Islam, Nabi, umat muslim dan simpanan bagi mereka yang membutuhkan."
Di hari Idul Fitri, umat Islam dengan hati yang bersih dan tekad kuat melalui kehidupan serta penghambaan mereka kepada Tuhan Yang Esa. Mereka juga menolak kekuasaan para penguasa despotik. Takbir yang bergema di hari Idul Fitri mengungkapkan semangat anti imperialisme umat Islam. Di saat kekuatan arogan dunia tengah berupaya memburukkan citra Islam, hari besar agama termasuk Idul Fitri mampu menumbuhkan semangat dan kehidupan sosial yang kokoh.
Idul Fitri menjadi sarana untuk mempersatukan umat Islam dan meningkatkan solidaritasnya terhadap orang-orang yang menderita dan membutuhkan pertolongan, baik spiritual maupun material. Oleh karena itu, Idul fitri kembali menampilkan manifestasi keagungan Islam serta persaudaraan sesama Muslim. Terkait hal ini, Rasulullah Saw bersabda, “Seorang yang bangun pagi hari tapi tidak memperhatikan urusan sesama Muslim, maka ia bukan Muslim, dan siapa saja yang mendengar ratapan orang yang meminta bantuan tapi tidak menolongnya, maka ia bukan Muslim,”.
Salah satu karakteristik hari raya Idul Fitri adalah dimensi sosial dari ibadah di hari mulia ini. Membayar zakat merupakan salah satu kewajiban umat Islam di Hari Idul Fitri. Setiap muslim berkewajiban mengeluarkan sebagian makanan yang biasa dia konsumsi seperti beras dan gandum, atau menggantinya dengan uang senilai bahan makanan tersebut untuk diserahkan kepada fakir miskin.
Sejatinya, apa yang diberikan mereka yang berpuasa kepada fakir miskin semata-mata karena mencari keridhaan Allah Swt, sekaligus dapat memperkuat jalinan hubungan antara orang kaya dan miskin. Di hari Idul Fitri, setiap orang dengan kapasitasnya mampu meringankan kesedihan kaum papa.
Zakat Fitrah dalam Islam ditujukan untuk berbagai kepentingan misalnya menghidupkan semangat saling membantu, kesehatan, pengobatan dan budaya. Zakat Fitrah juga dapat dimanfaatkan untuk membayar utang mereka yang tidak mampu membayar.
Dana ini bisa juga digunakan untuk membangun masjid, sekolah, jembatan, rel kereta api, rumah sakit dan memenuhi kebutuhan umat Islam lainnya. Dengan membayar zakat fitrah umat Islam sebenarnya telah merealisasikan doa yang mereka baca selama bulan suci Ramadhan terkait kewajiban membantu fakir miskin.
Membayar zakat fitrah dengan niat ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan merupakan sarana meraih nilai spiritual melalui materi. Zakat Fitrah menjadi latihan untuk melepas ketergantungan terhadap materi dan hawa nafsu. Seorang muslim harus melepas dirinya dari segala bentuk ketergantungan materi sehingga ia dengan mudah mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.
Di tengah kegembiraan umat Islam merayakan hari Idul Fitri, muncul berita menyedihkan di sejumlah negara Muslim dunia. Sebagian warga Yaman, terutama anak-anak menderita penyakit kolera dan malnutrisi, bahkan mengancam nyawa mereka.
Yaman membutuhkan perhatian lebih besar dari dunia Islam, terutama aksi nyatanya untuk menghentikan agresi militer yang memporak-porandakan negara Arab ini. Semoga Idul Fitri tahun ini bisa membuka mata semua pihak supaya saling memaafkan dan menghentikan agresi sebagaimana yang menimpa Yaman.